LANGIT7.ID, Jakarta - Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang memiliki sikap suka menghindari diri dari interaksi dengan orang lain? Orang biasanya menyebutnya dengan
isolasi sosial.Isolasi sosial tidak sama dengan kesepian. Isolasi sosial lebih kepada perasaan di mana Anda merindukan kontak sosial. Meski demikian, kesepian dapat terjadi sebagai konsekuensi alami dari isolasi.
Tetapi seperti kesepian, isolasi dapat berdampak luas pada kesejahteraan secara keseluruhan.
Lantas, apa efek isolasi sosial?Merujuk dari Healthline, isolasi sosial memiliki konsekuensi atau efek besar bagi kesehatan fisik dan mental.
Baca juga: 5 Etika Mencari Harta yang Diajarkan dalam IslamKesehatan fisikIsolasi dapat mengurangi kemungkinan untuk mengurus diri sendiri, sebab tidak ada orang lain yang menawarkan dukungan atau motivasi. Menurut Asosiasi Jantung Amerika, orang yang terisolasi secara sosial cenderung mengalami makan lebih sedikit buah dan sayuran, kurangi aktivitas fisik, dan jarang periksa kesehatan.
Selain itu, isolasi juga dapat meningkatkan stres dan peradangan. Semakin Anda tidak terhubung secara sosial, maka semakin sulit bagi tubuh untuk mengatasi kelelahan akibat stres kronis. Akibatnya, tingkat peradangan meningkat, yang dapat merusak sel-sel tubuh dan berpotensi berkontribusi pada masalah kesehatan.
Kesehatan mentalDalam sebuah penelitian pada tahun 2020, dampak kurungan isolasi bagi orang-orang di lembaga pemasyarakatan menemukan isolasi yang intens dapat menyebabkan: kecemasan, depresi, kehilangan identitas, paranoid, halusinasi, dan pikiran untuk bunuh diri.
Memang, kebanyakan orang tidak akan pernah mengalami isolasi total dari sel isolasi. Namun, isolasi sosial jangka panjang masih dapat menyebabkan banyak gejala ini, bahkan tanpa kesendirian total.
Terdapat lima kelompok yang beresiko mengalami isolasi sosial, diantaranya;
Baca juga: Tanda Kasih Sayang Allah adalah Kuatkan Hati Hamba-NyaOrang dewasa yang lebih tua Seiring bertambahnya usia, lingkaran sosial akan mengecil karena telah pensiun, kehilangan anggota keluarga yang lebih tua dan lainnya. Maka itu, mereka cukup rentan.
Kelompok terpinggirkanOrang-orang yang secara teratur menghadapi stigma dan diskriminasi, tentunya memiliki kelompok sosial yang lebih kecil. Itu adalah pilihan mereka karena lebih merasa aman secara emosional. Selain itu, ada juga karena lingkaran sosial mengecualikannya atau mengucilkannya.
Penyandang disabilitasBahkan dengan undang-undang anti-diskriminasi yang berlaku, banyak penyandang disabilitas, terutama mereka yang menggunakan kursi roda, mengalami kesulitan menemukan transportasi yang dapat diakses, yang secara serius dapat membatasi kemampuan mereka untuk bersosialisasi secara langsung.
Orang-orang di lokasi terpencilAnggota dinas militer, pilot maskapai penerbangan, dan orang lain yang menghabiskan waktu lama jauh dari rumah dapat mulai merasa terputus dari orang yang mereka cintai.
Selain itu, orang yang tinggal di daerah pedesaan mungkin juga mengalami kesulitan membentuk lingkaran sosial yang kuat.
Baca juga: 3 Hal yang Mesti Diperhatikan dalam Perawatan RambutOrang dengan gangguan kekebalanMenurut sebuah studi tahun 2022, banyak orang dengan gangguan kekebalan merasa terkunci dari kehidupan publik sekarang karena sebagian besar masyarakat telah berhenti menggunakan masker dan tindakan pencegahan COVID-19 utama lainnya. Singkatnya, mereka tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial sehari-hari tanpa membahayakan kesehatan mereka.
(sof)