LANGIT7.ID, Jakarta - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menyatakan persiapannya mendorong percepatan nasabah go digital. Hal ini didukung PNM Digi yang diluncurkan secara resmi pada penghujung kuartal I 2020.
Direktur Kelembagaan dan Perencanaan Permodalan Nasional Madani, Sunar Basuki mengatakan, PNM Digi adalah bentuk digitalisasi dengan tujuan mendorong nasabah agar terbiasa dengan teknologi digital. Selain itu, pihaknya juga melakukan pengembangan nasabah online, terutama dalam situasi pandemi saat ini.
“Jadi pelatihan kita dilakukan di tempat usaha masing-masing nasabah melalui aplikas berbasis online seperti WA, youtube, atau zoom dan google meet,” ujar Sunar di Webinar Sinergi Industri Jasa Keuangan dan Teknologi untuk Mendorong Digitalisasi UMKM dalam Rangka Ekonomi Digital, Jumat (13/8).
Baca juga:
Bantu UMKM dan Koperasi, PNM Berikan Layanan Khusus Bagi Muslimah PrasejahteraBasis pelatihan online ini dilakukan karena keterbatasan mobilitas akibat kebijakan pemerintah yang dilakukan demi menangani pandemi. Sunar mengatakan, melalui pelatihan secara online dapat memberikan dampak positif yang cukup masif, karena transformasi digital menjadi sangat tinggi.
“Materi kami terdiri dari membaca peluang bisnis, pengelolaan keuangan, strategi bertahan bagi UMKM di pandemi, dan lainnya. Setidaknya, di pandemi ini kita sudah melakukan 1.280 kali pelatihan yang dilakukan kepada lebih dari 28.569 dari nasabah,” katanya.
PNM juga telah bersinergi dengan perusahaan teknologi penyedia platform digital untuk mendukung digitalisasi UMKM. Pihaknya terus berupaya untuk mengadposi teknologi terkini untuk kemudahan pembayaran nasabah, termasuk perbankan, e-commerce, dan layanan jaringan.
Baca juga:
Kemenkop UKM Targetkan 30 Juta UMKM Go Digital Tahun 2024Sunar menuturkan, kendala saat ini yang dihadapi ialah nasabah yang memiliki keterbatasan dalam kepemilikan ponsel pintar yang tidak mencapai angka 30 persen. Selain itu, tingkat pengetahuan soal digitalisasi yang masih terbatas, seperti transaksi digital, data pribadi dan keamanan, serta data yang belum merata.
“Ini semua karena 90 persen nasabah kami berada di daerah pedesaan, dan kemampuan dalam produktivitas juga masih terbatas untuk memenuhi pasar. Sehingga menjadi tantangan bagi kami untuk memberikann pendampingan secara online untuk mendorong nasabah bisa beralih kepada penjualan online. Kami terus berupaya agar pendaming lapangan dapat melakukan pendampingan untuk mereka agar segera bisa segera beralih kepada digitalisasi,” imbuhnya.
(zul)