Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home global news detail berita

4 Pilar Pendidikan Ki Hajar Dewantara Jangan Lepas Meski Pandemi

Muhajirin Kamis, 12 Agustus 2021 - 08:30 WIB
4 Pilar Pendidikan Ki Hajar Dewantara Jangan Lepas Meski Pandemi
Ilustrasi belajar daring di rumah saat pandemi Foto: Langit7.id/Istock
LANGIT7.ID, Jakarta - Filosofi pendidikan yang ditanamkan Ki Hajar Dewantara mesti menjadi acuan agar subtansi pendidikan di masa pandemi tetap tercapai. Pernyataan itu disampaikan Ketua Komisi Pendidikan MUI Provinsi Jawa Timur, Dr. Turhan Yani.

Buah pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah warisan budaya bangsa dan menjadi salah satu kekayaan keilmuan Indonesia. Tokoh penting dalam sejarah pendidikan Indonesia yang terlahir dengan nama Soewardi Surjaningrat adalah pelopor dan pendiri taman siswa, serta pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan setelah Indonesia merdeka.

Ki Hajar Dewantara membagi empat bagian penting yang menjadi sentral dalam proses pendidikan yakni olah hati (etika), olah pikir (literasi), olah rasa dan karsa (estetik, kreati, inovatif), dan olah raga (genestetik).

“Empat hal ini harus menjadi satu kesatuan, yang sangat penting untuk kita transformasikan kepada anak-anak didik kita. Maka pertanyaanya sebagai pendidik, apakah empat hal ini sudah kita lakukan dalam proses pendidikan kita saat daring?” kata Turhan dalam webinar pendidikan yang diadakan MUI Jawa Timur, Rabu malam (11/8/2021).

Jika diibaratkan, saat pembelajaran tatap muka, guru bisa menyampaikan 100 persen materi, namun pada saat daring hanya separuh. Meski begitu, empat poin sentral pendidikan ala Ki Hajar Dewantara harus diterapkan agar subtansi pendidikan tidak luntur.

Guru tidak boleh hanya asal menyampaikan materi saja. Dalam bahasa sederhana, hanya melepas kewajiban. Guru harus menerapkan dan bertanggung jawab atas olah hati, olah rasa dan karsa, olah pikir, dan olah raga.

“Seperti olah hati, proses pembentukan karakter. Pada masa daring ini memang pendidik menemui banyak hambatan, tapi sebagai seorang pendidik, kita bisa memonitor anak anak didik kita, tidak hanya jam-jam khusus saat pembelajaran. Tapi juga bisa memantau dari berbagai instrumen yang ada. Inilah yang bisa kita lakukan pada masa pembelajaran daring,” kata Turhan.

Sementara olah pikir atau literasi biasanya lewat pembelajaran formal dalam bentuk jadwal dan materi yang sudah disiapkan oleh guru. Ini pun belum maksimal pada masa pandemi. Padahal, banyak guru hanya menjadikan olah pikir sebagai patokan untuk menggugurkan kewajiban pada masa pandemi ini.

Demikian pula olah rasa dan karsa, sebuah instrumen pendidikan yang sangat dibutuhkan di era industri 4.0 saat ini. Karena sehat itu membutuhkan kreasi, inovasi, dan berbagai terobosan lain dalam menyiapkan diri untuk melangsungkan kehidupan.

Era digital saat ini memiliki tantangan yang sangat luar biasa. Jika guru tidak serius menangani olah rasa dan karsa ini, anak didik bisa ketinggalan zaman. Murid yang pintar akan tergilas oleh murid yang kreatif dan inovatif. Maka itu, guru mesti berfikir agar terjadi keseimbangan.

Begitu pun olah raga. Terlebih pada masa pandemi Covid-19. Pada masa Rasulullah SAW, anak-anak diperintahkan untuk berenang, memanah, dan berkuda. Olahraga itu sesuai pada zaman itu. Maka saat ini, guru tetap harus memandu siswa agar melakukan olahraga yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

“Dengan kata lain, empat filosofi pendidikan KH Hajar Dewantara menjadi hal satu yang perlu kita teoritiskan sebagai satu kor dari pendidikan di tengah pandemi,” kata Turhan.

Peran penting keluarga

Dalam mewujudkan empat filosofi itu, maka perlu kolaborasi institusi pendidikan. Insititusi pendidikan tidak hanya sekolah, tapi ada institusi keluarga dan institusi masyarakat. Dalam institusi keluarga, orang tua harus menyiapkan diri sebagai pendidik terbaik, baik dalam olah rasa dan karsa atau pun olah pikir serta olah raga hingga olah hati.

“Karena memang sebenarnya pendidikan itu berasal dari keluarga. Karena anak itu lahir dari keluarga, orang tua megasuh, mendidik. Setelah memasuki usia sekolah, baru dititipkan ke isntitusi sekolah,” kata Turhan.

Pada masa pandemi, keluarga menjadi tiang sanga penting dalam pendidikan anak-anak. Orang tua harus menyadari hal ini agar tidak menyepelekan. Demikian pula institusi masyarakat. Dalam hal ini melalui tokoh agama hingga tokoh masyarakat.

Maka itu, kata Turhan, kunci pertama dalam strategi efektif pendidikan masa pandemi adalah kolaborasi seluruh institusi pendidikan dan stakeholders. Institusi pendidikan mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat, ditambah stakeholders yaitu pihak pihak yang memiliki kepentingan dalam dunia pendidikan. Semua harus menyatu untuk mentransformasi pendidikan ke anak didik.

“Sesungguhnya tanggung jawab pendidikan itu bukan hanya tanggung jawab salah satu institusi pendidikan, tetapi tanggung jawab bersama. Kita harus tau bahwa pendidikan itu muarahnya adalah menghasilkan pengetahuan, sikap, perilaku baik, dan hard skill,” kata Turhan

(arp)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)