LANGIT7.ID, Jakarta - Telat bicara atau
speech delay merupakan kondisi seorang anak belum mampu mengucapkan sejumlah kosakata pada usia tertentu yang seharusnya Sudah bisa berbicara. Di usia itu, mereka juga belum mampu memahami apa yang dikatakan orang lain.
Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Rhenald Kasali menemukan masalah tersebut di TK dan PAUD Kutilang yang dia kelola. Ada orang tua murid yang bercerita perihal anaknya yang mengalami
speech delay.
“Perlu diketahui bahwa
speech delay ini adalah bukan satu kelainan. Ini melainkan adalah murni kesalahan kita sebagai orang tua. Saya sangat berempati kepada orangtua yang mempunyai masalah ini dan anak-anaknya,” kata Rhenald Kasali di kanal YouTube-nya, Kamis (8/9/2022).
Menurut dia, solusi
speech delay sebenarnya sangat sederhana. Orang tua hanya perlu meluangkan waktu untuk merangsang dan memberikan stimulus agar anak-anak bisa mengucapkan satu dua kata. Terutama saat memasuki umur 3 tahun.
Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, Begini Cara Didik Anak di Era Digital
Orang tua juga perlu memberikan irama pada satu kata. Misal dalam kata papa dan mama. Irama pengucapan dua kata bisa dipanjangkan di akhir. Atau pun pengucapan kata papa dan mama dengan irama-irama tertentu.
“Berikan Irama yang berbeda, sehingga anak bisa mengerti Irama. Tentu ada maksudnya dan anak-anak harus terbiasa dengan hal seperti ini,” kata Rhenald.
Speech delay ini banyak ditemui saat pandemi Covid-19. Saat virus itu mewabah, banyak orang tua sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Anak-anak akhirnya diberikan
gadget.
Dia mengatakan, anak-anak saat ini mempunyai satu persoalan yang disebut
internet addiction disorder atau penyakit
mental health. Itu sudah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai penyakit anak-anak saat ini.
Anak-anak sejak kecil sudah diberikan
gadget, sehingga tidak tertarik dengan mainan fisik. Anak-anak tidak lagi berinteraksi dengan mainan-mainan yang bisa memicu motorik anak.
Baca Juga: Begini Cara Sederhana Bedakan Anak Aktif dan HiperaktifPadahal, para ahli pendidikan sudah menciptakan mainan yang bisa memancing motorik dan kreativitas anak. Namun, banyak anak-anak lebih terpukau dengan kecanggihan
gadget.
“(
Gadget dan internet) juga bisa mengakibatkan seseorang mengalami attention kontrol problem, ketika dia harus pergi ke sekolah, dan di sekolah gurunya membosankan, dia melihat keluar dan tidak betah duduk di kelas,” ujarnya.
Hal ini mengakibatkan munculnya anak-anak yang disebut
travel children. Salah satu tandanya, anak mudah marah saat
gadget mereka diambil. Lalu, Mereka terpicu untuk melakukan kekerasan.
“Perlu diketahui bahwa anak-anak dibawah usia 3 tahun tidak perlu internet, tidak perlu
gadget, karena itu berikanlah mainan yang merangsang mereka untuk menjadi lebih cerdas, lebih cerah," ujar Rhenald.
Rhenald menjelaskan, anak-anak memiliki bakat yang sama dengan orang tuanya. Hanya saja, tidak ada anak-anak yang bisa langsung lari saat lahir. Maka itu, mereka memerlukan stimulus dari orang tua untuk melatih kecerdasan.
“Oleh karena itu maka sebagai orang tua kita untuk waspada dan lebih bijaksana dalam latihan anak,” katanya.
Baca Juga: Mendongeng Efektif Bangun Kebiasaan Diskusi Orang Tua dan Anak
Secara teori, kata dia, anak-anak saat lahir sudah bisa mendengarkan suara. Saat berusia empat bulan, mereka mulai bisa membedakan suara bahasa dan keributan.
“Jadi antara suara yang merupakan bahasa percakapan dengan noise (keributan), mereka mulai bisa akarnya,” tuturnya.
Usia enam bulan, anak sudah mulai bisa mengoceh. Kalau sudah usia delapan bulan mereka bisa mengucapkan kata-kata didengar sehari-hari rumah.
“Setelah mendekati 2 tahun, sudah ada penggunaan kata benda, kata kerja. Setelah itu mulai bisa merangkai kalimat sederhana. Mulai berangkat sekolah usia tiga tahun anak-anak sudah mulai berangkat sekolah zaman sekarang yaitu memasuki area bermain, PAUD,” ungkap Rhenald.
Dia menjelaskan, hal yang dibutuhkan anak adalah interaksi dengan orang tua. Maka itu, orang tua harus meluangkan waktu untuk anak-anak untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
(jqf)