LANGIT7.ID - , Jakarta - Komika
Dzawin Nur Ikram seringkali membawakan tema santri dan pesantren di beberapa penampilannya. Tak heran, karena Dzawin merupakan lulusan Pesantren La Tansa, Banten dan alumnus
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Khususnya saat ia berkompetisi sebagai komika di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Kompetisi ini pun menjadi awal perjalanan karir Dzawin sebagai
komika Indonesia.
Baca juga: Kisah Achmad Rofiq dari Pesantren hingga Merambah Dunia AnimasiSalah satu materi yang cukup menggelitik adalah saat ia menceritakan anak pesantren bermain bola. Materi tersebut bermula dari Dzawin yang menceritakan tentang
timnas U-19 yang dinilai jauh lebih baik dari generasi sebelumnya.
Menurut Dzawin, dalam materinya tersebut, tim ini jauh lebih
religius dilihat dari kebiasaan mereka yang kerap
sujud syukur ketika berhasil mencetak gol.
Kemudian dia pun membandingkan saat santri bermain bola, yang membutuhkan waktu lebih lama.
"Tapi kalau di
pesantren gua, kita kalau main bola harus membutuhkan waktu lebih lama. Soalnya kalau habis ngegol-in kita sujud syukur sekaligus
salat sunnah dua rakaat, kadang-kadang kita
salat Ju'mat," ungkap Dzawin dalam tayangan YouTube Stand Up Kompas TV dikutip Sabtu (22/10/2022).
Spontan ungkapan Dzawin tersebut disambut gelak tawa para penonton satu studio. Terutama saat Dzawin mempraktekkan layaknya ustaz yang hendak mengatur shaf untuk bersiap
salat berjamaah.Baca juga: Unik dan Laris, Sarung Motif Luar Angkasa ala Komika Tretan MuslimMelihat tingkah Dzawin di atas panggung itu pun membuat suasana menjadi pecah.
Pemilik hobi naik gunung ini memang dikenal tak pernah gagal dalam membawa gelak tawa penonton dan penggemarnya. Gaya Dzawin yang sederhana menjadi ciri khas pemuda kelahiran 1991 hingga aktif menjadi pembuat konten di YouTube.
Bahkan, kini channel YouTubenya Dzawi Nur memiliki subscriber mencapai 1,79 juta. Tak hanya menjadi pelawak tunggal, Dzawin juga kerap terlihat bermain di beberapa film, mengisi acara televisi, serta menulis karya berupa buku berjudul Santri Jahil Iyah.
Baca juga: Sukses Berbisnis, Milenial Jebolan Pesantren Jadi CEO Startup(est)