LANGIT7.ID - , Jakarta - Setiap orang tua menginginkan anak yang tidak hanya pintar dalam melafalkan ayat
Al-Quran, tetapi juga memahami setiap makna dan menerapkannya pada kehidupan sehari-harinya.
Pakar parenting sekaligus penulis buku
dr Aisah Dahlan mengatakan ketika orang tua ingin anak mahir dalam melafalkan Al-Quran maka mereka harus mengenali gaya belajar anak. Dia menambahkan, gaya belajar anak terbagi menjadi tiga yakni gaya visual, auditori, dan kinestetik.
Baca juga: Tiga Tahap Belajar Alquran bagi Anak"Kita perlu mengenali gaya belajar anak, jadi keunikan dari pola pembelajaran Al-Quran, kita sesuaikan dengan gaya belajar anak," ujar Aisah dikutip dalam kanal YouTube draisahdahlan, Sabtu (13/8/2022).
Untuk visual, kata Aisah, berarti melalui mata anak lebih kuat dalam menangkap apa yang diberikan dibanding telinganya.
"Anak yang belajar lewat visual berarti syarat-syarat matanya itu lebih kuat menangkap informasi, maka ciri khasnya dia akan selalu melihat tulisannya. Jadi tugas anda sebagai orang tua segera memperlihatkannya," ucapnya.
"Terkadang anak dengan pola belajar visual, ketika
belajar apapun di sekolah dia selalu harus lihat gurunya yang mengajarkan. Dia tidak mau duduk di belakang harus duduk di depan. Kalau kepala temannya menghalanginya untuk melihat papan tulis atau
gurunya, dia akan memprotesnya, itulah ciri khas gaya belajar visual," lanjut dia.
Sementara auditori, berarti telinga anak yang lebih kuat menangkap dibanding indera-indera lainnya. Ciri khasnya ia selalu ingin dibacakan sebelum memulainya.
Baca juga: Rumah Tahfidz Darul A'Shom Bantu Tunarungu Baca Alquran"Jadi dia ingin distimulasi dulu dengan dibacakan. Kalau orang tua tidak paham, anak yang auditor itu selalu dimarahi karena minta dibacakan. Padahal bukan mereka tidak mau baca sendiri, tetapi dia mau distimulasi dulu dengan dibacakan, agar sistem saraf jaringannya ini menangkap dengan baik. Baru setelahnya ia mulai belajar baca sendiri," jelas wanita kelahiran Jakarta, 17 Desember 1968 ini.
Kemudian, gaya belajar kinestetik. Ini pola belajar yang tangan dan kaki harus bergerak, karena dengan demikian informasi mudah masuk ke otaknya.
"Maka itu kenapa ditemukan juga cara membaca Al-Quran dengan gerakan-gerakan, itu sangat cocok untuk anak yang dominannya kinestetik," tuturnya.
Jadi, kata Aisah, ketiga gaya tersebut memang bekerja di indera manusia, namun urutan setiap orang berbeda-beda. Jika ditanyakan lebih bagus yang mana, semuanya bagus sebab itu tergantung dari gaya belajar anak tersebut.
Baca juga: Musisi hingga Presenter, Ini Publik Figur yang Gemar Baca AlquranTerkait kapan bagus mengenalkan anak kepada Al-Quran, alumi Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin Makassar ini mengatakan alangkah baiknya sejak dalam kandungan.
"Kalau ditanya umur berapa akan diajarkan Al-Quran, jika memungkinkan bisa di saat masa kandungan. Jika selama 10 bulan di setiap harinya dibacakan Al-Quran, maka sekitar 4 bulan anak sudah hatam baca Qurannya. Sebab sejak dalam rahim,
janin sudah merekam bacaan Al-Quran yang ibunya baca dan dengar," pungkasnya.
(est)