LANGIT7.ID, Jakarta -
Kementrian Agama (Kemenag) menentukan waktu salat subuh di jam minus 20 derajat. Keputusan ini ditetapkan meski demikian banyak perbedaan pendapat lainnya.
Menurut Kasubadit Hisab Rukyat dan Pembinaan Syariah, Ismail Fahmi jika semua pendapat dimasukkan
adzan akan ramai. Berdasarkan pemikiran tersebutkan membuat Kemeng memutuskan memakai satu waktu saja yakni minus 20.
"Cuma kalau semuanya masuk dari 13 hingga 20 maka adzan akan ramai. Makanya yang kita pilih satu saja, toh semuanya benar. Cuma memang harus dipilih salah satunya, semua ada dasarnya, ada patokannya dan patokannya semuanya benar," ujar Ismail dalam webinar bertajuk 'Waktu Shalat Salah?' pada Rabu (2/11/2022).
Baca Juga: Keistimewaan Salat 2 Rakaat sebelum Subuh, Jangan Skip"Waktu subuh ini memang beragam sekali dari mulai minus 13, 14, hingga 20 derajat. Sampai segitunya sains menjelaskan tentang fenomena waktu subuh. Terkait hal ini semua kriteria akan ada dan selama ini kita sudah berjalan adalah pada kriteria minus 20,"lanjut dia
Untuk menentukan keputusan, Kemenag melakukan kajian bahkan tidak hanya mereka kajian juga dilakukan oleh tingkat perguruan tinggi, ormas dan lainnya. Hal itu mereka lakukan meski sudah mengetahui kebenarnnya.
"Dan memang karena kita tahu bahwa minus 20 derajat shodiq itu muncul. Sudah ada ketentuannya dan memang kalau kita telusuri dari abad 13 Hijriyah, sebetulnya polemik waktu subuh sudah ada cuma memang kita akan kembali kepada kemaslahatan umat," katanya.
Maka itu, hal ini bukan sesuatu yang tidak ada, lalu dijadikan standar. Bahkan jika telusuri dari kajian ulama-ulama sebelumnya, memang semuanya ada.
"Tidak ada kata-kata tidak pernah di observasi, sebetulnya penentuan minus 20 di Mesir itu adalah berdasarkan hasil kajian, begitu pula pendapat-pendapat ulamanya sampai di Indonesia minus 20 pun yang menjadi acuan Kementerian Agama setelah dikaji, alhamdulillah hasilnya adalah valid bahwa fajar itu memang muncul pada minus 20," ucapnya.
"Dan bervariasi ada minus 19, 18 dan lainnya, terkadang tergantung dengan posisi matahari dan juga iklim yang ada," pungkas Ismail.
(bal)