LANGIT7.ID, Jakarta -
Media sosial memudahkan banyak orang dalam menyampaikan informasi. Kondisi ini harus diimbangi dengan konten-konten positif, apalagi terkait dakwah Islam.
Ketua PP
Muhammadiyah periode 2015-2022, Dadang Kahmad mengatakan, kemudahan informasi di media sosial itu harus dimanfaatkan dengan semangat
dakwah dan pesan kebaikan Islam.
"Konten dakwah juga harus hati-hati. Jangan sampai informasi tentang dakwah menjadi kontraproduktif dan menjadi
perpecahan umat," kata dia kepada
Langit7, Senin (26/12/2022).
Konten dakwah, lanjut dia, mesti berisi pesan-pesan positif untuk menggairahkan kembali masyarakat dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan Islam. Sehingga keharmonisan antar umat beragama, khususnya sesama kaum muslimin dapat tercipta.
Baca Juga: Bakomubin: Dakwah Nabi Dibangun di Atas Landasan Tauhid"Jangan sampai mengecam, mencerca, bahkan, menjelekkan kelompok lain atau pendakwah lainnya," ujarnya.
Dia menyayangkan, masih adanya orang-orang usil yang memiliki kepentingan tertentu untuk memecah belah umat. Salah satunya menjadikan konten dakwah sebagai senjata penghancur.
"Parahnya oleh orang tertentu dan berkepentingan terhadap perpecahan umat, (konten dakwah) bisa dijadikan sebagai suatu senjata untuk menghancurkan atau saling bermusuhan antar ustaz maupun kelompok keagamaan," ungkapnya.
Filter Konten DakwahGuru Besar UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, yang masa baktinya berakhir pada November lalu ini menyarankan, agar umat Islam dapat memfilter dan memilah konten dakwah yang beredar di media sosial.
Menurutnya, umat Islam mesti memilih pendakwah yang telah memiliki reputasi baik dalam perjalanan dakwahnya. Termasuk memperhatikan latar belakang pendidikan dan penguasaan ilmu agama yang dalam.
"Karena biasanya mereka adalah orang-orang yang terlatih untuk berbicara baik dan hak," katanya.
Adapun pesan-pesan dakwah yang bernilai baik dan bisa disampaikan kepada khalayak seperti akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.
Selain itu, dia juga berharap agar jemaah online lebih teliti dalam memilih pendakwah di media sosial. Pasalnya, banyak di antara pendakwah yang tidak memiliki latar belakang agama cukup, tapi berani berfatwa dan mengeluarkan pendapat tentang sesuatu.
"Jadi berhati-hati dan jangan asal mendengarkan, karena menurut hadis itu sesat dan menyesatkan," tambahnya.
Allah berfirman, "Di antara manusia (ada) orang yang menggunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan". (QS Luqman: 6).
Dakwahkan Hal PositifMuslim kelahiran Garut, 5 Oktober 1952 ini juga mengatakan, para dai boleh memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah. Namun, pesan dakwah yang disampaikan mesti bermuatan informasi positif.
Hal itu penting dilakukan mengingat karakter umat yang heterogen. Sehingga menghindari hal-hal yang mengkhawatirkan, seperti perpecahan di tubuh umat Islam sendiri.
"Dai yang menggunakan sarana media sosial untuk dakwah harus betul-betul mempersiapkan segala sesuatunya sedemikian rupa."
"Kontennya mesti jelas, ringan, tidak mengandung unsur SARA, dan tidak mengandung hal yang bisa menimbulkan keresahan di kalangan umat," tambahnya.
Selain mendakwahkan hal positif, dia juga berharap agar pendakwah dapat menyampaikan pesan konstruktif. Dengan memberikan informasi tentang Islam yang baik, damai, dan rahmat.
"Seperti sabda Nabi SAW, karena tugas kita adalah memperbaiki akhlak supaya baik dan mulia," ujarnya.
(bal)