LANGIT7.ID, Jakarta - Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW suatu ketika mengajar ngaji di masjid. Ada seorang pemuda cuek membawa cangkul melewati nabi. Lalu ada sahabat eksrim yang komentar. “Sial betul pemdua itu. Celaka dia itu,” .
Nabi mendengar, “Kamu jangan komentar demikian, dia itu bisa saja kerja agar tidak minta-minta orang, itu sunah saya, atau kerja untuk keluarga dan ibunya, itu juga sunah saya. Allah mencintai orang mukmin yang kerja,” kata nabi.
Nabi justru malah membenarkan pemuda itu yang cuek, tidak ngaji. Semenjak itu sahabat tidak saling kritik.
Baca juga: Anak Yatim Juga Punya Perasaan, Santunan Tak Perlu DipertontonkanMenurut Pengasuh Ponpes Tahfidzul Quran LP3IA, Narukan, Kragan, Rembang, Baharudin Nur Salim atau biasa disapa Gus Baha, ini menjadi peringatan buat kiai-kiai yang mengajar ngaji pada siang hari. Itu yang bilang nabi, bukan levelnya kiai yang belum tentu harus dibenarkan.
“Aku sering guyon, aku kiai paling sukses. Jamaahnya saya baik-baikin, kiainya juga. Saya senang, jamaahnya juga. Ada kiai yang jamaahnya tidak ngaji, marah-marah. Jamaah sedikit, marah. Sembuhnya saya kasih tahu,” kata Gus Baha di kanal Santri Gayeng.
Bisa jadi yang tidak datang ngaji itu sedang mengaplikasikan ilmunya. Sementara yang datang mengaji ini orang menganggur. Cuma mendengarkan. Jadi lebih tinggi yang tidak datang. Semisal yang tidak ngaji lagi bawa anaknya beli bakso.
“Jadi kiai itu harus legowo. Kecuali maksiat, tidak ngaji maksiat, minum oplosan,” paparnya.
Gus Baha menegaskan, dalam banyak hal ketika orang yang menentang seorang ulama karena tidak hadir ikut ngaji, bisa jadi ada sesuatu yang tidak pas. Sementara jika ada yang menentang nabi, maka orang itu murtad.
“Kalau ada yang menentang ulama, mungkin dia ngaji jamnya tidak tepat,” ujarnya.
Baca juga: Heboh CFW, Ini Gaya Fesyen 5 Ulama saat BerdakwahGus Baha sendiri mengaku tidak tarawih full selama 30 hari. Tetangganya juga sudah tahu. Ulama itu bawa umat banyak. Satpam yang tidak tarawih karena tugas. Orang jual bakso tidak bisa tarawih. Kernet juga tidak bisa tarawih.
“Nabi tarawih itu sampai hari keenam. Sahabat Umar tahu, agar tidak dicontoh. Tapi sahabat tetap tarawih. Jangan bicara pakai ukuran pribadi. Dalam ilmu tasawuf, orang menghukumi, karena nafsunya,” pungkasnya.
(sof)