LANGIT7.ID - , Jakarta -
Arsitek dan Desainer Interior Yuli Andyono menyebut
rumah limas atau limasan menyimpan
filosofi yang kurang lebih mirip dengan Joglo. Rumah tradisional ini terdiri dari lima tingkat dengan makna dan fungsi yang berbeda-beda.
"Biasanya desain bangunan limas itu pakai filosofi Kekijing. Memakai itu karena tiap ruangannya diatur berdasarkan usia, jenis kelamin, bakat, pangkat, serta martabat. Kalau secara sederhana ada penggolongan. Jadi beda-beda sih sama bangunan pada umumnya," ujar Yuli kepada Langit7, Selasa (29/11/2022).
Dia melanjutkan, limasan semacam bentuk lain dari rumah joglo, namun berbeda. Perbedaannya ada pada bagian atap rumah limasan yang terlihat mirip dengan atap rumah tradisional Sumatera Selatan.
Baca juga: Rumah Limasan di Era Modern, Gaya Hidup Merawat TradisiDi bagian atap, lanjut Yuli, terlihat
ornamen simbar berbentuk tanduk dan melatih. Selain sebagai ornamen, simbar ini berfungsi sebagai penangkal petir.
Ada berbagai makna dari ornamen ini, tergantung dari jumlah simbarnya. Menurut Yuli, simbar dua tanduk bermakna Adam dan Hawa. Sementara simbar tiga tanduk mewakili arti matahari, bulan, dan bintang. Empat simbar diartikan sahabat nabi dan lima tanduk melambangkan rukun Islam.
Umumnya, kata arsitek sekaligus founder Indonesian Writers INC ini, struktur rumah limas dibangun menghadap ke arah timur dan barat. Rumah yang mengarah ke timur disebut dengan Matoari Edop atau matahari yang melambangkan kehidupan baru.
Sebaliknya, rumah limas yang menghadap barat disebut dengan Matoari Mati yang bermakna matahari terbenam atau melambangkan akhir dari kehidupan.
Baca juga: Rumah Tradisional Cenderung Tahan Gempa, Ini Penjelasan Ahli"Struktur atap limas itu dibangun menghadap Timur dan Barat. Karena kalau Timur biasanya orang yang mempercayai itu arah matahari muncul, jadi dianggap memberikan energi positif. Kalau menghadap Barat itu artinya akhir dari kehidupan karena menghadap lokasi matahari terbenam," tandasnya.
(est)