LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden Joko Widodo pernah mengangkat santri menjadi salah satu menteri di kabinetnya. Dia adalah Mohamad Nasir yang menjabat sebagai Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) periode 2014-2019.
Mohamad Nasir memulai karir di dunia perkantoran sebagai seorang profesional. Namun, kembali ke kampus membuka jalan hidup pria kelahiran Ngawi, Jawa Tengah, 27 Juni 1960 itu.
Dari Dosen menjadi Dekan hingga diangkat menjadi Rektor Universitas Diponegoro Semarang. Puncaknya, Presiden Jokowi memintanya menjadi Menristekdikti.
Nasir dibesarkan dalam lingkungan pendidikan agama yang kuat. Dia dididik di lingkungan pesantren. Pendidikan menengah pertama ditempuh di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Mambaul Ilmi Asyar'i, Rembang. Dia melanjutkan SMA di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Kediri.
Baca Juga: Pendidikan di Gontor Putri Tempa Elizabeth Diana Dewi Jadi Diplomat
Setelah itu, dia mengambil kuliah di bidang ekonomi di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), Jawa Tengah. Dia lulus pada usia 28 tahun. Dua tahun setelah wisuda, dia bekerja sebagai auditor di kantor akuntan publik.
Dia sempat menjadi manajer keuangan sebuah perusahaan di Pekalongan. Dia bahkan pindah dari perusahaan ke perusahaan lain. Setelah pindah-pindah itu, dia kembali ke dunia peendidikan.
Pada 1990, dia menjadi dosen tetap jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi Undip. Dia juga berkesempatan kuliah magister di UGM dan doktor di Malaysia.
Identitasnya sebagai santri Nahdlatul Ulama (NU), tak menghalangi karir Nasir di kampus. "Di kampus saya dikenal sebagai orang NU. Tapi, saya jadi orang NU yang profesional. Itu yang selalu saya tonjolkan di kampus," kata Nasir, di kanal Fraksi PKB DPR RI, dikutip Selasa (18/10/2022).
Baca Juga: Mengabdi untuk NKRI, Alumni Ngruki Jadi AKBP, TNI hingga Profesor
Dia mulai menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Akuntansi berlanjut menjadi Ketua Program Magister Akuntansi, lalu naik jadi Pembantu Rektor II Bidang Keuangan dan Sumber Daya) Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (2011-2014), dan akhirnya menjadi Rektor Undip pada Oktober 2014.
"Saya berhenti jadi Pembantu Rektor II pada 2010. Saya diajak lagi untuk menjadi pembantu Rektor II, tapi saya berhenti. Saya ingin jalur profesional lagi, pengen dunia usaha," ucap Nasir.
Namun, belum sempat kembali ke dunia profesional, Nasir terpilih menjadi Rektor Undip 9 September 2014. Rencananya, dia dilantik pada 18 Desember 2014. Tiga pekan sebelum dilantik jadi Rektor, pada 26 Oktober, dia diminta Presiden Joko Widodo untuk menjadi menteri.
Baca Juga: 7 Pejabat Publik Alumni Gontor, dari Eksekutif hingga Yudikatif
Pada 27 Oktober 2014, Nasir dilantik menjadi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dalam Kabinet Kerja 2014-2019.
"Saya sudah rancang, saya ingin jadikan Undip sebagai
cyber campus. Tapi saya ditelpon oleh Pak Jokowi. Jam 3.30 WIB, saya bangun, saya lihat ada telepon, ternyata dari protokol kepresidenan, diminta ke Istana Negara," kata Nasir.
(jqf)