LANGIT7.ID, Jakarta - Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun membawa dampak ke berbagai sektor. Di antara aspek paling terdampak akibat Covid-19 adalah dunia pendidikan. Meskipun pendidikan tidak harus melulu melalui institusi bernama sekolah, harus diakui sekolah belum tergeser sebagai wasilah mainstream yang dipercaya oleh rakyat untuk mendapatkan pendidikan.
"Covid-19 memang memberi peringatan dan mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja. Mengingatkan bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Banyak hikmah bisa kita ambil dari musibah pandemi ini," kata Ketua Yayasan An-Nahla Al-Islamiy, ustaz Wildan Hasan dalam keterangannya, Jumat (13/8).
Baca juga:
Pesantren Muhammadiyah Ini Mampu Hadapi Pandemi dengan Manfaatkan TeknologiHanya saja, lanjut ustaz Wildan, realita menunjukkan kepada kita bahwa untuk beralih model pendidikan belum siap. Belum lagi para orang tua mengalami tekanan mental cukup berat selain beban harus mendampingi anak melakukan pembelajaran di rumah juga beban tugas-tugas pekerjaan rumah dan tempat kerjanya yang harus diselesaikan. Menurut dia, kondisi ini bisa menimbulkan stress yang mengkhawatirkan.
"Apabila orang tua stress kemungkinan besar anak tidak akan mendapatkan pendampingan dan pengajaran yang baik di rumah. Akhirnya anak dibiarkan bebas belajar sendiri di rumah dengan hp di tangannya tanpa pengawasan," tuturnya.
Menurut kandidat doktoral Pendidikan Agama Islam ini, tingkat stress yang semakin meningkat bisa menimbulkan dua hal. Pertama, orang tua akan mencari solusi dengan mendiskusikan persoalan tersebut dengan Guru dan sekolah anaknya.
Kedua, orang tua melepas tanggung jawab dan tidak lagi peduli dengan pendidikan anaknya. Cukup melihat anaknya belajar, ikut PTS-PAS, wisuda, dapat ijazah, selesai. Tanpa peduli kualitas pendidikan yang didapatkannya bisa jadi sangat rendah.
"Salah satu kelemahan model pendidikan daring adalah sulit tercapainya pendidikan adab kepada peserta didik. Pendidikan adab tidak tersedia di internet," katanya.
Baca juga:
UMAM Jadi Kado Tahun Baru buat Muhammadiyah, Kabar Baik bagi Pengejar BeasiswaPendidikan adab tersedia pada interaksi langsung melalui peneladanan dan pembiasaan. Di era disrupsi, pengetahuan dan keterampilan apa pun bisa didapatkan dan dipelajari di internet tanpa harus duduk dibangku sekolah dan bangku kuliah. Saatnya nanti apabila kompetensi lebih dihargai daripada ijazah, sekolah dan kampus akan ditinggalkan.
"Apabila kondisi di atas masih berlangsung sampai satu tahun ke depan, apalagi bertahun-tahun berikutnya kiranya pendidikan kita akan kolaps. Pendidikan kita berada di zona hitam," ujarnya.
Ketua MIUMI Kota Bekasi ini menyarankan, seyogyanya pemerintah segera melakukan langkah-langkah taktis, strategis dan mendasar agar persoalan pendidikan di masa pandemi cepat tertanggulangi. Tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena masa depan bangsa dipertaruhkan.
"Tidak bisa kita memaksa diri untuk berpura-pura optimis masa depan bangsa akan baik-baik saja apabila proses pendidikan saat ini sejatinya tidak sedang baik-baik saja. Berikan kebijakan sekolah untuk melakukan pembelajaran tatap muka dengan syarat dan ketentuan berlaku, sebagaimana aktifitas hidup di sektor lainnya yang bahkan berjalan normal tanpa mematuhi syarat dan ketentuan," ujarnya.
(zul)