LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarah
TikTok menjadi pengusa platform video pendek bermula dari ide Zhang Yiming dan Liang Rubo. Awalnya mereka membuat aplikasi ByteDance pada 2012.
Founder and CEO of Corporate Innovation Asia (CIAS), Indrawan Nugroho menjelaskan, Zhang Yiming dan Liang Rubo adalah software engineer. ByteDance merupakan
aplikasi digital pertama mereka.
Lalu ByteDance meluncurkan aplikasi pertamanya yang disebut Neihan Duanzi (lelucon yang mendalam). Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengirimkan lelucon, meme, dan video lucu.
Masih di tahun yang sama, 2012, ByteDance meluncurkan kembali sebuah platform berita dan informasi bernama Toutiao. Secara harfiah, Toutiao berarti berita utama atau headline.
Baca Juga: Capai 80 Persen, Pelanggan Perempuan Dominasi TikTok Shopping 2021"Hanya dalam empat bulan setelah diluncurkan Toutiao memiliki satu juta pengguna aktif harian," kata dia dikanal YouTube, Dr Indrawan Nugroho, dikutip Senin (22/8/2022).
Setelah mendapatkan suntikan dana sebesar USD100 juta dari Sequoia Capital pada 2014, ByteDance menggunakan sebagian dana itu untuk mendirikan ByteDance AI Lab. Fokusnya adalah untuk pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)
"AI ini mampu memahami informasi baik berupa teks, gambar atau video secara mendalam. AI Lab juga mengembangkan algoritma machine-learning untuk rekomendasi informasi yang dipersonalisasi," ujar dia.
Menurutnya, kehebatan rekomendasi berbasis AI tersebut yang kemudian membawa Toutiao berhasil mendapatkan 120 juta pengguna aktif di September 2017. Dengan rata-rata penggunanya yang menghabiskan waktu 74 menit per hari.
Setelah sukses dengan Toutiao, Zhang Yiming terinspirasi untuk membuat aplikasi serupa. Namun konten yang disajikan lebih kepada video pendek yang atraktif.
"Maka di tahun 2016 lahirlah aplikasi Douyin, sebuah layanan video pendek yang menampung berbagai video pengguna dari beragam genre, seperti lelucon, aksi, trik, dan tarian, serta juga hiburan," ungkapnya.
Kelahiran TikTokDouyin juga memanfaatkan teknologi rekomendasi berbasis AI seperti yang digunakan Toutiao. Hal itu dimanfaatkan untuk menemukan ragam video yang sesuai dengan minat penggunanya.
Kesuksesan Douyin di Cina, akhirnya mendorong ByteDance untuk membuat versi global dari Douyin. Maka pada November 2017, ByteDance mengakuisisi aplikasi bernama musical.ly, yaitu media sosial asal Cina yang bermarkas di Santa Monica California.
"Melalui musical.ly pengguna dapat membuat video musik lipsync selama 15 detik hingga satu menit, serta memilih soundtrack untuk mengiringinya. Berikut dengan opsi kecepatan yang berbeda, dan menambahkan filter atau efek," katanya.
Aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk menelusuri video populer, lagu yang sedang trend, hashtag, hingga berinteraksi langsung dengan para penggemar.
"Saat diakuisisi, musical.ly sudah memiliki 200 juta pengguna di seluruh dunia. Musical.ly kemudian diubah namanya menjadi tiktok," tuturnya.
(bal)