alexametrics
Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 26 November 2022
home community detail berita

Filantropi dan Pembinaan

redaksi Selasa, 08 November 2022 - 20:02 WIB
Filantropi dan Pembinaan
Salah satu kegiatan yang digagas Indonesia Care dalam membantu sesama (foto: Indonesia Care)
LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia diterpa publikasi yang intens dari majalah Tempo. Tak cukup sekali pemuatan, beberapa kali malah. Isu yang dipublikasikan memang “seksi”. Bagi mass media, “seksi” itu salah satu ukurannya, menyangkut hajat dan curiousity orang banyak.

Isu transparansi keuangan dalam pengelolaan dana masyarakat, niscaya menjadi perhatian umum, seperti pilihan majalah Tempo itu, pada publikasinya pada tahun 2022 beberapa bulan yang lalu.

Ya. Tahun 2022 menjadi tahun suram filantropi. Aksi Cepat Tangga[/ACT, Sebuah lembaga pegiat filantropi, terjerumus malpraktik pengelolaan dana sosialnya setelah 17 tahun sejak berdirinya. Sampai narasi ini saya tulis, saya dengar sudah berjalan proses hukum setelah diinvestigasi pihak Bareskrim (Badan Reserse Kriminal) Polri.

Narasi Tempo, secara intens dipublikasikan –sekaligus menjadi prahara filantropi. Benar bahwa Aksi Cepat Tanggap/ACT, setelah dipublikasikan Tempo, menagguk dampak publikasi itu. ACT dan “dosa-dosanya”, publikasi Tempo seketika “menghapus prestasi kemanusiaan ACT”.

Baca juga: Baznas Konsisten Terapkan Prinsip 3A dalam Pengelolaan Zakat

ACT telah berkiprah berdiri 21 April 2005, sekitar 17 tahun sejak berdirinya, karena kekhilafan sebagian orang di ACT, lembaga itu dibubarkan atas dugaan penyelewengan (wikipedia.org, diakses 31 Oktober 2022).

Kesalahan dan Edukasi

Setelah lama berkutat di lembaga sosial-kemanusiaan, pekan lalu saya diminta menjadi juri IFA (Indonesia Filantropi Award) 2022. Mendengar ajakan sekaligus tawaran menilai lembaga sosial itu, impresinya beda, pun dalam praktik juga berbeda. Secara praktis, saya “menilainya” sebagai obyek amatan dan penilaian yang harus saya upayakan seobyektif mungkin; dan secara praktis pula –iklim filantropi itu sendiri sudah makin kompleks. Dari aspek yang harus dievaluasi itu sendiri, juga makin kompleks, menuntut penghayatan dan penelaahan lebih mutakhir.

Situasi ini membawa dampak terstimulisinya empati atas proses pengelolaan filantropinya sendiri. Dalam hati saya muncul perasaan, ”inilah institusi yang menabalkan tekad “mengapresiasi” lembaga filantropi.” Dulu, inisiatif itu pernah dijalankan oleh sebuah lembaga yang diayomi sebuah direktorat dalam lembaga zakat nasional (LAZNAS).

Direktorat inilah yang selama beberapa tahun –memberikan apresiasi filantropi, melakukan awarding pada event nasional di tempat perhelatan publik yang representatif. Pada fase berikutnya, direktorat itu tidak lagi melakukannya –mungkin tidak disupport lembaga zakat itu—lalu event serupa dilakukan secara independen.

Hal itu lalu dilakukan Institut Fundraising Indonesia (IFI) berkantar pusat di Depok – Jawa Barat. Konten dan spektrum evaluasi dan dinilai kian kompleks, isu-isu dan pusat perhatian yang hendak didalami pun semakin luas. Maka, saya memahami --institusi pelaku awarding itu menjejakkan pesan kuatnya: siapa lagi kalau bukan kita sendiri mengapresiasi ikhtiar kebaikan.

Mereka juga menegaskan tekadnya untuk menjadi lembaga qualified, berwibawa dan dipercaya publik. Dalam technical meeting penjurian itu, salah seorang dewan juri (telah beberapa kali diminta menjadi juri mengatakan) mengatakan, ”Aspek-aspek yang dinilai jangan terus bertambah, kita juga jaga agar lembaga ini bisa tetap bisa menjaga kualitas penilaian, juga secara internal para penilai juga menyadari kapasitasnya juga punya keterbatasan dalam menilai. Ada beberapa hal yang mereka kuasai, dan pada beberapa hal yang lain tidak mereka kuasai,” kata Ahmad Juwaini, kata praktisi yang kini menjadi direktur Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Pusat.

Baca juga: Indonesia Filantropi Award Apresiasi Sekaligus Mitigasi Filantropi

Ahmad Juwaini yang pernah menjadi Pimpinan Dompet Dhuafa–yang pernah menjadi benchmark banyak lembaga zakat dan filantropi—beliau sendiri telah menyelesaikan studi tingkat doktoralnya.

Dompet Dhuafa (DD) sendiri, beberapa kali mengalami penyegaran pimpinan. Yang saya ketahui, pimpinan pertamanya, Erie Sudewo, mengakhiri kepemimpinan atas kemauannya sendiri –setelah memimpin DD --10 tahun lamanya. Beliau dengan keputusan itu, menjejakkan keteladanan.

Pengakhiran masa kepemimpinan di DD secara mandiri, menjadi teladan organisasi ini melakoni self controllship, hal yang dicontoh lembaga filantropi lainnya. Publik pun mengenal Erie Sudewo sebagai figur teladan yang terkenal kaya gagasan, dan relatif prudent dalam mengelola amanah.

