LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (PUI), KH Nurhasan Zaidi mengatakan, Hari Pahlawan tak hanya sebagai momen untuk mengingat kembali jasa para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan. Melainkan juga sebagai motivasi kepada generasi bangsa untuk membangun dan memajukan bangsa Indonesia lebih baik.
"Supaya kesinambungan perjuangan bangsa ini, umat ini tidak terputus karena spirit sejarah ini jangan dilupakan. Karena Bung Karno sendiri mengatakan 'Jasmerah' jangan lupakan sejarah," kata Nurhasan saat di wawancara
Langit7.id, Jumat (11/10/2022).
Dia menuturkan, bahkan Rasulullah SAW berdakwah mensyiarkan agama Islam berdasarkan Al-Qur'an yang sebagian besarnya berisikan tentang semangat perjuangan para Nabi terdahulu.
"Ketika Allah menyampaikan cerita-certia di dalam Al-Qur'an tentang Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, itu kan tentang narasi sejarah. Maksudnya agar Nabi Muhammad dan umatnya ke depan mengambil spirit perjuangan tauhid," ujarnya.
Baca Juga: Waketum PBNU: Muhammadiyah Kakak Kandung KamiNurhasan menambahkan, setelah diangkat sebagai Nabi, Rasulullah SAW sukses menyelesaikan dakwahnya di Kota Makkah karena kegigihannya dan pantang menyerah. Di sisi lain, peran nasab dan sejarah turut membantu Nabi SAW dalam berdakwah di Kota Makkah.
Hal ini dikarenakan penduduk Kota Makkah memiliki nasab dan sejarah yang sama dengan Rasulullah SAW, yakni memiliki garis keturunan Nabi Ibrahim AS.
"Nabi bisa meraih hati seluruh suku karena kesaman nasab, kesamaan sejarah," jelasnya.
Kiai Nurhasan pun berpesan dari kisah tersebut agar seluruh generasi penerus bangsa tidak melupakan sejarah dan terus mengingat jasa para pahlawan sebagai motivasi untuk Indonesia lebih maju. Terlebih dalam mensyiarkan agama Allah.
"Jangan melupakan kelanjutan dari perjalanan bangsa ini. Apalagi bangsa ini jasa para ulama, para santri, para mujahidin," jelasnya.
Dia turut berpesan agar generasi penurus selalu mengingat sejarah sebagai pembelajaran. Karena dengan memahami sejarah akan muncul rasa motivasi untuk memajukan bangsa yang hebat, sebab setiap sejarah dan masa depan memiliki kesinambungan.
"Berpikir ke depan kalau basic-nya tidak berpikir ke belakang (sejarah) akan nyasar. Karena ke depan ini tidak mungkin nyambung kalau tidak ada proses dari belakang," ujarnya.
Baca Juga: Daniel Mananta Sowan ke UAS, Kunjungi Masjid hingga Makan Durian Bareng(zhd)