LANGIT7.ID - , Jakarta -
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 terjadi di wilayah Cianjur, Jawa Barat, pada Senin 21 November 2022. Tak sedikit rumah warga yang hancur dan
korban jiwa akibat guncangan gempa.
Dalam hal ini, pentingnya peran
Early Warning System (EWS) atau Sistem Peringatan Dini di wilayah rawan bencana seperti Indonesia. EWS merupakan serangkaian sistem untuk memberitahukan timbulnya kejadian alam.
Sebagai informasi, Indonesia terletak di zona Ring of Fire, yakni terdapat banyak gunung api aktif. Aspek geografis ini menyebabkan Indonesia rawan bencana gempa bumi dan tsunami.
Baca juga: BMKG: Waspada Bencana Susulan Longsor dan Banjir Bandang Usai Gempa CianjurPeringatan dini atas bencana merupakan tindakan memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dicerna. Dulu, dalam keadaan kritis, secara umum peringatan dini diwujudkan bentuk sirine, kentongan, dan lain sebagainya.
Seiring berkembangnya zaman, masyarakat bisa mendapatkan informasi jelang bencana alam melalui media sosial yang dikirim oleh EWS.
Dengan demikian, bencana alam dapat ditanggulangi sedini mungkin. Namun masih banyak yang salah paham dengan cara kerja EWS.
Melansir dari Science Exchange, Selasa (22/11/2022) sejatinya EWS tidak dapat memprediksi gempa bumi. Sebaliknya, mereka dengan cepat mendeteksi gerakan tanah saat gempa bumi dimulai.
Lalu EWS dengan cepat mengirimkan peringatan akan ada getaran lebih kuat dan memberi orang detik-detik penting untuk bersiap.
Peringatan tersebut akan ditanggapi oleh badan penganggulangan bencana di setiap negara untuk disampaikan ke masyarakat melalui media sosial atau aplikasi yang telah dibuat.
Baca juga: Berkah Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana Jika Tak Dikelola dengan BaikMenurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa bumi memang tidak dapat diprediksi, oleh siapapun, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya.
Gempa bumi terjadi akibat deformasi batuan secara tiba-tiba pada sumber yang sebelumnya mengalami akumulasi medan tegangan (stress) di zona tersebut. Pengaruh penjalaran stress untuk proses selanjutnya secara kuantitatif masih sulit untuk diketahui.
Teori yang berkembang saat ini baru dapat menjelaskan, gempa bumi utama dapat membangkitkan atau memicu aftershocks. Ini masih sulit untuk memperkirakan rentetan gempa tektonik dalam waktu dan lokasi yang relatif berdekatan.
Kendati demikian, secara tradisional ada tanda-tanda tertentu dari alam yang menunjukkan akan terjadinya bencana. Layaknya EWS secara modern, gejala-gejala alam akan memeringatkan manusia untuk bersiap hadapi bencana.
Mengutip dari Pemda Kebumen, ada beberapa tanda yang ditunjukkan secara alami tergantung kategori bencananya. Berikut penjelasannya.
1. Gejala Letusan Gunung Api
Saat gejala letusan gunung api hewan-hewan yang berada di dalam hutan keluar dari hutan menuju wilayah yang lebih rendah. Selanjutnya, suhu udara terasa sangat panas di malam hari dan meningkat drastis dibanding hari-hari biasa.
Baca juga: 7 Provinsi Status Siaga, BMKG: Waspada Bencana Hidrometeorologi
2. Gejala Gempa Bumi (Tektonik)
Selanjutnya, apabila akan terjadi gempa bumi, awan akan menunjukkan bentuknya seperti angin tornado. Hewan-hewan berperilaku aneh dan gelisah bahkan menghilang serta berlarian.
3. Gejala Tsunami
Saat gejala tsunami, hewan-hewan laut keluar dari persembunyiannya ke permukaan. Terdapat gempa dengan kekuatan besar lalu air laut tiba-tiba surut hingga beberapa ratus meter.
Jelang bencana ini, burung-burung terbang dengan kecepatan tinggi ke arah daratan. Selain itu, udara berbau asin (air garam) dan angin berhembus dingin menyengat.
Terdapat pula suara dentuman seperti meriam di dasar laut atau yang sangat banyak dengan irama cepat.
Baca juga: Mengenal RUBI, Program Rumah untuk Penyintas Bencana(est)