Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Pemerataan dan Kualitas yang Buruk Masih Jadi Masalah Pendidikan Indonesia

Muhajirin Selasa, 08 November 2022 - 19:37 WIB
Pemerataan dan Kualitas yang Buruk Masih Jadi Masalah Pendidikan Indonesia
Ilustrasi (foto: edupost.id)
LANGIT7.ID, Yogyakarta - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, Ph.D, menilai, sumber daya manusia yang mumpuni tidak mungkin lahir tanpa pendidikan berkualitas. Rumus itu valid untuk semua konteks, tak terkecuali di Indonesia.

Kondisi mutakhir di Indonesia paling tidak memunculkan dua isu besar pendidikan nasional. Dua isu besar tersebut menyisakan pekerjaan rumah kolektif yang harus terus memerlukan perhatian bersama.

Pertama, terkait kualitas pendidikan yang buruk. Beragam data yang mendukung kesimpulan tidak mengenakkan tersebut. Kualitas pendidikan Indonesia, jika dibandingkan dengan bangsa lain dalam beberapa indikator, belum menggembirakan.

"Kualitas ini terkait dengan banyak aspek, mulai dari hulu ke hilir,” kata Fathul, dikutip dari laman resmi UII, Selasa (8/11/2022).

Baca Juga: Ini Alasan Orang Indonesia Masih Doyan Palsukan Ijazah

Salah satu di antaranya adalah kebijakan yang jelas dan bebas kepentingan jangka pendek, kualitas pengawalan proses pembelajaran, kelengkapan infrastruktur dan fasilitas, sampai dengan kualitas dan koherensi materi pembelajaran untuk semua jenjang.

Kedua, kesempatan atau pemerataan akses pendidikan. Memperoleh pendidikan berkualitas merupakan hak seluruh anak bangsa. Maka itu, ketersebaran geografis, keterjangkauan biaya, dan ketersediaan kapasitas perlu mendapatkan perhatian serius negara.

"Saat negara belum sanggup karena keterbatasan kapasitas, maka kehadiran masyarakat mengisi ruang itu perlu disambut hangat dan dirayakan. Tidak boleh sebaliknya, dipersulit dengan kekangan regulasi yang menyita ruang inovasi,” ucap Fathul.

Baca Juga: Kritik Cak Nun ke Sistem Pendidikan Modern: Singkirkan Perdagangan dari Pendidikan

Maka itu, negara harus memberikan anggaran yang masuk akal untuk membiayai pendidikan nasional. Anggaran itu juga harus digunakan tepat sasaran dan bebas kebocoran. Ini sangat penting.

Apalagi, ketika anggaran yang ada bahkan masih terbatas,” ucap Fathul. Tantangan Zaman

Dua masalah pendidikan nasional itu perlu dilengkapi dengan peneropongan masa depan. Setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Sesuatu yang valid dan cukup pada masa lalu, belum tentu relevan untuk masa kini, demikian juga untuk masa depan.

“Karenanya, untuk merespons perubahan yang sangat cepat dan menyiapkan diri untuk masa depan, perlu dilakukan beragam upaya,” ujar Fathul.

Peta jalan yang digariskan Unesco pada 2020 dalam laporan bertajuk Education for Sustainable Development bisa dijadikan rujukan awal. Tentu dengan tetap membuka ruang kontekstualisasi.

Baca Juga: Pendidikan di Indonesia Tak Seindah Amanat Konstitusi

Menurut Fathul, kesadaran akan pentingnya pembangunan yang berkelanjutan menjadi pijakan dalam mendesain peta jalan. Terdapat empat area prioritas yakni transformasi lingkungan pembelajaran, peningkatan kapasitas pendidik, pemberdayaan dan mobilisasi pemuda, serta akselerasi aksi tingkat lokal.

Transformasi lingkungan pembelajaran dapat dilakukan dalam beberapa aspek. Di antaranya aspek lingkungan pedagogi, konten pembelajaran, dampak pembelajaran, dan berujung pada transformasi sosial.

“Semua ini harus dibingkai dengan kesadaran pentingnya pembangunan berkelanjutan. Pembelajaran harus mencakup beragam dimensi: kognitif, sosial dan emosional, juga perilaku," ujar Fathul.

Pendidik yang berkualitas menjadi faktor kritikal dalam peningkatan kualitas pembelajaran secara khusus dan pendidikan secara luas. Beragam inisiatif harus diambil dalam ini, baik melalui peningkatan tingkat pendidikan, penguasaan teknologi pembelajaran, sampai dengan kecakapan dalam memotivasi dan memperdayakan anak didik.

Baca Juga: Adian Husaini: Sekolah Bukan Pabrik, Murid Bukan Produk

Perhatian lebih juga perlu diberikan kepada pemuda. Pemuda memiliki posisi sentral dalam kemajuan sebuah masyarakat. Mereka adalah anak didik yang membutuhkan fasilitas dan aspiran yang mengharapkan pendampingan.

Selain itu, sensitivitas terhadap masalah lokal dan nasional juga perlu diasah. Hanya dengan demikian, kehadiran pendidikan menjadi relevan, karena berandil memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat.

“Sekaligus meningkatkan kesejahteraan (masyarakat). Penjaminan kualitas artefak akademik dan lulusan, karenanya, penting untuk dipastikan,” pungkas Fathul.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)