LANGIT7.ID, Jakarta - Kondisi dunia kini dalam ketidakpastian tinggi akibat berbagai masalah yang ada. Pandemi belum juga usai, ditambah masalah geopolitik Rusia-Ukraina yang masing berlangsung.
Masalah-masalah tersebut berdampak pada kondisi ekonomi dunia, tak terkecuali Indonesia. Ekspor-impor terganggu sehingga harga bahan pokok, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) dan kebutuhan pangan melonjak tinggi.
Terkait situasi tersebut, Presiden Jokowi mengingatkan kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani untuk berhati-hati dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Saya selalu sampaikan ke Bu Menteri Keuangan. ‘Bu, kalau punya uang kita, di APBN kita, dieman-eman, dijaga, hati-hati mengeluarkannya. Harus produktif, harus memunculkan return yang jelas,’ karena kita tahu sekali lagi, hampir semua negara tumbuh melemah, terkontraksi ekonominya,” ujar Jokowi, dalam United Overseas Bank (UOB) Economic Outlook 2023, dikutip
Langit7.id dari laman Kominfo, Jumat (30/9/2022).
Saat ini semua negara juga sedang menyelesaikan masalah inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa. Inflasi Indonesia masih cukup terkendali di angka 4,6 persen.
Baca Juga: KADIN: Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh tapi Harus Waspada 3 Sumber KrisisMenurut Jokowi, terkendalinya inflasi antara lain disebabkan oleh keharmonisan hubungan antara otoritas pemegang fiskal (Menteri Keuangan) dengan bank sentral (Bank Indonesia) yang berjalan beriringan, rukun, dan sinkron.
“Coba bandingkan dengan negara yang lain, otoritas moneter dan otoritas fiskal, bank sentralnya naikin bunga, menteri keuangannya naikkan defisit. Naikkan defisit itu artinya menggrojokkan uang lebih banyak ke pasar jadi menaikkan inflasi," tuturnya.
"BI dan Kementerian Keuangan berjalan beriringan, rukun, sinkron, konsolidatif. APBN-nya konsolidatif, APBN-nya menyehatkan, berani memutuskan," imbuhnya.
Jokowi menegaskan fiskal yang dimiliki pemerintah diharapkan digunakan secara berkelanjutan untuk menghadapi situasi dunia tahun depan yang diprediksi 'gelap'.
“Tidak boleh kita hanya berpikir uang itu hanya untuk hari ini atau tahun ini. Tahun depan seperti apa? Karena semua pengamat internasional menyampaikan bahwa tahun depan itu akan lebih 'gelap', tapi kalau kita punya persiapan amunisi, ini akan berbeda, sehingga betul-betul APBN kita APBN yang berkelanjutan,” ucap Jokowi.
Jokowi menekankan pentingnya Indonesia memiliki ketahanan yang panjang. “Perang tidak akan berhenti besok, bulan depan, atau tahun depan. Artinya, enggak jelas, sehingga yang kita perlukan, negara kita memerlukan sebuah endurance yang panjang,” katanya.
Baca Juga: Sikapi Kenaikan BBM dan Inflasi, Ganjar Prioritaskan Perubahan APBD 2022(zhd)