Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home global news detail berita

Green Waqf, Upaya Hijaukan Kembali 14 Juta Hektar Lahan Kritis Indonesia

mahmuda attar hussein Ahad, 22 Agustus 2021 - 20:00 WIB
Green Waqf, Upaya Hijaukan Kembali 14 Juta Hektar Lahan Kritis Indonesia
Ilustrasi lahan kritis di Indonesia. Foto: Langit7/Istock
LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia memiliki lahan seluas 14 juta hektar yang masuk ke dalam kategori kritis dan sangat kritis. Lahan tersebut dikhawatirkan menyebabkan beberapa masalah terkait perubahan iklim yang ada saat ini, seperti kekeringan pada musim kemarau, serta banjir dan longsor pada musim penghujan.

Inisiator Green Waqf sekaligus Chairman di New Energy Asia, Muhaimin Iqbal mengatakan, pihaknya telah melakukan perhitungan untuk menghijaukan kembali lahan dalam kondisi kritis dan sangat kritis tersebut. Namun, temuannya menyebutkan akan terasa cukup sulit jika penghijauan dilakukan secara komersial.

“Penilaian kami, yang paling memungkinkan adalah melalui wakaf. Sebab, sangat sulit mendapatkan bantuan secara sukarela dalam hal ini. Kami putuskan yang bisa menanami 14 juta hektar lahan kritis dan sangat kritis ini harus melalui konsep wakaf. Sebab, dalam konsep ini setiap masyarakat tidak melakukan hitung-hitungan,” ujarnya saat Launching Green Waqf secara virtual, Minggu (22/8).

Baca juga: Terapkan Konsep Hijau, Bandara YIA Raih Gold Greenship Award

Wakaf ini menjadi bagian sedekah jariyah yang bagi ummat Islam memiliki manfaat yang cukup besar. Penghijauan yang dilakukan melalui tanam pohon, manfaatnya dapat dirasakan banyak makhluk yang ada, mulai dari oksigen, buah, tempat bernaung, dan lainnya.

“Dalam Islam menujukkan sebuah kebaikan, sama dengan berbuat kebaikan itu sendiri. Jadi mudah-mudahan apa yang kita lakukan bisa membawa kebaikan untuk kita semua,” ujarnya.

Dari penelusurannya, ia menilai tanaman Nyamplung menjadi pilihan utama pada tahap awal untuk mulai melakukan penanaman. Tanaman ini sudah diperkenalkan sejak Islam masuk di Pulau Jawa dan dibawa oleh Wali Songo.

“Jadi lima abad lalu, keluarga Wali ini sudah melihat bahwa melalui menanam dapat mendukung gerakan hemat energi. Setelah kami kaji, Nyamplung itu memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi, yaitu sebesar 71 persen. Sehingga gerakan menanam pohon ini kami dorong dan bisa dilakukan dengan menanam apa pun, tapi kita mulai dengan Nyamplung,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak jenis pohon yang kebanyakan berasal dari introduksi penjajah. Padahal sebenarnya Indonesia memiliki banyak jenis pohon unggul asli Indonesia, tapi tidak dimanfaatkan menjadi industri, salah satunya Nyamplung.

Pihaknya telah menyiapkan secara lengkap terkait untuk keperluan industri Nyamplung ke depan, seperti hasil minyak, resin, dan cangkang. Sehingga, lanjut Iqbal, dalam perjalanannya nanti, Nyamplung dapat memiliki nilai dan manfaat yang cukup baik di bidang industri.

“Kembali lagi pada tujuan awal, penamanan ini bukan berfokus pada pengolahan hasil tanaman, tapi melakukan penghijauan di sebanyak 14 juta hektar lahan kritis dan sangat kritis di Indonesia. Hasil olahan itu merupakan bonus, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa meningkatkan kepedulian terhadap situasi lahan di Indonesia. Sehingga tidak ada hitung-hitungan soal komersil yang dikhawatirkan dapat menghalangi niat masyarakat untuk menanam,” ujarnya.

Baca juga: Ingin Laut Bersih dan Bantu Pemulung, Hamish Daud Dirikan Octopus

Pendiri dan Direktur Waqf Center for Indonesian Development and Studies (Wacids), Lisa Listiana mengatakan pihaknya sebagai lembaga riset independen yang berdiri pada 2018, memiliki fungsi dan tugas khusus yang secara spesifik melakukan riset dalam bidang perwakafan.

Wakaf memiliki potensi yang cukup baik di Indonesia. Data Badan Wakaf Indonesia (BWI) menyebutkan wakaf di Indonesia dalam setahun mampu mencapai nilai Rp180 triliun. Wakaf ini juga pernah menjadi penopang berbagai aktivitas masyarakat di masa lalu.

“Jadi memang bukan sekadar instrumen keuangan, tapi juga soal peradaban. Intergovernment Panel Climate Change (IPCC) merilis bahwasannya bumi kita tidak sedang baik-baik saja karena mengalami gangguan pada perubahan iklim dan ketersediaan energi di seluruh dunia. Dari sini saya mulai melihat wakaf perlu masuk ke dalam sektor strategis dan menjawab permasalahan yang dihadapi. Setelah melakukan beberapa bentuk inisiatif terkait energi baru dan terbarukan, Green waqf menjadi salah satu inisiasi yang visioner dan strategis,” imbuhnya.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)