LANGIT7.ID, Palembang - Sejumlah petani di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus mengembangkan porang yang merupakan tanaman umbi-umbian yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan nilai ekonomis dari porang tersebut sangat berpotensi menambah penghasilan para petani di Bumi Sriwijaya.
“Porang sendiri salah satu tanaman sela di antara tanaman perkebunan. Nah, porang itu bernilai tinggi, makanya Disbun Provinsi Sumsel terus mengembangkan dan mensosialisasikan tanaman itu,” ujar dia, Sabtu (21/8).
Pihaknya mengaku sejauh ini sudah banyak petani, khususnya petani karet yang menanam porang di antara tanaman pokok dengan memanfaatkan bibit yang diambil dari pinggiran hutan.
Baca juga:
Nilai Ekspor Rp900 Miliar, Pemerintah Gairahkan Industri Pengolahan PorangSelain itu, kata Rudi, ada juga petani yang membelinya secara swadaya. Seperti yang dilakukan di Desa Lecah, Kecamatan Lubai Ulu, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumsel.
“Di sana itu, untuk menambah penghasilan, para warganya diajak untuk menanam porang,” ungkap dia.
Dia membeberkan, kebanyakan para petani yang sudah menanam tanaman porang dalam satu musim tanam, enam hingga 8 bulan sudah dapat menikmati hasil panennya, yakni berupa bibit baru atau dikenal dengan sebutan katak.
“Jadi, tiap batang porang itu bisa menghasilkan paling sedikit tiga bibit atau katak. Artinya, cukup sekali beli bibit, selanjutnya sudah bisa menghasilkan bibit baru tiga kali lipat berupa biji katak,” jelas dia.
![Punya Nilai Ekonomi Tinggi, Sumsel Kembangkan Porang]()
petani di Sumatera Selatan sedang menjemur porang
Bukan itu saja, sambungnya, umbi porang yang dibiarkan bakal tumbuh kembali ketika musim hujan pada bulan November dan Desember. Selain itu, juga saat musim tanam ke-dua atau dua tahun, biasanya bibit yang berasal dari katak tersebut sudah bisa dipanen.
“Kalau di kita (Sumsel), hampir di seluruh daerah, para petani sudah mulai menggarap porang. Tapi, paling banyak itu ada di Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, Kanupaten Muara Enim, dan Kanupaten Ogan Komering Ulu,” tutup dia.Punya Nilai Ekononi Tinggi, Sumsel Kembangkan Porang
Sejumlah petani di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus mengembangkan porang yang merupakan tanaman umbi-umbian yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan nilai ekonomis dari porang tersebut sangat berpotensi menambah penghasilan para petani di Bumi Sriwijaya.
“Porang sendiri salah satu tanaman sela di antara tanaman perkebunan. Nah, porang itu bernilai tinggi, makanya Disbun Provinsi Sumsel terus mengembangkan dan mensosialisasikan tanaman itu,” ujar dia, Sabtu (21/8).
Pihaknya mengaku sejauh ini sudah banyak petani, khususnya petani karet yang menanam porang di antara tanaman pokok dengan memanfaatkan bibit yang diambil dari pinggiran hutan.
Selain itu, kata Rudi, ada juga petani yang membelinya secara swadaya. Seperti yang dilakukan di Desa Lecah, Kecamatan Lubai Ulu, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumsel.
“Di sana itu, untuk menambah penghasilan, para warganya diajak untuk menanam porang,” ungkap dia.
Dia membeberkan, kebanyakan para petani yang sudah menanam tanaman porang dalam satu musim tanam, enam hingga 8 bulan sudah dapat menikmati hasil panennya, yakni berupa bibit baru atau dikenal dengan sebutan katak.
“Jadi, tiap batang porang itu bisa menghasilkan paling sedikit tiga bibit atau katak. Artinya, cukup sekali beli bibit, selanjutnya sudah bisa menghasilkan bibit baru tiga kali lipat berupa biji katak,” jelas dia.
Bukan itu saja, sambungnya, umbi porang yang dibiarkan bakal tumbuh kembali ketika musim hujan pada bulan November dan Desember. Selain itu, juga saat musim tanam ke-dua atau dua tahun, biasanya bibit yang berasal dari katak tersebut sudah bisa dipanen.
“Kalau di kita (Sumsel), hampir di seluruh daerah, para petani sudah mulai menggarap porang. Tapi, paling banyak itu ada di Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, Kanupaten Muara Enim, dan Kanupaten Ogan Komering Ulu,” tutup dia.
(sof)