LANGIT7.ID, Jakarta - Maskapai penerbangan, AirAsia Group mengalami pelanggaran data pribadi berupa serangan ransomware oleh Daixin Team. Kebocoran data pribadi yang diretas berisi 5 juta penumpang serta karyawan AirAsia.
Situs DataBreaches mendapatkan kiriman data sampel dari Daixin Team dalam dua file berformat .csv. Dokumen tersebut juga dikirimkan oleh kelompok peretas tersebut ke AirAsia Group.
Dokumen pertama, berisi data penumpang. Sementara dokumen kedua mencakup informasi karyawan, yakni rincian nama, tanggal lahir, negara tempat lahir, lokasi, tanggal mereka mulai bekerja dan "pertanyaan rahasia" beserta jawabannya.
Baca Juga: Situs Resmi Presiden Tak Bisa Diakses karena Belum Bayar Sewa DomainMenurut juru bicara kelompok peretas tersebut, ketika menerima data sampel, AirAsia bertanya teknis penghapusan data perusahaan di sistem Daixin apabila maskapai sanggup membayar biaya tebusan. Namun AirAsia tidak menegosiasikan biaya tebusan.
Hal tersebut dinilai sebagai indikasi perusahaan tidak berniat membayarnya. "Biasanya orang-orang menegosiasikan harga agar menjadi lebih murah," kata juru bicara Daixin dikutip dari laman DataBreaches, Kamis (24/11/2022).
Meski melakukan eksploitasi data, tim peretas menghindari penguncian XEN, RHEL atau tuan rumah peralatan terbang, seperti radar, kontrol lalu lintas udara, dan semacamnya. Peretas telah menyatakan menghindari mengenkripsi atau menghancurkan apa pun jika dapat mengancam jiwa.
Serangan
ransomware menggunakan file jahat yang bisa mengenkripsi semua data di server korban. Sehingga mereka harus membayar uang tebusan agar bisa mengakses kembali data.
Baca Juga: Bjorka Kembali Berulah, Bocorkan 44 Juta Data Diduga Pengguna MyPertaminaSelain membocorkan data penumpang dan karyawan AirAsia tim peretas mengancam akan mengungkap lebih banyak data termasuk informasi pintu belakang (
backdoors) jaringan AirAsia Group ke forum peretas.
Sejatinya, tim peretas Daixin Team sudah menjadi buronan Badan Intelijen AS (FBI), Badan Siber AS (Cybersecurity and Infrastructure Security Agency/CISA), serta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (Department of Health and Human Services/HHS).
Kelompok peretas diklaim sebagai organisasi kejahatan dunia maya yang aktif menargetkan entitas Amerika Serikat. Peretasan kerap fokus pada sektor kesehatan menggunakan
ransomware dan operasi pemerasan data.
Baca Juga:
Kebocoran Data Terjadi Lagi, Pakar: Segera Bentuk Lembaga Pengawas UU PDP
Laman PT LIB Kena Retas, Hacker Tulis Pesan Kekecewaan(gar)