LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Majelis Etik Nasional Aliansi Jurnalis Indpenden (AJI) yang sebelumnya merupakan Ketua Umum AJI, Abdul Manan, merupakan
alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Jawa Timur sejak 1987 hingga 1993. Saat menjadi santri di Nurul Jadid, dia mengaku mendapatkan dua pengalaman penting.
"Secara kepribadian, itu melatih kemandirian. Kedua, banyak belajar tentang agama," kata Manan kepada Langit7.id, Senin (24/10/2022).
Rumah Manan terletak di Probolinggo, sekitar 1-2 jam perjalanan dari Pesantrennya. Meski tak terlalu jauh dari rumah dibanding banyak santri lain, orang tua hanya sebulan sekali menjenguk. Itu membuat Manan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Ditambah kondisi finansial keluarganya pas-pasan.
Baca Juga: Novi Basuki: Santri Jadi Pakar Tionghoa, Tempuh S1 Sampai S3 di Cina
"Kita juga dilatih untuk hidup berhemat agar uang sangu bisa bertahan sampai akhir bulan. Seringkali uang itu habis sebelum waktu orang tua datang tiap awal bulan. Itu juga melatih kemandirian sendiri secara ekonomi, bagaimana bisa makan" ujar Manan.
Meski begitu, Manan tak pernah berputus-asa. Bagi dia, pengalaman hidup di pesantren membentuk karakter kemandirian saat terjun di tengah masyarakat. Berbagai pekerjaan dia lakukan untuk bertahan hidup.
"Dulu yang saya sering lakukan adalah kerja bangunan yang upahnya adalah mendapatkan makan malam," ujar Manan.
Selain kemandirian, penanaman nilai agama di pesantren juga sangat membekas dalam kehidupan Manan. Dari bangun tidur sampai tidur kembali diisi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti belajar dan memperdalam ilmu agama.
Baca Juga: Pesantren Ini Ajarkan Bahasa Mandarin hingga Kirim Santri Kuliah ke Cina
"Kalau belajar agama, sudah pasti ya. Dari salat subuh sampai jam 10 malam, itu isinya kan belajar. Mulai dari ngaji pagi, sekolah sampai jam belajar wajib malam sampai jam 10 malam," tutur Manan.
Tertarik Jurnalistik Sejak di PesantrenBagi Manan, banyak aktivitas di pesantren yang membuatnya tertarik menjadi jurnalis. Salah satu kebiasaan yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan minat ini adalah membaca koran saat di pondok.
"Jadi, di depan sekolah SMA, itu dekat kamarku, tiap pagi selalu ada koran Jawa Pos. Salah satu aktivitas rutin pagi saya adalah membaca koran itu, mulai dari cerpen, opini sampai berita," kata Manan.
Kebiasan itu yang memantik kecintaannya pada dunia jurnalistik. Saat duduk di bangku SMP Nurul Jadid, dia sudah aktif di buletin IQRO. Saat naik tingkat di SMA Nurul Jadid, dia juga aktif menulis di mading sekolah dan majalah tipis yang dibuat masing-masing kelas.
Baca Juga: Santri Pesantren Nurul Jadid Probolinggo Terpilih Jadi Menteri
Kombinasi itu yang membentuk kebiasaan dan kecintaan pada dunia jurnalistik. Faktor terbesarnya karena terpengaruh dari membaca koran, karena itu yang menjembataninya untuk mengetahui dunia luar. Itu juga membangun keinginan dan kecintaan untuk melakukan hal yang sama kelak nanti.
"Begitu lulus SMA NJ tahun 1993, saya kuliah ke Surabaya. Ikut UMPTN untuk ambil Fisip (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) dan HI (Hubungan Internasional) di Unair, tapi tidak lulus. Akhirnya saya memilih Stikosa AWS, kampus yang dikenal melahirkan banyak wartawan," ujarnya.
Dari Santri Jadi Ketua AJIManan menceritakan, Ponpes Nurul Jadid merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang menerapkan sistem pesantren modern. Nurul Jadid mengombinasikan pembelajaran agama dengan skill pengetahuan modern, di antaranya beroganisasi.
"Salah satu aktivitas yang masih saya ingat pada masa saya adalah ada kegiatan latihan pidato minimal tiap pekan secara bergiliran, latihan musyawarah, serta aktivitas lain di OSIS," ungkap Manan.
Baca Juga: Pilot Pesawat Kepresidenan RI Ternyata Seorang Santri
Pengalaman itu yang membentuk skill dasar berorganisasi dan menumbuhkan kecintaan untuk berorganisasi. Dia aktif sebagai pengurus OSIS saat duduk di bangku SMA. Meskipun, aktivitas paling intens yang dilakukan Manan berhubungan dengan dunia tulis-menulis di lembaga penerbitan.
"Semua pengalaman itu membekali saya dengan skill berinteraksi dengan orang lain, bernegosiasi, mengatur dan mengatasi masalah," kata Manan.
Kecintaan itu berkembang semasa kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS). Di semester awal dia aktif di unit kerohanian, sebelum akhirnya menjadi ketua unit kerohanian Islam di Senat Mahasiswa dan berlanjut menjadi ketua Senat Mahasiswa saat semester 5 atau 6.
"Naluri berorganisasi itulah yang kemudian berkembang saat menjadi wartawan. Begitu jadi wartawan sebagai koresponden Majalah DPR di Surabaya, saya aktif di Surabaya Press Club sebagai sekretaris atau bendahara begitu," ucap Manan.
Baca Juga: Faank Ungkap Wali Terinspirasi Dakwah Lewat Musik dari Sang Kiai
Manan ikut kongres AJI kedua saat masa di bawah tanah yakni pada 1997. Usai ikut kongres itu, dia mendapat mandat membentuk AJI Surabaya yang diketuai Zed Abidien, dan dia dipercaya menjadi Sekretaris. Setelah itu, hingga kini Manan masih aktif di AJI.
Saat pindah ke Jakarta, dia dipercaya menjadi pengurus AJI Jakarta. Setelah itu, dia pindah ke pengurus nasional menjadi pengurus divisi, dari organisasi sampai keuangan. Lalu, dia menjadi Sekjen AJI 2005-2008.
"Sampai akhirnya jadi Ketua Umum 2017-2021. Setelah itu jadi Ketua Majelis Etik Nasional AJI sampai sekarang," ucap Manan.
(jqf)