LANGIT7.ID - , Jakarta -
Gumoh atau
spitting up merupakan keluarnya sebagian susu saat atau setelah bayi menyusu. Umumnya gumoh dialami
bayi hingga anak usia satu tahun dan merupakan hal yang lumrah terjadi.
Meski begitu, sebagian orang tua masih terlihat panik saat menjumpai anaknya mengalami gumoh yang cukup sering. Selain itu, kepanikan tersebut disebabkan ketidaktahuan orang tua untuk membedakan antara gumoh dan muntah.
Dokter spesialis anak,
dr Kurniawan Satria Denta atau biasa disapa dr Denta menjelaskan perbedaan antara gumoh dan muntah.
Baca juga: Atas Izin Allah, 7 Bayi Ini Bisa Bicara Menurut Beberapa RiwayatMenurut dr Denta, gumoh terjadi pada saat bayi bersendawa atau saat tersedak dan juga ketika menangis. Berbeda halnya dengan muntah yang terjadi karena adanya kontraksi dan dorongan dari perut bayi.
Penyebab gumoh, lanjut dr Denta, karena lambung bayi terlalu penuh dengan cairan atau udara. Biasanya hal ini terjadi saat menyusui, di mana udara juga ikut masuk ke lambang. Sebab lain yang disebutkan dr Denta adalah katup bayi yang belum rapat.
"Katup antara lambung dan saluran esofagus bayi belum bisa betul-betul rapet, makanya isi lambung akan rentang untuk balik ke atas lagi, melalui esofagus dan keluar dari mulut, atau istilah kerennya refluks," kata dr Denta melalui keterangan tertulis yang diterima Langit7, Kamis (1/12/2022).
"Makanya gumoh itu umum terjadi pada bayi di awal-awal, sebulan dua bulan, terus makin lama makin berkurang intensitas gumohnya, it’s okay," sambung dokter yang berpraktek di rumah sakit bilangan Kuningan, Jakarta ini.
Meski termasuk umum dan wajar terjadi, lanjutnya, bukan berarti orang tua membiarkan gumoh terus terjadi. Sebab, bila terlalu sering dibiarkan gumoh akan berdampoak pada saluran cerna bayi.
"Jika terlalu sering dibiarkan gumoh, nggak bagus juga buat saluran cerna bayi. Perlu diingat jika isi lambung itu mengandung asam lambung juga. Jadi membiarkan bayi gumoh terus menerus bukan juga merupakan tiindakan yang bijak," terang dokter pemilik akun Twitter @sdenta ini.
Nah, untuk mengurangi dan mencegah kejadian gumoh pada bayi, dr Denta membagikan sejumlah cara.
Baca juga: Latih Bayi Kenali Objek Permanen dengan 5 Cara Ini
1. Ubah posisi bayi
"Jika bayi sering gumoh, perbaiki posis bayi saat menyusu agar lebih tegak. Setelah menyusui, sebaiknya yang didudukan sekitar setengah jam," kata dr Denta.
Artinya, bila Anda terbiasa menidurkan bayi setelah menyusui, ubah kebiasaan tersebut untuk mencegah bayi mengalami gumoh.
2. Sendawakan bayi
"Habis disusui, jangan lupa bayi disendawakan. Cuma kalau sudah keburu tidur, nggak usah dibangunin," lanjutnya.
3. Hindari memberi susu berlebihan
dr Denta menyarankan pada para ibu untuk jangan memberi susu secara berlebihan, terutama saat menggunakan feeding cup atau disendok.
Namun, bila gumoh pada bayi sering terjadi, sebaiknya orang tua segera berkonsultasi dengan dokter anak. Beberapa ciri gumoh yang patut diwaspadai antara lain lebih dari 2-3 sendok makan.
"Kemudian bayi tampak lemah dan sakit, kencing berkurang atau popok lebih sering kering, bayi tampak sesak napas, gumoh bercampur cairan hijau, coklat, atau hitam, darah.
Baca juga: Tips Parenting: Mulut dan Gigi Bayi Harus Dibersihkan dari Sisa MakananGejala lain yang perlu diwaspadai orang tua terkait gumoh adalah bayi tidak mau menetek, gumoh menyembur seperti muntah, pertumbuhan berat badan dan tinggi anak terganggu.
Pun begitu, dr Denta meminta orang tua tidak langsung panik dan tetap bijak dalam bertindak.
"Gumoh memang bisa bikin panik buat yang nggak biasa ngeliat, tapi Insya Allah aman. Semoga sudah bisa membedakan antara gumoh dan muntah. Biar nggak makin panik," tutup dr Denta.
(est)