LANGIT.ID, Jakarta -
Krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini mirip dengan kisah krisis di zaman
Nabi Yusuf. Kondisi ini diprediksi dari mimpi raja sehingga ada upaya berhemat.
Hal itu dijelaskan Dosen Universitas Mercu Buana, Agus Herta dalam
Diskusi Publik: Evaluasi Akhir Tahun Bidang Ekonomi dan Keuangan Negara yang diikuti
Langit7 pada Selasa, (20/12/2022).
Adapun hal itu dijelaskan dalam Al Quran dalam
surat Yusuf ayat 43, yang artinya:
“Raja berkata, 'Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus. Dan aku juga melihat tujuh tangkai gandum hijau (basah) dan tujuh tangkai gandum kering.
Wahai para pemimpin dan para pembesar yang terhormat! Berilah aku penjelasan tentang takwil mimpiku itu, jika kalian memiliki pengetahuan tentang takwil mimpi.” (QS. Yusuf: 43).
Baca Juga: Solusi Ekonomi Ala Nabi Yusuf AS dalam Menghadapi KrisisTernyata, seorang yang bisa menakwilkan mimpi raja tersebut adalah Nabi Yusuf AS. Dikatakan bahwa negaranya akan mengalami surplus bahan pangan selama tujuh tahun dan akan mengalami krisis pangan atau paceklik setelah tujuh tahun berikutnya.
Agus mengatakan, kejadian di zaman Nabi Yusuf itu mirip dengan perekonomian saat ini. Di mana siklus bisnis yang tadinya baik, menjadi penuh tantangan akibat krisis pandemi Covid-19 dan geopolitik Rusia-Ukraina.
"Krisis mungkin memang akan menghabiskan perolehan kita selama ini, tapi kita juga harus yakin akan ada kebaikan setelahnya," ujar dia.
Dia menyebutkan, masalah ekonomi yang melanda dunia saat ini bisa disebut dengan siklus Nabi Yusuf. Dalam siklus ini ada dua hal penting yang bisa mempengaruhi bisnis.
"Pertama adalah siklus ini kerap terjadi dalam dunia ekonomi dan tak bisa dihindari. Kedua, perlu peran pemerintah untuk menangani permasalahan perekonomian negara dan rakyatnya," jelas Agus.
Berkaca pada kasus di zaman nabi, bahwasannya Nabi Yusuf mengambil alih kepemimpinan dan mengelola segala sumber daya yang ada demi bisa keluar dari krisis.
"Nabi Yusuf mungkin bisa dikatakan Menteri Keuangannya saat itu. Nah di sinilah perlu peran dari Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Indonesia agar yang tadinya kondisi ekonomi tidak optimal bisa kembali optimal," ujarnya.
Berbicara kebijakan pemerintah, lanjut dia, bukan berarti fokus pada hal yang benar dan salah. Namun, dilihat dari perspektif kecocokannya terhadap situasi dan kondisi ketika kebijakan itu digunakan.
Artinya, ancaman resesi di tahun 2023 bergantung pada kebijakan fiskal yang dikeluarkan pemerintah. Untuk itu, kebijakan tersebut diharapkan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang optimal dan berkualitas.
"Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah yang mampu meningkatkan ketersediaan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat," katanya.
(bal)