Sejumlah aspek yang menjadi teladan para filantrop, menunjukkan bagaimana lembaga filantropi unjuk transparan dalam memihaki kaum dhuafa, dan independen.

Saya tergelitik untuk mengeksplorasi aspek regulasi, yang dalam filantropi Islam diampu departemen agama RI, dan dalam filantropi umum diampu departemen sosial RI. Di tangan menteri agama dan menteri sosial, kedua ranah filantropi itu laik mendapat edukasi, bukan mengedepankan “menghukum”.

Keterlanjuran yang membawa ekses traumatic, bak bencana alam yang membawa kematian. Saya setuju menjadikan efek jera bagi pelanggar pengumpulan dana masyarakat. Namun, menjadikan efek jera, menghukum pengemplang dana sosial dan dana keagamaan saja, baru satu aspek dari peran regulator. Hal yang tak kalah penting, mengedukasi pegiat dan pelaku filantropi (keagamaan maupun umum). Edukasi adalah never ending process, never ending improvement. Biarkan publik memahaminya hal itu.

Mitigasi Bencana Filantropi

Kembali pada penjurian event fundraising award 2022. Saya dilibatkan untuk memahami dan mengerti keseriusan penilaian dan penjuriannya. Lembaga ini, IFI atau Institut Fundraising Indonesia berikhtiar menghadirkan ajang apresiasi untuk lembaga filantropi di Indonesia, bukan saja bagi lembaga filantropi yang eksis di Jakarta, tapi juga di daerah-daerah.

Sebagai lembaga kebaikan sekelompok orang yang mewadahi gerakan konsisten, memilih ranah sangat langka: mengedukasi filantropi, lalu melakukan awarding. Langkah itu sangat impacful terlebih ketika institusi filantropi diterjang tsunami. Kerja-kerja istiqamah para praktisi filantropi itu --yang berjibaku tanpa henti dalam sepi, menjadikan pekerjaan itu tetap “perhelatan senyap”, karena keseriusannya mengedukasi publik pada gilirannya melahirkan transparansi dan responsibilitas.

Dengan kata-kata fundraising dana publik, IFI meneruskan apa yang pernah dirintis lembaga Zakat Nasional (DD) melalui salah satu lembaga bentukannya –Inspirasi Melintas Zaman (IMZ)--menyapa publik secara swadaya, tanpa panduan, tanpa pembinaan dan arahan. Dari masyarakat (Indonesia) untuk masyarakat (dan dunia).

Baca juga: Relawan Indonesia Care Cs Gelar Trauma Healing di Bogor

Menjadi salah satu juri Indonesia Fundrasing Award 2022/IFA, menjadikan saya tak punya alasan apapun untuk menolaknya.

Saya berefleksi dan berempati, pada masa yang cukup panjang, lembaga-lembaga sosial-kemanusiaan itu telah bekerja dalam senyap. Event penjurian lembaga-lembaga itu membuat batin saya berkata, mereka bekerja mandiri, dan ada institusi yang mau “memanggungkan” kerja-kerja senyap mereka, menjadi pemantik perhatian khalayak.

Jelas ini ikhtiar selebrasi yang indah penuh makna, menjadikan “kegembiraan menolong” sebagai event, bahkan secara regular dievaluasi. Indonesia Fundraising Award/IFA, 2022, pantas dikatakan mitigasi tsunami filantropi.

Pada pekan-pekan pertama peristiwa itu, ketika majalah Tempo memublikasikan peristiwa itu, secara berentet terjadi pembekuan sepihak, dimarakkan pemberitaan akan adanya 176 lembaga tanpa menyebutkan nama lembaganya, pihak regulator menyebutkan, lembaga-lembaga itu punya modus serupa ACT –tanpa menyebutkan nama lembaganya.

Maka, pantaslah saat saya mengatakan, IFA 2022 laksana mitigasi atas tsunami filantropi. Proses penjurian IFA Award 2022 terasa elegan, “perlawanan anggun atas sikap regulator”, alih-alih membina, yang terjadi malah membinasakan. Masyarakat filantropi Indonesia, seraya menyayangkan sikap pemberangusan lembaga filantropi, pada sisi lain mensyukuri ada ikhtiar konsisten mengedukasi khalayak, juga regulator sendiri untuk cermat menunjukkan itikad legalnya sebagai regulator.

Baca juga: Indonesia Care dan PKBI Beri Layanan Kesehatan Gratis ke Warga Prasejahtera

Ambillah porsi yang wajar dan sepatutnya selaku regulator. Tunjukkan peran pemerintah untuk menyemarakkan semangat menstimulasi kebaikan, kesalihan sosial, kedermawanan sebagai hal yang tak kalah pentingnya dengan penegakan hukum.

Tidak berlebihan jika IFI memperoleh support “paket” edukasi pula dari regulator, sebagai institusi non government yang telah melakoni aktivitas yang baik ini. Paling tidak, kedua departemen ini; departemen agama RI dan departemen sosial RI, tahu dan unjuk peduli dengan ikhtiar IFI. Sebagai penilai independen, IFI telah unjuk kebaikan yang untuk itu layak memperolah support aktivitasnya oleh dua pihak sebagai regulator filantropi: departemen agama RI dan departemen sosial RI.

Filantropi dan Pembinaan

Penulis:
Iqbal Setyarso
Penasihat Yayasan Indonesia Care

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
right-1 (Desktop - langit7.id)
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 26 November 2022
Imsak
03:56
Shubuh
04:06
Dhuhur
11:43
Ashar
15:07
Maghrib
17:56
Isya
19:10
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan