LANGIT7.ID, Jakarta - Maroko menjadi negara muslim pertama yang melaju ke babak perempat final
Piala Dunia 2022. Pencapaian The Atlas Lions membawa gelombang kesadaran baru terhadap hak-hak masyarakat muslim global yang masih mengalami diskriminasi.
Misalnya, usai menorehkan kemenangan terhadap Spanyol Selasa kemarin, Pemain Timnas Maroko mengibarkan bendera Palestina selama perayaan di lapangan. Bendera Palestina sering terlihat berkibar selama Piala Dunia 2022 di Qatar.
Piala Dunia 2022 telah mempersatukan negara-negara Arab. Dubes RI untuk Qatar, HE Ridwan Hassan menilai Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 berhasil memperlihatkan wajah Islam sebagai rahmatan lil-alamin.
Baca juga: Kroasia vs Brasil: Selecao Masih Dominan Sepanjang Pertemuan Kedua Tim Baru-baru ini, Sky News melaporkan mendapat bocoran adanya keinginan sejumlah negara Arab mengenakan ban lengan kapten Anti-Islamofobia. Sky News telah mendapat salinan desain ban lengan yang menampilkan kata-kata "Tidak ada tempat untuk Islamofobia" dan menampilkan pola bendera Palestina.
Sebelum turnamen dimulai, Qatar dan negara-negara Muslim lainnya berencana mengenakan ban lengan untuk meningkatkan kesadaran tentang Islamofobia. Qatar, Arab Saudi, dan Maroko, di antara negara-negara lain, merencanakan kapten tim untuk mengenakan ban lengan anti-Islamofobia
"Sebelum dimulainya turnamen, Qatar, dan beberapa tim mayoritas Muslim lainnya, sedang dalam diskusi lanjutan mengenai apakah para pemain dapat mengenakan ban lengan yang meningkatkan kesadaran akan gerakan Islamofobia yang berkembang,” kata Seorang pejabat senior Qatar dikutip Jumat (9/12/2022).
Baca juga: Ini Isi Buku Panduan Mengenal Islam di Piala Dunia Qatar 2022 Namun, sayangnya rencana tersebut akan tidak terealisasi hingga akhior turnamen. "Ketika proposal ban lengan akhirnya dibahas dengan FIFA, mereka diberitahu bahwa itu melanggar aturan FIFA dan tidak akan diizinkan.”
"Tim-tim menerima keputusan [FIFA] tetapi kecewa karena masalah penting seperti ini, yang berdampak negatif pada jutaan Muslim di seluruh dunia, tidak diberi platform selama Piala Dunia pertama yang diselenggarakan di wilayah mayoritas Muslim," tambah pejabat Qatar itu.
(sof)