LANGIT7.ID, Jakarta - Ada 3 akar masalah penyebab terjadinya
kekerasan di sekolah. Hal ini mesti diperhatikan agar tidak ada lagi korban, apalagi sampai meninggal dunia.
Dosen
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Aly Aulia menyebutkan, saat ini lembaga pendidikan pondok pesantren tengah mendapat sorotan karena adanya santri meninggal diduga akibat kekerasan.
"Hal itu akibat pergeseran budaya, pergeseran nilai, dan perubahan konsep pendidikan. Untuk itu, dia mengingatkan agar para pengampu pendidikan lebih adaptif," kata dia dilansir laman
Muhammadiyah, dikutip Ahad (18/9/2022).
Setidaknya, lanjut dia, ada 3 akar masalah kekerasan yang kerap terjadi di institusi pendidikan. Apa saja itu? Berikut ulasannya.
Baca Juga: Kak Seto Ungkap Penyebab Kekerasan di Sekolah Terus Membudaya1. GuruDia mengungkapkan, kekerasan bisa terjadi bila para pengajar tidak terlalu cukup pengetahuan dan wawasan terkait perlindungan.
Termasuk adanya masalah psikologis dari para tenaga pengajar, seperti tekanan kerja, masalah rumah tangga, dan lain sebagainya. Hal inilah yang juga berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan.
2. SiswaKekerasan juga bisa terjadi karena adanya perasaan superior atau inferior yang memancing siswa/santri lain melakukan kekerasan. Sangat mungkin, pelaku melampiaskan kekerasan akibat dari kejadian yang pernah diterimanya.
"Jadi seperti pembalasan dendam atau ingin mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya," katanya.
Menurutnya, kekerasan dari sisi siswa inilah yang paling dominan. Sebab mereka intens melakukan komunikasi satu sama lain, sehingga sangat potensial terjadi kekerasan.
"Karena mereka hidup bareng, di kelas bareng, di kamar bareng, di mana-mana bareng. Ini menunjukkan nanti mana siswa yang berkuasa, mana yang tidak,” ungkap Direktur Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta ini.
3. Lingkungan dan keluargaKekerasan juga dapat diakibatkan lantaran adanya budaya kekerasan yang terjadi di lingkungan dan keluarganya. Selain itu, akses informasi dari media yang bersifat provokatif juga berpotensi untuk ditiru.
(bal)