LANGIT7.ID, Cianjur -
Influencer Karin Novilda atau yang akrab disapa Awkarin ikut turun menjadi relawan membantu korban
gempa di Cianjur. Dia membantu menyiapkan makanan dan mengantarkan bantuan untuk para penyintas gempa.
“Kegiatan kami hari ini bersama kitabisacom adalah mendistribusikan makan pagi dan malam para pengungsi. Di sini ada 1,052 jiwa. 1,051 jiwa ini membutuhkan bantuan kalian,” kata Awkarin di akun Instagram-nya, dikutip Sabtu (26/11/2022).
Menurut Awkarin, bencana menguji kualitas kemanusiaan diuji ketika sekitar sedang merintih kesusahan. Maka itu, anak muda zaman sekarang harus menerapkan pemikiran untuk selalu sadar dan peduli dan juga tidak apatis. Artinya, menyadari dan peka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka.
Baca Juga: Penyintas di Cianjur Trauma Gempa Susulan, Berdesakan di Tenda Pengungsian
Termasuk di dalamnya, membantu sesama yang membutuhkan. Dimulai dari hal kecil seperti menyisihkan sedikit dari yang kita punya, kalau memang belum bisa turun ke lapangan. Belajar meletakkan kaki di sepatu orang lain.
“Bagaimana jika kamu yang bisa tidur nyenyak dan makan bisa enak yang merasakan apa yang mereka rasakan. Pasti ingin rasanya dipedulikan dan dibantu bukan? Sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang memberi manfaat bagi manusia lain,” tutur Awkarin.
Derita Korban Ditinggal Orang TercintaGempa Cianjur terjadi pada Senin (21/11/2022) tengah hari. Waktu istirahat siang. Banyak orang memanfaatkan waktu untuk tidur. Tidak ada pikiran akan terjadi guncangan magnitudo 5,6.
“Pas gempa anak saya sedang tidur, ternyata itu tidur selamanya,” kata salah seorang korban, sebagaimana penuturan Awkarin.
Baca Juga: Korban Meninggal Akibat Gempa Cianjur Bertambah Capai 310 Jiwa
Kehilangan buah hati sangat menyesakkan dada. Tak hanya korban, para relawan pun mengalami kisah-kisah yang membuat dada menciut. Sedih dan hanya mampu mendoakan serta membantu seadanya.
Awkarin juga bercerita usai gempa mengguncang Cianjur pada siang hari. Malam tiba, para relawan relawan tidur berdampingan dengan enam jenazah dan puluhan pengungsi di tengah kebun.
Para orang tua hanya bisa duduk bersimpuh di hadapan jenazah anak mereka, menangis dalam diam di tengah lenggang malam dan kepadatan tenda pengungsian. Tidak hanya itu, banyak pengungsi yang terluka parah.
Baca Juga: Ulama dan Asatidz Terjun Dampingi Pengungsi Gempa Cianjur
Di sudut tenda, seseorang meringis kesakitan karena bekas luka. Tim medis mengerahkan segala upaya meski stok obat-obatan kian menipis.
“Sedang kami semua tidak punya pilihan selain berlindung bersama di tenda yang seadanya. Para orang tua dan anak mereka yang terluka saling mendekap, dingin, lelah, dan ketakutan tergambar jelas di wajah mereka,” tulis Awkarin.
(jqf)