LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM, menjelaskan penyebab terjadinya
pandemi kuman super alias
superbug di
India. Superbug merupakan bakteri luar biasa yang tidak bisa mempan dengan antibiotik.
Kasus itu pertama kali ditemukan di
India sebelah barat. Di wilayah itu terjadi infeksi di sebuah rumah sakit di Maharashtra. Para dokter berjibaku dengan ruam infeksi
superbug yang kebal antibiotik.
“Bahkan di Kolkata, 6 dari 10 pasien yang dirawat di ICU sudah tidak mempan antibiotik,” kata Zubairi melalui akun twitter-nya, dikutip Kamis (13/10/2022).
Baca Juga: India Dilanda Pandemi Kuman Super Kebal Antibiotik, Ribuan Orang Terinfeksi
Kuman dari pandemi superbug ini bermacam-macam. Ada yang disebut
Staphylococcus aureus dan
Acinetobacter baumannii. Kedua kuman ini menyebabkan pneumonia.
“Efeknya terhadap pasien ya harus dipasang ventilator dan berisiko meninggal. Bisa juga kuman bernama e.coli (
Escherichia coli) maupun
Klebsiella pneumoniae. Ini juga menyebabkan orang harus dipasang ventilator,” ucap Zubairi.
Dalam beberapa kasus di India didapati resistan terhadap antibiotik yang kuat dan yang baru bernama Carbapenem. Data menunjukkan, dalam setahun terakhir telah terjadi kenaikan 10% yang resistan.
“Ini masalah berat banget di dunia, khususnya di India,” ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam tersebut.
Baca Juga: Menkes: WHO Pihak Berwenang Menyatakan Pencabutan Status Pandemi Covid-19
Beratnya bagaimana? Zubairi mencontohkan kasus di Kolkata. 65% Orang yang terinfeksi di wilayah itu bisa diatasi dengan antibiotik lini 1. Namun, sekarang angka itu menurun. Pasien yang berhasil diobati dengan antibiotik lini 1 hanya 43%.
“Resistan terhadap antibiotik ini sebetulnya masalah natural. Artinya bakteri kan prinsipnya juga ingin tetap hidup, sehingga membuat dirinya menjadi resistan terhadap antibiotik. Namun, menjadi masalah besar, ketika angka kejadiannya amat dipercepat oleh salah guna antibiotik,” kata Zubairi.
Salah guna yang dimaksud adalah antibiotik yang digunakan tidak pada tempatnya. Misalnya infeksi virus, tapi diberikan antibiotik. Pada awal pandemi Covid-19, banyak sekali pasien mendapat antibiotik macam-macam. Itu yang menyebabkan perubahan dalam resistensi kuman.
“Dampaknya, pasien menjadi lebih lama saat dirawat di rumah sakit akibat resistan ini. Karena lama di rumah sakit, biaya untuk pasien menjadi bertambah, dan angka kematian juga menjadi lebih tinggi,” ujar Zubairi.
Baca Juga: Jokowi Isyaratkan Pandemi Akan Berakhir dalam Waktu Dekat
Menurut Zubairi, resistensi terhadap antibiotik bisa terjadi di manapun. Bisa di India, Amerika, Indonesia, dan sebagainya. Zubairi juga menyampaikan, resistensi itu tidak bergantung usia. Artinya dari bayi baru lahir sampai usia lanjut berisiko resistan terhadap antibiotik.
“Pesannya adalah kita harus mulai lebih hati-hati dalam memakai antibiotik. Kalau tidak ada indikasi dan resep dari dokter, ya jangan konsumsi, atau jangan juga melanjutkan resep antibiotik milik salah satu teman atau keluarga—karena merasa punya penyakit sama,” kata Zubairi.
(jqf)