LANGIT.ID, Jakarta - Umat Islam dianjurkan tak berlebihan dalam memaknai
tahun baru masehi. Sebab ada batasan-batasan jangan sampai malam pergantian tahun malah berbuat mubadzir.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Haedar Nashir hadir dalam acara Refleksi Akhir Tahun Masjid Husnul Khatimah Bantul.
Menurut dia, masyarakat Indonesia kerap merayakan 2 pergantian tahun, yakni saat 1 Muharram dan 31 Desember. Hal ini pun diterapkan oleh masyarakat dunia, termasuk di Timur Tengah.
"Arab Saudi juga 2 kalender selalu dipakai yang sehari-hari termasuk untuk transaksi itu menggunakan tahun Miladiyah tetapi untuk penentuan hari raya Idulfitri dan Iduladha itu menggunakan tahun Hijriyah," kata Haedar dikutip
Langit7 dari laman
Muhammadiyah, Jumat (30/12/2022).
Baca Juga: 7 Cara Realisasikan Resolusi Tahun Baru, Jangan Cuma Jadi WacanaNamun yang paling penting, kata dia, memaknai pergantian tahun tersebut. Adanya perayaan, boleh-boleh saja selama untuk syiar Islam, bukan dengan acara berlebihan.
"Yang menjadi keliru itu kalau merayakan hari datangnya tahun baru dan lepasnya tahun lama secara berlebihan dan hanya lahiriyah semata-mata apalagi yang bersifat mubazir baik waktu, uang, kesempatan dan lainnya," ujarnya.
"Supaya kita tidak berlebihan dan punya arti syiar boleh, gembira boleh. Masak sih manusia tidak boleh gembira? Boleh. Misal, bertemu teman gitu kan senang," kata Haedar.
Namun seorang muslim harus punya batasan-batasan dalam memaknai perayaan tersebut. Hal itulah yang menjadi pedoman dalam setiap kegiatan di akhir tahun.
"Tetapi bagi kita kaum muslim ada batas-batas dan ada makna-makna yang harus kita pedomani dan kita maknai dalam melepas tahun lama dan lahirnya tahun baru," ujarnya.
(bal)