LANGIT.ID, Jakarta - Fitrah manusia adalah menjalani kehidupan sesuai dengan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah alasan manusia seringkali menyesal ketika
berbuat dosa.
Rasa malu kepada Allah akan dosa ini muncul sebagai bentuk teguran dalam diri manusia itu sendiri agar kembali kepada fitrahnya. Adapun untuk membersihkan diri dari dosa yang telah perbuat yakni dengan memperbanyak istighfar dan
bertaubat.
Pendakwah
Buya Yahya menjelaskan, rasa malu, takut kepada Allah, dan selalu terbayang akan perbuatan dosa yang pernah dilakukan adalah iman.
"Bahkan depresi juga menjadi bagian dari iman ketika seseorang merasa sangat bersalah akan perbuatan dosanya di hadapan Allah," ujarnya menjawab pertanyaan jamaah dalam kajiannya dikutip Rabu (21/12/2022).
Baca Juga: Allah Mengampuni Dosa Hamba-Nya Meski Sepenuh BumiNamun, lanjut dia, rasa bersalah itu baru berada pada level dasar keimanan, sehingga iman itu perlu disempurnakan untuk terhindar dari depresi.
"Kalau ilmu iman itu dipenuhi maka tidak ada orang depresi. Ilmu yang dimaksud ini adalah mengenal bahwa Allah Maha Pengasih," ujarnya.
Terpuruk karena rasa takut kepada Allah SWT tidak boleh dirasakan secara terus-menerus. Kaum muslimin juga mesti menyadari bahwa Allah Maha Kasih dan Maha Pengampun.
"Sehingga pendosa seperti apa pun pasti dia bisa diberikan ampunan. Jadi tak perlu berlarut-larut memikirkan perbuatan dosa sampai harus depresi," ungkapnya.
Pengasuh LPD dan Pondok Pesantren Al Bahjah ini mengingatkan, agar jangan sampai rasa takut akan perbuatan dosa justru menjauhkan seorang muslim dari sang Khalik. Justru sebaliknya, yaitu kembali mendekat kepada Allah agar bisa mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.
"Di saat bersalah kita mesti sadar bahwa tidak ada tempat kita berlari dari bumi Allah. Untuk itu, disaat diuji dengan kesalahan maka bergegaslah mendekat meminta ampunan," katanya.
(bal)