LANGIT7.ID - Konsultan Pendidikan Islam, Dr Dede R Misbahul Alam, menjelaskan, hilangnya pendidikan karakter menjadi salah satu masalah besar pembelajaran daring akibat pandemi.
Banyak guru pesimis karena mereka tidak memiliki peluang memberikan pendidikan karakter kepada anak-anak. Terlebih lagi, pandemi melahirkan era disrupsi yang sudah tampak nyata di tengah masyarakat.
Maka guru atau pendidik harus memikirkan berbagai cara agar pendidikan tetap bersandar pada nilai-nilai agama, tidak hanya berdasar pada nilai-nilai angka.Tidak ada pilihan jika ingin melahirkan generasi emas di masa depan.
“Kalau kita tidak berubah pada kondisi saat ini, kita akan punah. Dalam dunia pendidikan, kalau kita tidak berbenah dalam hal sistem, dalam hal kebiasaan, dalam hal metode, dan dalam hal apa saja yang kemudian hari ini berubah, maka punah kita,” kata Dede dalam webinar pendidikan di akun youtube AQL Islamic Center, dikutip Kamis (12/8/2021).
Masalah-masalah itu harus disiasati agar pendidikan pada masa pandemi mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik. Mulai dari perencanaan hingga pada eksekusi lapangan. Teknologi sudah ada, tapi guru harus memutar otak agar teknologi tidak memperparah disrupsi, tapi menjadi berkah untuk guru dan siswa.
Menurut Dede, ada bahaya besar jika pendidikan karakter tidak diperhatikan. Dampak paling nyata di depan mata adalah
learning loss dan
loss of adab. Learning loss menghilangkan pengalaman belajar dan menghilangkan pemahaman ilmu pada suatu mata pelajaran.
Loss of adab ialah ketika teknologi informasi dan komunikasi mengancam iman dan akhlak umat Islam.
“L
earning loss, anak anak yang belajar di sekolah online hampir dua tahun kehilangan pengalaman belajar. Hilang bagaimana mereka belajar bersama kawan, hilang pengalaman bagaimana bersosial di sekolah, hilang belajar bagaimana harus tatap muka, hormat, mengikuti keteladanan dari guru,” ucap Dede.
Demikian pula kehilangan pemahaman ilmu pada suatu mata pelajaran. Anak tidak hanya hilang pengalaman belajar, tapi tidak memahami mata pelajaran yang disampaikan oleh guru. Ini yang menjadi kekhawatiran ke depan.
Namun hal yang lebih parah adalah
loss of adab. Pandemi membuat anak-anak kehilangan adab dan karakter. Kehilangan adab ini sangat jelas terjadi di lapangan. Kerap ditemukan orang tua menjerit dan memaksa pemerintah membuka pembelajaran tatap muka.
“Iman dan akhlak pun terdisrupsi gara gara disrupsi pandemi. Bayangkan, gara-gara pandemi anak anak dibatasi pergi ke masjid, tidak takbiran, shalat idul adha, dan lain sebagainya, tidak taklim. Sehingga anak tidak mendapatkan pembelajaran di sekolah, ke masjid pun tidak, ke sekolah agama pun tidak. Nyaris mereka tidak mendapatkan apa apa,” terang Dede.
Dede mencatat tiga ancaman masa depan pendidikan akibat pandemi. Pertama, pandemi merusak pendidikan. Laporan tentang framework pembukaan kembali sekolah UNESCO, UNICEF, World Bank, dan WFP pada April 2020 dikatakan, penutupan sekolah secara global sebagai tanggapan terhadap pandemi menghadirkan risiko merusak pendidikan, perlindungan, dan kesejahteraan anak-anak. Ini baru tiga bulan pandemi melanda dunia, Unesco sudah melaporkan hal itu.
Kedua, putus sekolah. Laporan dari Unicef yang disampaikan oleh Michelle Kaffenberger, Akademisi dari Blavatnik School of Government, University of Oxford, memprediksi, anak-anak bisa kehilangan pembelajaran selama lebih dari satu tahun menyusul penutupan sekolah selama tiga bulan karena tertinggal pelajaran ketika sekolah kembali dibuka. Pada studi yang lain diperkirakan bahwa antara 7 hingga 9,7 juta anak akan putus sekolah karena dampak ekonomi dari pandemi.
Ketiga, hilangnya pembelajaran. Menteri Nadiem Makarim menegaskan, hilangnya pembelajaran secara berkepanjangan beresiko terhadap pembelajaran jangka panjang, baik kognitif maupun pengembangan karakter.
Oleh karena itu, menurut Dede, tidak ada cara lain kecuali mengembalikan pendidikan kepada ruhnya. Ruh itu adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang melahirkan manusia yang baik. Manusia yang baik adalah manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, yang juga cerdas dan mandiri. Pendidikan karakter mempunyai esensi tentang nilai, yakni nilai-nilai luhur yang bersumber dari wahyu dan bersumber dari budaya bangsa Indonesia itu sendiri.
"Pendidikan karakter adalah pendidikan yang berdasarkan pada nilai-nilai agama. Karena pendidikan pada hakikatnya adalah usaha dan upaya bersama yang dilakukan secara sadar, serius, dan sungguh-sungguh dalam rangka membangun watak dan karakter peserta didik secara komprehensif,” kata Dede.
(jqf)