LANGIT7.ID, Jakarta - Desa Wisata Negeri Hila menjadi salah satu desa wisata yang terletak di Pantai Utara Pulau Ambon.
Desa wisata ini memiliki beragam potensi wisata, seperti wisata budaya, sejarah, bahari, alam, kuliner lokal, serta beberapa warisan budaya yang hingga kini masih dilestarikan.
Salah satu daya tarik utamanya berupa peninggalan sejarah Benteng Amsterdam. Sebagai wisata sejarah dan budaya, Benteng Amsterdam menyimpan sejarah tentang asal mula jalur rempah yang terkenal di dunia.
Desa Wisata Negeri Hila ini berada di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Perjalanan menuju Desa Wisata Negeri Hila butuh waktu kurang lebih satu jam, dengan jarak tempuh sejauh 37 kilometer dari Bandara Internasional Patimura, Ambon.
Baca juga: Desa Wisata Pentagen, Unggulkan Taman Wisata AirSaat hendak menikmati bangunan
Benteng Amsterdam ini Sahabat Langit7 tidak perlu membeli tiket masuk. Hanya saja Sahabat Langit7 dapat memberikan uang seikhlasnya untuk kebersihan area benteng.
Selain itu, di desa wisata ini juga terdapat beragam tarian seni khas Maluku, salah satunya Tari Lenso yang kerap dibawakan saat acara penyambutan tamu, acara adat, hingga acara pernikahan.
Penjaga Benteng Amsterdam, Muhammad Damri Lating menjelaskan, Benteng Amsterdam ini seperti bangunan rumah, sebab benteng ini berawal dari sebuah gudang rempah Portugis.
"Jadi Portugis pertama kali masuk ke Maluku pada tahun 1512 itu mereka membangun sebuah gudang rempah yang lebih dikenal dengan nama Loji Portugis," kata Damri dalam akun YouTube Dinas Pariwisata Maluku dikutip Kamis (15/9/2022).
Selanjutnya, bangsa Belanda masuk Maluku tahun 1605 kemudian bangsa Belanda mengusir Portugis, kemudian gudang diubah menjadi kubu pertahanan dan dinamakan Benteng Amsterdam.
Baca juga: Pengembangan Agrowisata Tanjung Sakti Bangkitkan Pariwisata di Sumatera SelatanMenurutnya, bangunan tempat penyimpanan rempah ini dibangun oleh bangsa Portugis, sedangkan tembok-tembok disekelilingnya dibangun oleh Belanda.
"Dan ini adalah benteng yang pertama kali Belanda bangun di Maluku. Jadi bangunannya bangsa Portugis yang bangun sedangkan tembok-tempok kelilingnya itu Belanda yang bangun. Di sana juga ada sudut tempat menyimpanan meriam," jelasnya.
(sof)