Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Upaya Rumah Tahfiz Pertahankan Kualitas Pembelajaran di Tengah Pandemi

Muhajirin Jum'at, 02 Juli 2021 - 18:56 WIB
Upaya Rumah Tahfiz Pertahankan Kualitas Pembelajaran di Tengah Pandemi
Kegiatan belajar mengajar Al-Quran (sumber: langit7.id/ istock)
LANGIT7.ID, Depok - Pandemi Covid-19 membuat proses pembelajaran baik di sekolah maupun lembaga pendidikan lain dilakukan secara daring. Hal itu mau tidak mau mengurangi kualitas pembelajaran. Al-Hidayah Tahfiz Center (ATC) sebuah Rumah Tahfiz di Depok memiliki cara tersendiri dalam mempertahankan kualitas pembelajaran di tengah pandemi.

ATC yang baru berdiri pada Agustus 2019 mendapat hambatan besar ketika pandemi Covid-19 mulai terjadi dan pemerintah mulai menerapkan pembelajaran secara daring.

“Pandemi merupakan tamparan keras bagi ATC, karena lembaga baru, lagi berupaya untuk memperbaiki hubungan dengan masyarakat setempat, silaturahmi, tiba-tiba corona datang,” tutur Pendiri ATC Ustaz Arfatul Hidayah kepada LANGIT7.ID, Jumat (2/7/2021).

Kendati begitu, pemuda yang akrab disapa Arfa ini tak surut semangatnya. Ia memotivasi 10 pendidik ATC untuk beradaptasi dengan keadaan. Jiwa kreatifitasnya pun muncul. Program yang semula offline, harus diatur ulang agar pendidik dan murid tidak terjangkit wabah corona.

“Alhamdulillah, sampai detik ini kita tetap berdiri kokoh, meskipun tidak seperti sebelum pandemi Covid-19,”ucap dia.

Pada awalnya, Arfa mengikuti pola kegiatan belajar mengajar lembaga pendidikan pada umumnya, yakni secara daring. Hanya saja pembelajaran daring yang dilakukan ATC hanya bertahan satu semester. Bubar? Tidak.

Seiring waktu, usai mengevaluasi hasil pembelajaran daring dan dampaknya kepada peserta didik, Arfa menemukan celah kecil namun memiliki dampak besar pada peserta didik, yakni penanaman adab.

Ia pun melakukan terobosan yang tak lazim digunakan lembaga pendidikan pada umumnya. Menurut dia, penanaman adab terhadap peserta didik tidak bisa dilakukan secara daring. Harus bersua dengan guru sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW saat mendidik para sahabat beliau.

“Kami tidak melakukan belajar online untuk usia dini, karena tidak bisa mengajari anak tentang adab terhadap Al Quran,” kata Arfa.

Segala sesuatu untuk mendukung langkah tersebut sudah ia persiapkan. Sterilisasi ruangan. Selama tatap muka, setiap anak harus melalui protokol kesehatan yang ketat, jaga jarak saat di ruangan dan tetap memakai masker sepanjang pembelajaran. Jumlah peserta didik yang diterima juga sangat terbatas, menyesuaikan kapasitas ruangan.

Arfa tidak memaksa semua peserta didik untuk ikut pembelajaran tatap muka. Selain wajib mendapat izin dari orang tua, para anak juga harus diseleksi. Peserta yang boleh ikut hanya bila dinyatakan sehat dan negatif Covid-19.

“Kami sampaikan kepada orang tua bahwa siapa yang ingin belajar tatap muka dengan protokol kesehatan ketat, maka silahkan kami siap mengajar, dengan catatan kami membatasi. Semua anak-anak harus melakukan protokol kesehatan,” ujar Arfa.

ATC tidak kehilangan solusi. Arfa membuat program baru yang bisa diakses secara daring. Sebut saja program Ngaji Online. Setiap hari, para pengajar ATC mengaji dengan tartil dan disiarkan secara langsung melalui akun Facebook dan Youtube. Tayangan itu dimaksudkan untuk menemani masyarakat yang bosan diam di rumah saja, serta melengkapi kegiatan mengajar online selama pandemi.

“Ada ngaji online. Semua masyarakat bisa mengakses melalui platform media sosial seperti youtube. Orang isolasi mandiri bisa ikut mengaji, dan belajar mandiri,” kata dia.

