LANGIT7.ID, Jakarta - Kesibukan Ibu Kota Jakarta dapat terlihat di daerah Karet, Sudirman yang dihiasi sejumlah gedung menjulang tinggi. Namun di balik gedung-gedung pencakar langit tersebut terdapat sebuah masjid cagar budaya dengan menggabungkan tiga kebudayaan.
Masjid tersebut adalah Masjid Hidayatullah yang berlokasi tepat di Jalan Prof Dr Satrio tepat di belakang Gedung Sampoerna Strategic Square tak jauh dari Kali Krukut. Gabungan tiga budaya tersebut, yakni Betawi, Hindu, dan Tionghoa.
"Jendela dan pintu ciri khas orang-orang betawi bangunan atapnya mencerminkan orang-orang Ciina dua menara kembar mencerminkan orang-orang hindu," ujar Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Sementara, Muhammad Thohir saat ditemui
Langit7 di bilangan Karet, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (1/9/2022).
Bangunan masjid tampak mempertahankan nuansa klasik meski berada di tengah pusat perekonomian modern Jakarta. Masjid Hidayatullah merupakan salah satu tempat ibadah tertua di Indonesia yang didirikan pada tahun 1747.
Baca Juga: Wisata Religi ke Masjid Paling Ikonik di Negeri JiranSejarahnya, tanah masjid cagar budaya ini dibangun di atas tanah seluas 3.000 meter persegi. Tanah tersebut awalnya milik orang Belanda yang bernama Safir Hands. Kemudian ia pun menghibahkan tanah tersebut kepada Muhammad Yusuf, seorang Betawi keturunan Bugis yang kemudian diwakafkan.
Namun kini luas tanah masjid menyusut menjadi 1.600 meter persegi, akibat imbas dari penggusuran perluasan kali Krukut pada tahun 1972 dan perluasan jalan yang menghubungkan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Gatot Subroto pada tahun 1980-an.
Thohir mengungkapkan, keunikan lainnya terdapat pada mimbar khatib. Sebab mimbar tersebut juga merupakan penggabungan antara tiga budaya.
"Atasnya itu seperti candi terus ada juga ornamen ukiran pendupa orang-orang Tionghoa dan ada juga di sebelah samping Al-Qur'an diikat pita dan di belakang mimbar ada tulisan kaligrafi Arab Melayu," jelasnya.
Renovasi MasjidThohir menuturkan, masjid mengalami renovasi sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 1921, 1948, 1975, dan yang terakhir 1989. Renovasi tersebut tidak menghilangkan ciri khas arsitektur masjid.
"Karena beberapa bangunan sudah banyak yang lapuk, dikhawatirkan terkena para jamaah," ujarnya.
Perawatan masjid pun rutin dilakukan oleh para pengurus masjid guna mengecek kelayakan kayu-kayu yang berada pada ruang salat masjid. Pengecekan pun dilakukan setiap tiga tahun sekali selalu secara menyeluruh.
Masjid Hidayatullah sampai saat ini masih mempertahankan nuansa klasik khas zaman dulu. Masjid tersebut pun telah menjadi cagar budaya sejak tahun 2001 silam.
Baca Juga: Gugah Selera, Ini 7 Tempat Makan dengan Suasana PersawahanBaca Juga: BBM Naik Picu Panic Buying, Ekonom: Islam Ajarkan Pengendalian Diri(zhd)