LANGIT7.ID - Salah satu cara aparat keamanan dalam mengurai kericuhan massa adalah penggunaan
gas air mata. Hal itu dilakukan oleh pihak kepolisian untuk membubarkan suporter dalam pertandingan Arema FC vs Persebaya di
Stadion Kanjuruhan Malang pada Sabtu (1/10/2022). Akibatnya, masa kocar-kacir namun kesulitan keluar dari stadion sebab tidak memadainya jalur evakuasi. Massa yang saling berdesakan dan terkena gas air mata, mengakibatkan lebih dari 120 korban jiwa meninggal dunia.
Merujuk American Lung Association,
gas air mata merupakan bahan kimia yang menyebabkan iritasi pada kulit dan mata hingga masalah pernafasan. Ada beberapa bahan kimia yang paling umum digunakan dalam gas air mata. Di antaranya chloroacetophenone (CN) yang merupakan polutan udara beracun, chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA) dan dibenzoxazepine (CR).
Baca Juga: Penggunaan Gas Air Mata di Stadion Langgar Aturan FIFA
Gas air mata bisa menyebabkan dampak kesehatan jangka pendek hingga cacat permanen dalam beberapa kasus. Secara umum, paparan gas air mata dapat menyebabkan sesak dada, batuk, rasa tercekik, dan sesak napas. Efek lain rasa terbakar pada mata, mulut dan hidung. Ini menyebabkan penglihatan kabur dan kesulitan menelan.
Gas air mata juga dapat menyebabkan luka bakar kimia, reaksi alergi, dan gangguan pernapasan. Orang yang memiliki riwayat penyakit pernafasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala penyakit marah yang dapat menyebabkan gagal nafas.
Orang yang terpapar gas air mata di area tertutup memiliki risiko lebih tinggi menimbulkan efek kesehatan jangka panjang. Dalam kasus ini, gas air mata dapat menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian.
Baca Juga: Muhammadiyah Sesalkan Penggunaan Gas Air Mata Tangani Kerusuhan di Kanjuruhan
Dokter Spesialis Alergi dan Imunologi di NYU Langone Health, Amerika Serikat, Dr. Punyi Parikh, mengungkapkan, gas air mata bukan solusi tepat untuk melerai kericuhan massa. Gas air mata bisa berefek kesehatan jangka panjang, bahkan bukan hanya ke massa tapi juga mereka yang berada di dalam rumah.
Itu masalah yang ditemui saat era normal. Namun, saat ini penggunaan gas air mata dalam melerai massa juga bisa memperburuk virus corona.
“Gas air mata, asap, atau iritasi pernapasan lainnya dapat meningkatkan risiko Covid-19 dengan membuat saluran pernapasan lebih rentan terhadap infeksi, memperburuk peradangan yang ada, dan menyebabkan batuk,” kata Punyi, melansir laman ProPublica.
Baca Juga: Korban Jiwa Tragedi Kanjuruhan Terus Bertambah, Umat Islam Bisa Lakukan Hal Ini
Orang yang terpapar gas air mata rentan tertular influenza, pneumonia, dan penyakit lainnya. Gas air mata adalah istilah umum untuk kelas senyawa yang menyebabkan sensasi terbakar. Ada kandungan bahan kimia yang disebut CS (2-chlorobenzalmalononitrile) dalam gas air mata.
Sven-Eric Jordt, seorang profesor anestesiologi di Duke University mengatakan, CS mengaktifkan reseptor rasa sakit tertentu. “Tapi CS jauh lebih kuat, hingga 100.000 kali lebih kuat dari sengatan wasabi. Mereka benar-benar gas saraf nyeri. Gas air mata dirancang untuk menimbulkan rasa sakit,” ucapnya.
(jqf)