LANGIT7.ID, Jakarta - Belum banyak orang yang memiliki kesadaran terkait pentingnya kesehatan mental dalam diri. Beberapa faktor yang menjadi penyebabnya adalah belum adanya kesempatan dan porsi khusus yang diberikan untuk memberikan pelajaran terkait pentingnya kesehatan mental dalam jiwa.
Kekeliruan soal anggapan gangguan jiwa juga terkadang masih menjadi persoalan. Beberapa di antara masyarakat masih menganggap remeh soal tingkatan gangguan jiwa kaitannya dengan kesehatan mental, sebagian lainnya juga terlalu mengandalkan tenaga kerja di bidang tersebut, seperti psikolog atau pun psikiater.
Padahal masalah gangguan mental sebenarnya bisa dicegah melalui pendidikan dan bidang ajaran ilmu khusus terkait kehidupan. Berangkat dari keresahan tersebut, Ifandi Khainur Rahim atau akrab disapa Evan, mulai memikirkan cara membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental dalam diri.
Lewat startup Satu Persen ia mulai membagikan ilmu kejiwaan melalui konten kreatif yang ia unggah di kanal Youtube Satu Persen. Ya, perusahaan rintisannya ini melakukan mentoring secara daring dengan mengandalkan tren digital. Hal itu dilakukannya karena memang transformasi digital belakangan ini menjadi pelarian banyak orang untuk menghabiskan sebagian besar waktu mereka.
“Tujuan utama dibentuknya Satu Persen, karena sistem pendidikan saat ini dirasa banyak melewatkan hal penting dalam kehidupan, mulai dari kesehatan mental, pengenalan diri, dan cara berkarir yang tidak pernah diajarkan dalam sekolah,” ujarnya di kanal Youtube Youth Diary.
Porsi pendidikan Indonesia hingga saat ini didominasi oleh pembelajaran yang lebih menitikberatkan kepada ilmu pengetahuan secara akademis. Baginya, hal itu bukanlah sesuatu yang salah, hanya saja porsi tersebut memang dirasa cukup terlalu berlebihan.
“Bisa jadi ilmu itu malah tidak pernah digunakan di masa depan dan akhirnya menyebabkan banyak orang di luaran sana yang tidak siap dalam menjalankan kehidupan. Satu Persen dibuat untuk memberikan pelajaran yang tidak didapatkan di sekolah,” ujarnya.
Sebenarnya ada tiga masalah soal kesehatan mental di Indonesia, yaitu infrastruktur yang ada saat ini masih belum cukup memenuhi kebutuhan. Di mana Rumah Sakit Jiwa belum secara keseluruhan dimiliki di setiap provinsi.
Kedua, psikolog dan psikiater. Hal ini dilihat dari tenaga kerja di bidang kesehatan mental yang totalnya baru mencapai 5.000 psikiater di Indonesia.
“Buat saya ini merupakan sesuatu yang mendesak. Bisa dibayangkan dengan total tenaga kerja psikiater hanya 5.000 orang, itu tidak sebanding dengan tingkat depresi Indonesia yang mencapai angka 10 juta orang,” ujarnya.
Ketiga, kesadaran masyarakat. Kebanyakan masyarakat Indonesia belum memikirkan betapa pentingnya gangguan mental. Begitu juga sebaliknya, sebagian orang bahkan berpikir setiap ada gangguan jiwa maka secara tergesa mengandalkan psikiater.
“Padahal sebenarnya tidak juga, masih banyak tenaga kerja lain, seperti kita mulai sesuatu dari pemberian pendidikan yang tepat,” katanya.
Satu Persen juga hadir dalam memberikan pelatihan kepada mitranya untuk meningkatkan kualitas. Bahkan, ia mengaku seleksi terhadap mitra yang dilakukan cukup ketat, sebab dalam hal ini kuantitas mitra saja tidak cukup, tapi bagaimana mitra yang ada bisa memiliki kualitas yang baik.
Satu Persen selalu menyajikan konten dengan berbasis data dan fakta yang ada. Semua itu dilakukan oleh tim riset dan pengkajian demi memberikan konten kesehatan mental yang tepat sasaran.
