LANGIT7.ID, Jakarta - Setiap muslim memiliki tanggung jawab
berdakwah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Namun pesan-pesan tersebut harus disampaikan dengan lemah lembut.
Koordinator Divisi Pembinaan Muballighot Majelis Tabligh
PP Aisyiyah, Nur Hidayani mengatakan, Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat An Nahl ayat 125 bahwa dakwah harus mesti mengedepankan cara-cara yang cerdas dan bijaksana.
"Berdakwah harus memperhatikan situasi dan kondisi mad’u (orang yang didakwahi), memberikan nasihat
ajaran Islam yang penuh dengan kasih sayang," kata Nur Hidayani dalam keterangannya, Senin (19/12/2022).
Selain itu
dakwah pun memiliki nilai edukatif yang baik dan tetap membuka ruang dialog. Seorang muslim bisa berdakwah dengan dengan cara bertukar pikiran dan membantah dengan cara-cara yang baik.
Baca Juga: 3 Tugas Manusia di Muka Bumi: Mengabdi, Menjadi Khalifah, dan BerdakwahDakwah merupakan salah satu cara untuk menyebarkan ajaran Islam kepada orang lain. Namun, tiap-tiap muslim yang ingin memberi nasihat kepada orang lain, maka ia harus selesai terlebih dahulu dengan dirinya sendiri sebelum kepada orang lain.
Nur Hidayani juga mengingatkan agar setiap dai bersikap lemah lembut dalam melakukan pendekatan serta terapi secara bertahap. Sebagaimana Allah mengajarkan Al Quran diturunkan secara bertahap yaitu 23 tahun. Pentahapan ini disesuaikan dengan konteks sosial ketika itu.
"Kita harus pegang prinsip-prinsip utama dakwah, yaitu memudahkan bukan menyulitkan, membesarkan hati bukan memberi ancaman, memahamkan bukan mendikte, dan mendidik bukan menelanjangi," ujar dia.
Belajar di Media SosialBelajar Islam di media sosial memang menjadi tren di masa kini. Namun kaum muslimin mesti bisa menyaring pesan dakwah yang didapatkan dari media sosial. Hal itu penting dilakukan agar amalan yang dilakukan tidak keluar dari jalur syariat.
Penceramah Buya Yahya mengatakan, ada banyak sekali akun media sosial yang kontennya berisi pesan dakwah. Sebagian dari konten itu merupakan penggalan konten-konten dari para ulama.
"Kita perlu sedikit berpikir agar tidak salah ketika mengamalkan amalan dari media sosial," kata dia.
Menurutnya, kesalahan mengamalkan sesuatu seringkali dikarenakan kurangnya kemauan berpikir oleh sebagian kaum muslimin. Apalagi pesan dakwah sekarang ini sangat mudah didapatkan dan tersebar luas di media sosial.
Untuk itu dia mengingatkan agar kaum muslimin bisa mengikuti ajaran dan amalan dari ulama secara langsung ketimbang dari media sosial. Sebab, pesan yang didapatkan secara langsung dari ulama lebih penting dan jelas.
"Alam nyata itu lebih penting, maka yang diutamakan adalah mengkuti ajaran ustadz yang berdakwah dan bertemu secara langsung, sekalipun dia adalah ustadz kampung," katanya.
Justru aneh, lanjut dia, saat jemaah tidak mengamalkan pesan-pesan dakwah saat dia mengikuti sebuah majelis. Sebaliknya, jemaah malah lebih mengikuti amalan-amalan yang didapatkan dari media sosial.
"Tapi kalau memang pesan di media sosial itu disampaikan oleh ulama yang bisa diketahui secara jelas sanadnya, maka boleh diamalkan," ujarnya.
Pengasuh LPD dan Pondok Pesantren Al Bahjah ini beralasan, berpikir sebelum mengikuti amalan di media sosial penting dilakukan karena di era kemudahan informasi saat ini dikhawatirkan adanya pesan dakwah tanpa sanad yang jelas.
"Karena bisa saja isi pesan dakwah itu dibuat secara asal hanya demi kebutuhan konten. Tapi kalau pesannya baik seperti membaca Al-Qur'an untuk kebutuhan tertentu, InsyaAllah boleh dilakukan, asalkan tidak bertentangan dengan syariat. Untuk mengetahui tidak bertentangan dengan syariat, tetap bertanya kepada ustadz secara langsung," imbauhya.
(bal)