LANGIT7.ID, Boyolali - Siapa yang tidak terhibur dengan nyanyian merdu burung kicau? Burung kicau di kalangan pehobinya memiliki nilai lebih karena mampu menghilangkan stres, bahkan mampu menghasilkan rupiah.
Dari sekian banyak jenis burung kicau yang ada, burung kenari cukup diminati dikalangan pehobi burung di Indonesia. Selain memiliki irama kicau yang merdu, kenari lokal di pasaran juga memiliki harga relatif terjangkau, berkisar antara Rp300-500 ribu.
Namun, harga itu tidak berlaku untuk kenari hasil ternakan muslim asal Boyolali. Biasa disapa Wahyu Peyang, dari hasil ternakan kenarinya ia biasa memasarkan anakan dengan harga Rp1,7-2 juta.
Hal itu disebabkan peternakan Berkah Canary miliknya ini fokus kepada peternakan kenari impor, seperti Yorkshire asal Eropa. Keunggulan kenari jenis ini ialah memiliki postur tubuh yang lebih besar, dengan kicauan yang nyaring diikuti irama yang lebih baik dibandingkan kenari lokal.
“Peminatnya cukup banyak dari kalangan pehobi terhadap kenari impor. Tidak lain karena penampilannya yang cantik dan besar, terlebih kicau nyanyian kenari impor dianggap lebih baik dan merdu. Bisa dibilang cengkok kenari impor itu lebih banyak bagusnya,” ujarnya dikanal Youtube CapCapung.
Baca juga: Inovasi Tempe Unik, dari Berbentuk Pesawat hingga Kura-kuraMuslim tiga anak ini mengaku mendapatkan ilmu seputar kenari berkat pergaulannya bersama dengan komunitas sesama pehobi. Dari situ, ia mulai mempelajari karakter dari burung kenari yang kemudian diaplikasikannya ke dalam perawatan sehari-hari.
Baginya merawat peliharaan, khususnya burung kenari perlu dilakukan dengan ketulusan. Entah nantinya bakal menjadi burung yang memiliki kicauan yang baik atau pun tidak.
“Kalau kita tulus, sekali pun burung tidak punya bakat berkicau atau susah diternak, itu tidak akan membuat kita mudah menyerah. Nanti ketika sudah mendapatkan hasil yang diinginkan, kita akan mendapatkan sebuah kepuasan yang luar biasa,” ujarnya.
Kegagalan menjadi hal yang sering dialaminnya, dari membeli burung yang tidak memiliki performa baik, hingga kematian. Wahyu menuturkan, dalam pemeliharaan makhluk hidup erat kaitannya dengan sebuah nyawa.
“Jika mau untung besar, otomatis risiko juga besar. Tapi kalau sudah berhasil, seperti saya di sini bisa memasarkan kenari anakan hasil breeding berkisar antara Rp1,7-2 juta. Sementara untuk burung lomba tidak memiliki patokan harga yang pasti. Ada burung lomba saya baru-baru ini ditawar orang Medan Rp15 juta, belum deal karena saya minta Rp20 juta,” ujarnya.
Baca juga: Bermodal Rp50 Ribu, Mahasiswa Ini Miliki Omzet Jutaan dari Bisnis Hasil LautKesuksesan Wahyu tidak terlepas dari beragam kendala yang selama ini juga masih sering dialaminya. Ia menuturkan, kenari yang bisa bertelur belum tentu bisa dierami indukannya, ketika indukan sudah mulai mengerami belum tentu menetas, dan ketika menetas belum tentu anakannya hidup sampai dewasa.
Untuk itu, lanjut Wahyu, dalam proses breeding perlu mencocokkan antara tingkat birahi kenari jantan dan betina. Ketika sudah didapatkan, kenari bisa melakukan proses perkawinan selama tiga kali sehari dan bertelur selama tiga hari dari proses perkawinan.
Setelah itu, dilanjutkan dengan proses pengeraman oleh induk selama 14 hari hingga telur menetas. Perlu dipersiapkan pakan khusus bagi indukan betina untuk proses meloloh anakannya, seperti pemberian jagung dan telur puyuh.
“Kalau breeding dengan indukan trah juara, telur belum menetas pun di sini sudah banyak yang inden. Pecinta burung kicau memang banyak yang tertarik untuk memiliki keturunan dari trah burung kenari juara, genetik menjadi pengaruh yang kuat dalam kualitas burung kenari,” jelasnya.
Selain menjadi peternak burung kenari, Wahyu juga merupakan pemain aktif dalam perlombaan burung kicau kelas kenari. Ia menuturkan, sudah terjun selama delapan tahun dalam dunia lomba burung kicau, khususnya kenari.
Ia mengaku menjalankan hobi dengan apa adanya. Seiring berjalannya waktu, sejak mulai merangkak dari nol, Wahyu memantapkan hatinya untuk menjadi peternak burung kenari dengan latar belakang prestasi. Sebab, kualitas burung kenari dilihat dari berbagai aspek, seperti durasi kerja, tingkat kegacoran burung, kestabilan saat mengikuti lomba, irama lagu, gaya dan volume saat berkicau.
“Motor dulu sempat tidak punya, sekarang Alhamdulillah dari kenari bisa punya motor, tempat peternakan ada, semoga saja rezeki terus bertambah, dan jual-beli burung kicau tetap lancar. Bagi saya kejujuran itu modal utama,” ujarnya.
(zul)