Ada juga kajian berbasis online yakni pencerahan seputar tadabbur Al-Qur’an. Demikian juga murottal Al-Qur'an oleh para pengajar ATC, serta beberapa program lain melalui media zoom dan aplikasi meeting lainnya.

Mengenal Al-Hidayah Tahfiz Center

Upaya Rumah Tahfiz Pertahankan Kualitas Pembelajaran di Tengah Pandemi

Al-Hidayah Tahfiz Center (ATC) merupakan sebuah lembaga yang didirikan oleh pemuda dari Sulawesi-Selatan, Ustaz Arfatul Hidayah. Pria kelahiran 1998 patut menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini. Merantau ke Jakarta pada 2012 silam, kini ia bisa mendirikan sebuah lembaga tahfiz di Depok, Jawa Barat. Tak hanya mendidik anak usia dini, ATC juga menjadi wadah kaderisasi guru Al-Qur’an yang siap diterjunkan ke masyarakat.

Arfa berhasil menghafal 30 juz Al-Quran saat masih berstatus santri di Ar-Rahman Qur’anic College (AQC), Megamendung, Bogor, Jawa Barat pada 2016. Ia juga tercatat sebagai mahasiswa di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Berbekal pendidikan tersebut, ia pernah didapuk sebagai guru tahfiz di Sekolah Hafizh Quran (SHQ).

Arfa mulai merintis ATC pada 17 Agustus 2019. Saat itu, ia dibantu beberapa sahabatnya membuat modul pembelajaran hingga persiapan tempat. Setelah melalui beberapa tahapan, ATC pun resmi diluncurkan pada 24 Desember 2019.

“Alhamdulillah, pada saat launching itu, masyarakat memberikan sambutan baik. Bahkan ada yang siap membantu perlengkapan, dan mereka mendaftarkan anak-anaknya untuk belajar di ATC,” tutur Arfa.

Tetap Pertahankan Misi Awal ATC

Meski pandemi belum berakhir, Arfa tetap teguh mempertahankan cita-cita awal pendirian lembaga tersebut. Ia menyebut ATC memiliki program memberantas buta huruf Al-Qur’an. Program itu masuk pada level pertama. Setelah lulus dari level itu, peserta didik bisa mengikuti kelas tilawah yakni membaca Al-Qur'an 30 juz dengan tajwid yang benar.

Kemudian dilanjutkan dengan kelas tahsin. Di kelas tahsin, peserta didik akan fokus mendalami ilmu sanad, yakni mengenal dan mengambil sanad jika telah memenuhi syarat.

Hal yang membedakan ATC dengan lembaga tahfiz pada umumnya adalah para peserta baru diperbolehkan menghafal Al-Qur'an jika sudah melewati empat kelas di atas. Kelas tahfiz merupakan level terakhir. Dipastikan peserta sudah mampu membaca Al-Qur'an dengan benar sesuai tajwid, adab terhadap Al-Qur'an sudah lulus, hingga mereka bisa berakhlak mulia kepada guru.

Ada pula Madrasah Quran Center (MQC). Arfa menjelaskan, MQC adalah tempat menanamkan cinta dan interaksi dengan Al-Qur'an kepada anak-anak, sehingga terbentuk akhlak berdasarkan nilai-nilai Al-Qur'an.

Program tersebut terdiri dari kelas anak usia 3-16 tahun dengan jenjang kelas pemula, tilawah, tahsin, dan tahfiz Quran. Program tersebut menggunakan metode 4T yakni tikrar, talqin, talaqqi, dan tahfiz.

Program sanadisasi sejak dini juga menjadi pembeda ATC dengan lembaga tahfiz lain. Para peserta didik sejak dini diperkenalkan dengan ilmu sanad. Bahkan mereka bisa mengambil sanad jika telah memenuhi syarat.

Untuk mendukung semua program tersebut, ATC mencetuskan program infak 10 ribu tiap hari Jumat. Program tersebut bisa diikuti oleh siapa saja. Baik peserta didik, orang tua, hingga masyarakat. Infak tersebut akan digunakan untuk keperluan para santri hingga paket bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu.

Meski masih tergolong baru, namun ATC patut mendapat apresiasi. Tidak banyak anak muda yang memiliki terobosan seperti itu. Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan lalu lintas informasi yang sangat padat, kerap menghilangkan fokus kita dari tujuan hidup sebenarnya sebagai Hamba Allah. Pada akhirnya, kita lupa mewariskan ilmu dan pemahaman agama yang baik kepada generasi selanjutnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)