Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home masjid detail berita

Begini Cara Jamaah Ingatkan Khatib Rukun Jumat Sesuai Adab

mahmuda attar hussein Jum'at, 09 September 2022 - 12:00 WIB
Begini Cara Jamaah Ingatkan Khatib Rukun Jumat Sesuai Adab
Ilustrasi khotbah Jumat. (Foto: Istimewa).
LANGIT7.ID, Jakarta - Ada cara bagi jamaah mengingatkan khatib soal rukun salat Jumat. Hal ini harus disampaikan, namun dengan cara yang santun sesuai dengan adab diajarkan Islam.

Penceramah Buya Yahya menjelaskan, teguran jamaah kepada khatib bisa dilakukan dengan menyampaikan surat, sehingga peringatan itu dilangsungkan secara tertib dan tak mengganggu jamaah lainnya.

"Misalnya jamaah mengirim surat dan khatib tinggal merespons teguran itu dengan tertib, jadi tidak usah ribut," ujar dia dalam penggalan ceramahnya, Jumat (26/8/2022).

Baca Juga: Hal-Hal Penting Dilakukan sebelum Khotbah Jumat Dimulai

Selain memberi surat, jamaah juga diperbolehkan langsung membisikkan pesan peringatan itu kepada khatib. Semisal ada wasiat takwa yang terlewat oleh khatib.

"Antara jamaah dan khatib itu harus sama-sama punya adab, akhlak, dan tanggap. Jadi kalau mengingatkan bukan dengan kebencian, tapi dengan kelembutan," katanya.

Kendati demikian, dia mengingatkan agar khatib yang ditunjuk haruslah orang yang betul-betul paham dengan fikih, termasuk rukun khutbah. Tujuannya supaya ketika jemaah mengingatkannya, khatib bisa merespons dengan bijak.

"Kalau seandainya ada yang mengingatkan, jangan kita bersandar dengan kekuatan hafalan kita. Orang mendengar itu kadang yang lebih teliti daripada kita," ujarnya.

Berikut 5 rukun khutbah Jumat yang harus dipenuhi:

1. Memuji Allah di kedua khutbah

Rukun khutbah pertama disyaratkan menggunakan kata “hamdun” dan lafaz yang satu akar kata dengannya, misalkan “alhamdu”, “ahmadu”, “nahmadu”.

Demikian pula dalam kata “Allah” tertentu menggunakan lafaz jalalah, tidak cukup memakai asma Allah yang lain. Contoh pelafalan yang benar misalkan: “alhamdu lillah”, “nahmadu lillah”, “lillahi al-hamdu” atau "innahamdalillahi"

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan, diisyaratkan adanya pujian kepada Allah menggunakan kata Allah dan lafadz hamdun atau yang satu akar kata dengannya. Seperti alhamdulillah. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Minhaj al-Qawim Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, halaman: 246).

2. Shalawat Nabi Muhammad SAW

Pembacaan shalawat Nabi SAW harus dilakukan di kedua khutbah. Dalam pelaksanaannya harus menggunakan kata “al-shalatu” dan lafadz yang satu akar kata dengannya.

Contoh membaca shalawat yang benar: “ash-shalâtu ‘alan-Nabi”, “ana mushallin ‘alâ Muhammad”, “ana ushalli ‘ala Rasulillah”.

3. Wasiat Takwa

Hal ini juga disampaikan di kedua khutbah. Dan rukun khutbah ketiga ini tidak memiliki ketentuan redaksi yang paten.

Prinsipnya adalah setiap pesan kebaikan yang mengajak ketaatan atau menjauhi kemaksiatan. Seperti “Athi’ullaha, taatlah kalian kepada Allah”, “ittaqullaha, bertakwalah kalian kepada Allah”, “inzajiru ‘anil makshiat, jauhilah maksiat”.

Tidak cukup sebatas mengingatkan dari tipu daya dunia, tanpa ada pesan mengajak ketaatan atau menjauhi kemaksiatan. Hal ini sebagaimana dijelaskan Syekh Ibrahim al-Bajuri:

Artinya: "Kemudian berwasiat ketakwaan. Tidak ada ketentuan khusus dalam redaksinya menurut pendapat yang shahih. Ucapan Syekh Ibnu Qasim ini kelihatannya mengharuskan berkumpul antara seruan taat dan imbauan menghindari maksiat. (Syekh Ibrahim al-bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Ibni Qasim, Kediri, Ponpes Fathul Ulum, tanpa tahun, juz.1, halaman: 218-219).

4. Membaca Ayat Suci Al-Quran

Biasanya adalah ayat Al-Qur'an yang dapat memberikan pemahaman makna yang dimaksud secara sempurna. Baik berkaitan dengan janji-janji, ancaman, mauizhah, cerita dan lain sebagainya.

Seperti contoh: Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah orang-orang yang jujur. (QS. At-Taubah: 119).

Membaca ayat Al-Qur'an lebih utama ditempatkan pada khutbah pertama sebagaimana dijelaskan Syekh Abu Bakr bin Syatha:

Artinya: Rukun keempat adalah membaca satu ayat yang memberi pemahaman makna yang dapat dimaksud secara sempurna, baik berupa janji-janji, ancaman, hikmah atau cerita. Membaca ayat lebih utama dilakukan di khutbah pertama dari pada ditempatkan di khutbah kedua, agar dapat menjadi pembanding keberadaan doa untuk kaum mukminin di khutbah kedua. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anatut Thalibin, juz.2, halaman: 66, cetakan al-Haramain-Surabaya).

5. Doa

Hal ini dilakukan di khutbah terakhir, dan mendoakan kaum mukminin dalam khutbah Jumat disyariatkan isi kandungannya mengarah kepada nuansa akhirat.

Seperti “allahumma ajirna minannar, ya Allah semoga engkau menyelematkan kami dari neraka”. Atau “allahumma ighfir lil muslimin wal muslimat, ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat".

(bal)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)