Salah menggunakan dinding maya dalam membagikan informasi bisa menyebabkan seseorang menjadi fasik. Begitu Pimpinan Indonesia Murojaah Foundation, KH Deden Muhammad Makhyarudin memperingatkan masyarakat dalam bermedia sosial.
KH Deden mengutip salah satu riwayat Imam Ahmad terkait asbab nuzul surah Al-Hujurat ayat 6. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang fasik dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum, karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan.”
Sosok yang dimaksud dalam ayat ini adalah sahabat muda, yakni Al-Walid bin Uqah. Ia pernah diutus oleh Rasulullah untuk mengambil zakat dari Bani Mustaril.
Imam Ahmad meriwayatkan, suatu ketika Al-Hartis bin Dinar menghadap kepada Rasulullah SAW. Ia pun diajak masuk Islam. Ajakan itu diterima dengan senang hati dan membaca syahadat sebagai ikrar keislaman.
Rasulullah SAW lalu mengimbau Al-Harits untuk membayar zakat. Ia pun menyanggupinya seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku akan pulang ke kaumku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang-orang yang mengikuti seruanku akan aku kumpulkan zakatnya. Apabila telah tiba waktunya, maka kirimkanlah utusan untuk mengambil zakat itu.”
Setelah Al-Harits mengumpulkan zakat dari kaumnya, dan waktu yang ditetapkan telah tiba, tak seorang pun utusan Rasulullah SAW yang datang menemuinya untuk mengambil zakat. Al-Harits mengira telah terjadi sesuatu yang menyebabkan Rasulullah marah.
Ia pun mengumpulkan para tokoh Bani Mustaril. “Sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan waktu untuk mengutus seseorang untuk mengambil zakat yang telah aku kumpulkan, dan beliau tidak pernah ingkar janji.” Ucap Al-Harits.
“Akan tetapi, aku tudak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu. Mungkinkah beliau marah? Sebaiknya kita berangkat menghadap Rasulullah SAW.” Lanjut dia.
Awal Mula KesalahpahamanDi pihak lain, Rasulullah SAW sebenarnya telah mengutus Al-Walid in Uqbah bin Abi Muaith untuk mengambil zakat yang ada pada Al-Harits.
Ketika Al-Walid berangkat, seketika dia melihat pasukan besar. Lalu, Walid bin Uqbah pulang menghadap Rasulullah. Al-Walid mengira Al-Harits menghadang untuk menyerang utusan Rasulullah, dan tidak mau membayar zakat.
Al-Walid pun memberikan laporan palsu kepada Rasulullah bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat kepadanya.
Mendengar laporan itu, Rasulullah marah. Namun, beliau tidak lantas percaya begitu saja pada informasi dari Al-Walid. Beliau mengutus seseorang kepada Al-Harits untuk mencari informasi yang sebenarnya.
Di tengah perjalanan, utusan itu berpapasan dengan rombongan AL-Harits dan para sahabatnya yang hendak menemui Rasulullah. Al-Harits bertanya kepada utusan itu,”kepada siapa engkau diutus?”
Utusan itu menjawab, “saya diutus kepadamu.”
“Mengapa?” Al-Harits bertanya.
Utusan itu menjawab, “sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengutus Al-Walid bin Uqbah. Namun, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat kepadanya, bahkan bermaksud membunuhnya.”
Al-Harits membantah informasi itu, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihat utusan Rasulullah dan tidak pula ada yang datang kepadaku.”
Sesampainya di hadapan Rasulullah, Al-Harits ditanya, “mengapa engkau menahan zakat dan hendak membunuh utusanku?”
Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.”
Allah Ta’ala pun menurunkan surah Al-Hujurat ayat 6. Kisah ini mengajarkan untuk selalu waspada terhadap semua informasi yang ada. Ini agar tidak terjerumus dan menjerumuskan orang lain kepada musibah.
Kontekstual Hadist KH Deden menjelaskan, seseorang tergolong fasik ketika gampang menyimpulkan sesuatu hanya dari apa yang dilihat. Dia mencontohkan unggahan status di media sosial berdasarkan pandangan mata saja tanpa diikuti klarifikasi. Misalnya, seseorang memotret orang berdua-duaan, laki-laki dan perempuan.
Lalu dengan gegabah foto itu diunggah ke media sosial tanpa meneliti terlebih dahulu. Lebih parah lagi jika diikuti caption menyudutkan, misalnya, ‘pacaran di tempat umum’. Padahal ia belum tahu, itu adik kakak atau suami istri.
“Kita tidak pernah tahu, tiba-tiba ambil kesimpulan, misalkan ‘akhir zaman, pakai kerudung pacaran di tempat umum’. Yang seperti itu, diksi diksi seperti itu, atau
caption seperti itu, ” kata KH Deden dalam serial Tadabbur Al-Qur’an melalui kanal
youube AQL Islamic Center, Sabtu malam (14/8/2021).
"Padahal kita belum pernah tahu, belum pernah nanya apakah laki laki dan perempuan itu adalah adik kakak, atau suami istri atau yang lain. Tiba-tiba muncul kesimpulan perspektif terhadap orang itu,” ucapnya lagi, menyoroti fenomena semacam itu di media sosial.
Dia menjelaskan, hal seperti itu sama persis dengan perspektif yang diciptakan Al-Walid saat diutus mengambil zakat ke Bani Mustaril. Ia hanya melihat barisan yang hendak menyambutnya, lalu menyimpulkan pasukan itu akan menyerangnya.
Padahal, kata KH Deden, saking senangnya, Al-Harits menyiapkan pasukan besar untuk menyambut kedatangan utusan Rasulullah. Mereka ingin menyambut kedatangan delegasi Rasulullah dengan membariskan pasukan hebat. Informasi itu hampir saja menimbulkan kejadian perang antara Rasulullah dan Bani Mustaril, sekiranya tidak ada utusan dari Bani Mustaril.
“Artinya, mengambil kesimpulan dari apa yang dilihat sebelum meneliti kejadiannya, lalu disebarkan dengan caption, maka itu menyebabkan orang menjadi fasik. Kita yang mendapatkan status media sosial itu tidak pernah tahu apakah status ditulis atas dasar ketelitiam atau tidak. Maka kita harus teliti. Kalau percaya begitu saja, maka kita percaya dengan orang fasik, dan juga sama fasiknya,” ucap KH Deden.
(arp)