LANGIT7.ID, Jakarta - Muhammadiyah hadir sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia 109 tahun silam merupakan jawaban riil terhadap kondisi bangsa saat itu. Kala itu, kolonial Belanda tidak hanya mengeruk kekayaan bangsa melainkan juga merenggut hak dasar masyarakat untuk mengenyam pendidikan yang mencerahkan, termasuk mengeyam rasa aman dalam menjalankan syariat Islam.
Meski satu abad berlalu, kontribusi Muhammadiyah dalam membangun bangsa tak pernah surut. Bahkan organisasi yang telah membangun ribuan lembaga pendidikan dan rumah sakit itu terus mengabdi kepada bangsa dengan berbagai kontribusi. Misalnya pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 itu menggelontorkan dana Rp344,16 miliar untuk disalurkan kepada 31.869.988 orang penerima manfaat. Hal tersebut didasarkan pada laporan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah.
Lalu, akhir-akhir ini salah satu program Muhammadiyah yang menyita perhatian publik adalah Pesantren Covid-19. Muhammadiyah telah meresmikan pesantren Covid-19 di beberapa kota, salah satunya Kota Kudus, Jawa Tengah. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus bekerjasama dengan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), LAZISMU, Universitas Muhammadiyah Kudus, dan Rumah Sakit (RS) Aisyiyah Kudus menyiapkan dukungan tempat penampungan sementara (Shelter) untuk isolasi mandiri di Asrama Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU).
Shelter Covid-19 yang dinamai Pesantren Covid-19 Shelter MCCC UMKU tersebut berlokasi di Jl Ganesha 1 Purwosari Kudus. Shelter tersebut memiliki kapasitas untuk menampung 32 orang terkonfirmasi positif Covid-19 bergejala ringan.
Pesantren Covid-19 Shelter MCCC Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) diresmikan langsung Bupati Kudus HM Hartopo, Rabu (16/6/2021) dan beroperasi sehari kemudian. Shelter Covid-19 ini didirikan atas kerjasama antara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus, Universitas Muhammadiyah Kudus, Rumah Sakit ‘Aisyiyah Kudus, Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), Lazismu, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus.
Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus Rusnoto berharap shelter ini bisa membantu mengurangi penularan bagi warga yang terkonfirmasi positif dan harus diisolasi mandiri. Dia menegaskan, UMKU akan bekerjasama dengan RS Aisyiyah untuk melakukan
screening.
Kita tidak langsung memasukkan mereka yang terkonfirmasi covid-19 ke dalam shelter, namun rekomendasi dari dokter maupun tim kesehatan dari RS Aisyiyah lah yang akan menjadi acuan bagi kita untuk memasukan mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19 ke dalam shelter," kata Rusnoto seperti dilansir suaramuhammadiyah.id.
Direktur Rumah Sakit Aisyiyah (RSA) Kudus Dokter Hilal Ariadi, yang hadir dalam peresmian menjelaskan, selama di Shelter, tim kesehatan dari RSA akan memantau perkembangan pasien melalui visit dokter setiap hari. "Jika ditemukan ada gejala yang berat, maka akan disediakan ambulans untuk mengantar ke IGD RS, untuk dilanjutkan pemeriksaan. Jika setelah diperiksa ternyata harus isolasi mandiri, maka pasien dikembalikan ke shelter, dan jika kondisinya gawat maka akan dirawat inapkan di RS," kata Ariadi.
Pesantren Covid-19 Yogyakarta, Karantina Bernuasa BahagiaJauh sebelum Pesantren Covid-19 di Kudus diresmikan, Muhammadiyah sudah punya program serupa di Yogyakarta. Bermula dari perlunya tempat karantina bagi tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19. RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta menginisiasi Pesantren Covid-19 yang bertempat di Gedung Pimpinan Pusat Aisyiyah (PPA) sebelah utara Jalan KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta.
Pesantren Covid-19 itu merupakan terobosan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan PP Aisyiyah, Muhammadiyah Covid-19 Comand Center (MCCC) dalam menghadapi pandemi Covid-19. Pesantren Covid-19 didesain tidak hanya menyehatkan jasmani pasien, tetapi juga memperkuat ruhani. Bukan hanya imun, melainkan iman juga harus naik, makanya dinamakan Pesantren Covid-19.
Maka tak heran jika rangkaian agenda Pesantren Covid-1 sangat kental dengan kegiatan pesantren pada umumya. Seperti pasien akan mengawali kegiatan dengan shalat tahajud pukul 03.00 WIB, kemudian shalat shubuh bersama, dan mengaji masing-masing. Setelah itu melakukan cek kesehatan, seperti cek tensi, respirasi oksigen, cek suhu tubuh yang dilakukan mandiri dan dilaporkan ke dokter melalui
form google document. Pola penanganan didampingi langsung oleh tim dokter RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Ini dilakukan dua kali pada pagi dan petang.
Setelah itu ada kegiatan senam pagi. Karena keterbatasan tempat, biasanya dilakukan dua shift, di mana ibu-ibu terlebih dahulu, kemudian bapak-bapak. Terdapat juga arena permainan olahraga ping pong, bulu tangkis, dan sepeda statis. Aktivitas lainnya ada tadabur Al-Qur’an hingga program kultum.
Wabah Covid-29 belum berakhir, selalu jaga kondisi kejiwaan (psikis) dari berbagai pikiran yang tidak baik. Bahagia yang tidak hanya secara lahir, tetapi juga secara batin (
ukhrawi).
(asf)