LANGIT7.ID, Jakarta - Ada beberapa alasan mahalnya biaya pendidikan di
perguruan tinggi. Hal ini tidak terlepas dari pertimbangan daya beli konsumen serta kondisi di lingkungan.
Dari hasil survei, biaya kuliah pada perguruan tinggi
Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh daerah memang terkenal mahal.
Wakil Rektor III
Universitas Muhammadiyah Palembang, Mukhtaruddin Muchsiri mengatakan, dalam menentukan DPP atau uang kuliah, pertimbangannya daya beli masyarakat sekitar.
"Tapi mahalnya biaya ini karena berbagai pertimbangan dan kebijaksanaan. Tentu untuk meningkatkan mutu dan kebutuhan pendidikan itu sendiri," kata Mukhtaruddin dalam keterangannya dikutip Rabu (10/8/2022).
Baca Juga: Muhammadiyah Soroti Stigma Sekolah Negeri Lebih Baik dari SwastaMenurut Muchsiri, terdapat sebuah tren baru di Sumatera Selatan bahwa sumber pendapatan perkapita saat ini berbasis kebun sawit.
Dalam perkembangannya dengan adanya komposisi inti dan plasma dapat menambah income yang sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat khususnya di daerah perkebunan sawit.
Adapun kenaikan biaya kuliah yang ada sudah berdasarkan survey terhadap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang yang segmentasi terbesarnya adalah keluarga petani sawit.
"Terlepas dari naik dan turunnya harga kelapa sawit, tetapi secara umum mereka masih bisa bertahan karena mereka bekerja di dua sisi. Di sisi lain bekerja dan di sisi lain memiliki plasma," katanya.
Selain itu dia menyampaikan Universitas Muhammadiyah Palembang tetap membuka peluang adanya beasiswa dengan kualitas pendidikan terbaik.
"Muhammadiyah dalam naungan Persyarikatan Muhammadiyah juga memiliki isu dan program tersendiri yaitu bahwa biaya kuliah tidak mahal," ujar dia.
Hal itu, disebutnya, menjadi jalan perjuangan bagi Persyarikatan sejak awal pergerakannya. Seperti yang kita tahu bahwa pendidikan Muhammadiyah hadir dalam rangka mencerdaskan bangsa Indonesia.
(bal)