LANGIT7.ID, Jakarta - Ecovillage merupakan salah satu konsep dari kampung atau desa yang berbudaya lingkungan dengan mempertimbangkan pencapaian kualitas individu, keluarga, masyarakat hingga mencapai kehidupan berkelanjutan dan lestari.
Founder Ecovillage Silima Lombu, Ratnauli Gultom menceritakan pengalamannya bersama masyarakat di Desa Silima Lombu, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara dalam mengolah secara maksimal potensi alam yang dimiliki.
"Bagaimana hidup tanpa uang, kita coba kelola dulu bagaimana kalau tidak punya uang apa yang bisa kita gunakan. Anggaplah kita tidak punya uang, apa yang bisa kita kelola ketika kita tidak punya uang," kata Ratnauli dalam akun YouTube Capcapung dikutip Ahad (14/8/2022).
Baca juga: Komunitas Sepeda Ramaikan Pawai HUT 77 RI Bersama PelajarRatnauli mengungkapkan, di desanya mayoritas beraktivitas sebagai petani organik dan nelayan, sehingga sehari-hari masyarakat mengolah ladang dengan hasil alam salah satunya, mngga.
"Kita di sini lebih mengolah yang ada diladang contohnya mangga kita membuat produk dari mangga mulai dari selai, cuka dan lainnya," jelasnya.
Ratnauli menyebut, selain mangga terdapat juga kemiri dan kelapa yang diolah menjadi minyak kemiri dan minyak kelapa, dari semua hasil alam yang ada dimanfaatkankan sampai ke kulit-kulitnya.
"Dari semua produk yang kita buat itu lebih ke zerowess, semua dimanfaatkan sampai ke kulit-kulitnya. Kulit dalam dan luar seperti kemiri semuanya kita gunakan hingga menjadi produk," ujar Ratnauli.
Dari semua potensi atau hasil kebun yang dihasilkan mulai dari sayur-saturan, kue-kue yang dibuat terbuat dari tanaman yang ditanam masyarakat desa sendiri. Termasuk, ikan dan lopser yang ditangkap dari danau kemudian dijual.
"Jadi di tempat kita tidak ada menu. Jadi menunya itu apa yang hari ini fresh dari danau atau ladang itulah yang kita siapkan," tuturnya.
Ratnauli menjelaskan, eco yang dipahaminya itu lebih kepada kepedulian kepada lingkungan dan berkelanjutan. Sebab, semua berkelanjutan dengan apa yang dikonsumsi merupakan hasil dari kebun dan danau.
"Tidak ada zat kimia di sini karena kita pertanian organik yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Jadi sistemnya tanam sekali panen selamanya. orang berpikir ah masa iya sih ada. Contohnya labu siem kalau sudah berbuah dia jatuh, dan nantinya akan terus tumbuh," tegasnya.
Baca juga: Resep Ayam Geprek Enak, Bumbu dan Sambal Harus PasTak Lupa, Ratnauli juga menjelaskan bagaimana hidup tanpa uang salah satunya berawal dengan menanam apa diri sendiri butuhkan, baru kemudian menanam apa yang menjadi kebutuhan orang lain.
"Ketika kita mempunyai slogan how to survave fight atau bagaimana kita hidup tanpa uang. ketika itu kita mampu hidup tanpa uang kita. Hingga kemudian kita bisa cetak uang dengan memanen hasil dan menjualnya," terangnya.
(sof)