LANGIT7.ID, Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, mencatat munculnya empat
'King Maker' dalam menentukan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) pada
Pilpres 2024. Empat sosok itu yakni Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.
"Pada bulan Desember 2022, LSI Denny JA mencatat tumbuhnya empat '
King Maker' yang akan menentukan maksimal tiga pasangan capres-cawapres," kata peneliti LSI Denny JA Fitri Hari dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/12/2022).
Menurut Fitri, masing-masing
King Maker yang merupakan ketua partai ini memiliki dilema tersendiri menghadapi
Pemilu 2024 mendatang. Surya Paloh misalnya, dilema akan posisi Nasdem apakah tetap di pemerintahan atau keluar dari pemerintahan.
Baca Juga: Golkar Incar Ridwan Kamil, PAN: Kita Juga Mau"Dilemanya Surya Paloh, Partai NasDem tetap di pemerintahan atau keluar dari pemerintahan agar tegas bahwa Anies Baswedan yang diusung membawa isu perubahan. Kemudian dalam mengusung Anies Baswedan akan membawa slogan penerus Jokowi atau antitesa Jokowi," ujar Fitri.
Selanjutnya, ada
Megawati Soekarnoputri. Dilema Megawati salah satunya adalah membuat dua nama kader PDIP menjadi cawapres untuk Prabowo Subianto.
Peringkat pertama ada nama Ganjar Pranowo dengan elektabilitas 25,8 persen, Prabowo 23,9 persen dan Puan Maharani 2,9 persen. Jika Megawati memilih meninggalkan Prabowo, maka kader PDIP harus maju sebagai capres.
"Jika menyerahkan Puan sebagai cawapres Prabowo, Ganjar akan dipinang partai lain sebagai capres. Sementara jika menyerahkan Ganjar menjadi cawapres Prabowo, bukankah elektabilitas Ganjar lebih tinggi dan PDIP partai lebih besar dibandingkan Gerindra," ucap Fitri.
Baca Juga: Erick Thohir Dinilai Layak Masuk Sebagai Kandidat Cawapres 2024Dilema selanjutnya adalah
Airlangga Hartarto semisal maju sebagai capres. Fitri menilai elektabilitas Airlangga belum tinggi, atau fokus menjadi cawapres bagi capres yang potensial menang.
"Jika Airlangga memilih cawapres dari Ganjar, bagaimana jika Ganjar dijodohkan dengan cawapres lain. Airlangga harus hidupkan kartu alternatif. Data menunjukkan jika tidak dengan Ganjar, maka berpasangan dengan Anies Baswedan menjadi pilihan kedua," lanjutnya.
Terakhir,
Prabowo Subianto. Ketua Umum Partai Gerindra itu memiliki tingkat popularitas maksimal mencapai 96 persen, namun elektabilitasnya jauh menurun dibanding Pilpres 2019.
"Pada saat Pilpres 2019, elektabilitas Prabowo-Sandi mencapai 44,5 persen. Saat ini elektabilitas Prabowo berada di angka 23,9 persen," ungkap Fitri.
Baca Juga: Bawaslu Imbau Capres Tak Kampanye di Tempat IbadahDia menilai hampir mustahil jika Prabowo maju sebagai cawapres. Fitri melihat Prabowo juga dilema lantaran sulit menang pada Pilpres 2024, terlebih elektabilitasnya dikalahkan Ganjar.
Dilema lain yang dialami Prabowo ialah kesulitan mencari cawapres di luar PKB. Sementara PKB bersikukuh menjadikan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai cawapresnya.
"(Dilema) Prabowo, pilihan pertama Prabowo mendapat cawapres dari PDIP (Ganjar atau Puan). Tapi pasangan dari PDIP semakin sulit didapat karena PDIP sebagai partai terbesar jika memungkinkan tetap akan memilih capres dari partainya sendiri," tutur Fitri.
Kesimpulan ini berdasarkan survei yang dilakukan pada 10-19 Oktober 2022 dengan melakukan wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden.
Margin of error survei sebesar lebih kurang 2,9 persen.
Survei nasional ini juga dilengkapi dengan riset kualitatif terbaru di bulan Desember 2022. Riset kualitatif dilakukan dengan analis media,
focus group fiscussion (FGD), dan
indepth interview, serta riset kualitatif.
Baca Juga:
Hasil Survei Poltracking, Jawa Masih Jadi Penentu Kemenangan
Melirik Model Pemimpin Ideal 2024 dalam Perspektif Islam(gar)