Pemuda yang juga aktif menulis ini tadinya berencana akan mendirikan sekolah fisik yang isinya soal pembelajaran soal kehidupan. Namun, seiring berjalannya waktu ia juga perlu menghadirkan sesuatu yang lebih efektif dan efisien melalui platform digital. Di mana orang bisa belajar dalam waktu singkat tentang keterampilan kehidupan sesuai dengan karakter masing-masing individu.
Sebagai Founder dan CEO Satu Persen, Evan, sapaan akrabnya menuturkan, Satu Persen berdiri sejak Agustus 2018. Melalui media sosial, mentoring secara online, dan kelas offline, Satu Persen memiliki visi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia setidaknya Satu Persen setiap harinya.
Selain melakukan mentoring via Youtube, Satu Persen kini juga mulai merambah ke Instagram, dan Twitter untuk mendapatkan
awareness dan
engagement masyarakat yang lebih luas. Ia berharap melalui mentoringnya, setiap orang bisa lebih baik satu persen setiap harinya.
“Sehingga jadinya nanti bukan 100 persen, tapi mungkin bisa lebih baiknya mencapai 1.000 persen. Tujuan utama kami salah satunya adalah agar orang bisa mengontrol secara penuh terhadap apa yang menjadi bagian dari hidupnya. Di mana mereka bisa bertanggung jawab dari pilihan hidup yang mereka pilih,” ujarnya di kanal Youtube Filantropi.
Alumni Psikologi Universitas Indonesia ini juga mengaku, mentoring yang dilakukan oleh Satu Persen bukan bersifat kuratif yang lebih menitikberatkan kepada pengobatan terhadap orang yang sudah memiliki gangguan. Melainkan mentoring bersifat promotif, yang lebih berfokus kepada meningkatkan kualitas hidup seseorang. Selain itu, Satu Persen juga menyasar kepada mereka dengan rentang usia remaja SMA hingga paruh baya.
Walaupun menghadirkan mentoring dalam bentuk daring, tapi bisa dikatakan strategi yang dilakukannya cukup berhasil. Sebab, jika dihitung dari jumlah subscribers yang menjadi salah satu tolak ukur engagement, channel Satu Persen sudah mencapai angka 1,5 juta pelanggan.
Berkat kepeduliannya dalam bidang pendidikan sosial, muslim milenial yang mengaku sempat blangsak saat masih duduk di bangku SMA ini, baru-baru ini berhasil masuk ke dalam daftar tahunan Forbes dalam ’30 Under 30 Asia’ yang menampilkan 300 wirausaha muda, pemimpin dan pelopor di Asia yang berusia kurang dari 30 tahun.
Daftar tahunan tersebut memiliki beberapa kategori, di antaranya The Arts, Entertainment & Sports, Finance & Capital Venture, Media, Marketing & Advertising, Retail & E-Commerce, Enterprise Technology, Industry, Manufacturing & Energy, Healthcare & Science, Social Impact, serta Consumer Technology.
Nama Ifandi Khainur Rahim termasuk ke dalam 30 daftar nama tersebut dengan kategori social impact. Hal ini dikarenakan kontribusinya membangun startup pendidikan lewat berbagi konten pendidikan di channel Youtube Satu Persen.
Tidak heran memang, prestasinya saat di akademisi juga memang tidak bisa diremehkan. Dilansir dari blog pribadinya ifandikhainurrahim.com, Evan mengaku menjadi orang yang suka menulis dan berpikir.
Alumni Fakultas Psikologi UI angkatan 2015 ini juga pernah menjadi juara kompetisi Blog Zenius yang pertama di tahun yang sama. Sejak saat itu, karirnya dalam akademisi terbilang cukup melesat.
Ia pernah menjadi Ketua Angkatan, Koordinator Keilmuan Nasional di Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI). Di mana yang paling berkesan menurutnya ialah ketika ia mulai menjabat sebagai Ketua BEM di fakultasnya pada 2018.
(jqf)