Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Pengasuhan Positif dari Orang Tua Lahirkan Generasi Berkualitas

Muhajirin Sabtu, 19 November 2022 - 04:00 WIB
Pengasuhan Positif dari Orang Tua Lahirkan Generasi Berkualitas
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Orang tua memiliki peran penting dalam menentukan tumbuh kembang sang anak. Namun, posisi anak bagi orang tua juga harus dipahami agar mudah menerapkan pendidikan yang terbaik.

Anak bagi orang tua adalah tempat curahan kasih sayang, sebagai rahmat dan amanah Allah SWT, penyambung keturunan dan cita-cita dan salah satu unsur kebahagiaan. Kehadiran anak juga sebagai tempat bergantung di hari tua, ujian keimanan, media untuk beramal dan bekal di akhirat.

Namun, ada beberapa persoalan-persoalan yang dihadapi dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Banyak orang tua yang mengalami jebakan sehingga tidak memberikan pendidikan kepada anak.

Baca Juga: Pesan Ustadz Adi Hidayat untuk Orangtua: Tak Ada Anak yang Nakal

Pertama, orang tua yang sibuk atau merasa sangat sibuk, sehingga tidak punya waktu lagi untuk memberikan perhatian kepada pendidikan anak-anak. Kedua, orang tua melimpahkan tanggungjawab ke pihak lain, biasanya adalah sekolah atau madrasah.

Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan, Dr. H. Khamim Zarkasih Putro mengatakan, ada beberapa hal penting yang harus dipahami orang tua dalam mendidik anak. Dia mencotohkan salah satu hikmah yaitu saat pandemi Covid-19.

"Orang tua jadi menyadari untuk kembali ke posisi, bahwa tanggungjawab pendidikan ada di orang tua. Sekolah hanya untuk perpanjangan tangan saja," kata Khamim dalam webinar yang diadakan Islamic Studies Forum (ISF), dikutip Jumat (18/11/2022).

Persoalan ketiga adalah orang tua yang terlalu posesif atau sangat mengekang, sehingga sang anak tidak bisa berkembang dengan baik. Keempat, orang tua biasanya terlalu memanjakan fasilitas yang berlebihan, namun kurang diikuti dengan pengawasan yang proporsional. Hal itu membuat anak tidak berkembang sesuai dengan harapan orang tua.

"Namun, untuk hal-hal yang esensial justru sangat perhitungan alias pelit. Kadang-kadang orang tua sangat longgar untuk memberikan fasilitas yang tidak bermakna, tapi untuk hal penting tidak mau mengeluarkan uang," ujar Khamim.

Jebakan lainnya yaitu kurangnya sinergitas dan sikap negatif terhadap manajemen sekolah atau madrasah. Meskipun saat ini ada perguruan parenting yang mencoba mempertemukan antara sekolah dan orang tua, tetapi masih ada gap kesenjangan sosial dalam praktiknya.

"Siapapun dia, setiap anak Indonesia terlahir cerdas. Lemah di satu sisi, jenius di satu sisi lain. Tugas orang tua adalah mengoptimalkan kehebatan dan meminimalkan kelemahan anak," ungkap Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Baca Juga: 3 Pesan Al-Qur’an agar Rumah Tangga Sakinah Mawaddah Warahmah

Menurut Khamim, banyak lembaga pendidikan yang ingin mengoptimalisasikan apa-apa yang tidak dimiliki oleh anak sehingga tidak bisa maksimal. Sementara, potensi-potensi yang bisa dikembangkan malah tidak disentuh. Itu salah satu tragedi pendidikan formal yang terjadi sekarang ini.

Lalu, apa yang harus diberikan orang tua untuk memberikan dukungan terhadap pendidikan anak?

Orang tua harus memberikan keteladanan dan pengawasan positif, kepedulian dan kasih sayang, serta dialog dan komunikasi empatik. Orang tua juga harus memberikan pembiasaan, penginspirasian dan pemotivasian, penanaman nilai dan norma agama, serta dukungan yang optimal terhadap pengembangan potensi dan jatidiri positif.

"Secara khusus bagaimana kita memberikan pengasuhan yang positif kepada anak,” ujar Khamim.

Salah satu cara yang ditempuh oleh orang tua untuk mengoptimalisasikan pendidikan anak adalah dengan memberikan pengasuhan yang positif. Pengasuhan positif bisa dilakukan ketika orang tua bisa menerapkan tiga poin, yakni head (kepala), hand (tangan), dan heart (hati).

"Jadi, kalau ditanya apa itu pengasuhan yang positif? Pengasuhan positif adalah pengasuhan berdasarkan kasih sayang, saling menghargai, membangun hubungan yang hangat antara anak dan orang tua, saling membangun, serta mendukung tumbuh kembang anak," lanjut Khamim menerangkan.

Selain itu, perlu ada pendekatan yang mengedepankan penghargaan, pemenuhan, dan perlindungan hak anak, serta kepentingan terbaik anak. Perlu juga upaya untuk memberikan lingkungan yang bersahabat dan ramah, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang lebih baik.

Dalam hal ini, Khamim menuturkan bahwa yang perlu diperhatikan adalah pola asuh. Pola asuh merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak dalam mendukung perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual, dan spiritual sejak anak dalam kandungan sampai dewasa.

"Sehingga, anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, sehat, berbudi pekerti yang luhur, dan berakhlak mulia," sambung Khamim.

Baca Juga: Psikolog Sarankan Orangtua Dukung Minat Anak dari Sekarang

Orang tua tidak bisa menjalankan pengasuhan positif dengan maksimal bila tak mendapatkan dukungan orang-orang sekitar. Setidaknya ada tiga tempat pengasuhan positif dapat dilakukan. Pertama, di lingkungan rumah.

Pengasuhan positif di lingkungan rumah melibatkan orang tua, saudara, kakek-nenek, dan semua orang dewasa yang ada di dalam rumah. Kedua, lingkungan sekolah.

"Di sini yang berperan adalah guru, kepala sekolah, administrator, dan warga sekolah lain. Ketiga, lingkungan masyarakat, yakni tetangga dan orang-orang yang ada di sekitar tempat tinggal," lanjut Khamim.

Prinsip utama dalam pengasuhan positif yaitu memperlakukan anak dengan cinta dan kasih sayang, penghargaan dan saling memaafkan, bebas dari tindakan kekerasan, dan tidak membeda-bedakan. Kemudian, orang tua harus menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak.

Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari menjaga keharmonisan keluarga, memebuhi kebutuhan anak, melakukan stimulasi/pendidikan sesuai dengan tahap perkembangan anak, dan memberikan perlindungan dari tindakan kekerasan.

"Tetap tenang saat menghadapi situasi sulit adalah salah satu kunci keberhasilan dalam penerapan pengasuhan positif," ucap Khamim.

Lebih lanjut, Khamim menjelaskan cara orang tua menerapkan pengasuhan positif dengan memberikan keteladanan yang baik, pembiasaan baik, pengasuhan tanpa kekerasan, dan melakukan pengasuhan secara berkelanjutan.

"Apa harus dipahami orang tua? Di antaranya memahami tahap perkembangan anak, memahami cara berkomunikasi efektif, dan memahami tentang disiplin positif," tuturnya.

Baca Juga:

4 Alasan Utama Pendidikan Islam Penting untuk Anak-Anak

Pentingnya Belajar Agama Sekeluarga di Tengah Kesibukan Kerja


(gar)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)