LANGIT7.ID, Canberra - The Australian Prudential Regulation Authority (APRA) mengesahkan lisensi
bank syariah pertama di Australia. Bank Islam Australia akan menguji beberapa produk di negeri Kangguru tersebut.
Beberapa produk yang akan diuji seperti pembiayaan pembelian rumah dan tabungan dan rekening harian untuk beberapa nasabah. Pengujian ini dilakukan sebelum peluncuran resmi ke publik.
Kabar tersebut menjadi berita gembira bagi muslim Australia. Seperti Reeam dan Fouad Alameddine yang mengaku senang karena bisa membeli rumah.
“Ini tentunya memberi harapan bahwa suatu hari kami bisa membeli rumah impian kami dan tidak harus menyewa dan berpindah-pindah,” kata Reem, dikutip BBC News, Jumat (14/10/2022).
Baca Juga: BSI: Kelahiran Perbankan Syariah Tak Lepas dari Peran Ulama
CEO Bank Islam Australia, Dean Gillespie, menjelaskan, skema pembiayaan pembelian rumah sebagai "model kepemilikan bersama", nasabah dikenakan biaya sewa dari properti untuk membeli saham kepemilikan bank, bukan bunga.
"(Nasabah) bisa mulai dengan deposit 20 persen, yang artinya mereka sudah bisa memiliki 20 persen rumahnya dan bank akan memiliki 80 persen sisanya. Yang bisa dibeli (nasabah) adalah saham dari properti tersebut dari waktu ke waktu,” kata Dean.
Saat nasabah membayar sewa, saham mereka untuk properti itu juga naik, sampai mereka menjadi pemilik seutuhnya.
Sesuai dengan hukum Islam, bank juga dilarang berhubungan dengan beberapa industri berbau judi, alkohol dan pornografi. Maka itu, bank Islam menolak berbisnis dengan perusahaan besar yang rekam jejaknya bermasalah.
Baca Juga: Prinsip Ekonomi Syariah Diterapkan di Barat tapi Tak Menyeluruh di Indonesia, Mengapa?
"Kami mendengar cerita bagaimana ada orang yang menyimpan uang di bawah kasur atau dalam brankas di rumah karena mereka merasa tidak nyaman menyimpannya dalam sistem bank konvensional. Ini menjadi sesuatu yang kami harap bisa perbaiki,” ujarnya.
Non Muslim Pun TertarikModel ini juga telah mengundang ketertarikan nasabah non-Muslim. Dean mengaku terus dihubungi ekspatriat Australia yang tinggal di Timur Tengah dan sudah menggunakan produk keuangan syariah.
"Mereka ada di daftar tunggu kami dan mengatakan, 'kami suka saja dengan etika di balik produk ini,” kata Dean.
Dean mengatakan bank tersebut akan dibuka untuk publik pada tahun 2024. "Sudah ada enam atau tujuh bank yang berbeda di Inggris, tapi tidak ada yang seperti ini di Australia," katanya.
Baca Juga: Pemerintah Dinilai Tak Serius Besarkan Perbankan SyariahMenurut sensus terbaru, terdapat lebih dari 813.000 umat Muslim di Australia, atau setara dengan 3,2 persen dari total populasi. Profesor Mehmet Ozalp, Direktur Pusat Studi Islam di Charles Sturt University mengatakan, pembangunan
bank syariah akan menguntungkan nasabah.
"Pada tahun 2024, akan ada satu juta Muslim di Australia. Perlu ada kompetisi dalam ruang bank dan keuangan syariah supaya mereka bisa mendapatkan tawaran dan pelayanan terbaik di bidangnya,” katanya.
(jqf)