LANGIT7.ID, Jakarta - Perayaan
tahun baru sudah menjadi budaya global. Setiap 31 Desember masyarakat di seluruh dunia biasanya berkumpul untuk menghitung mundur pergantian tahun. Tak jarang malam pergantian tahun marak dengan hal mubazir hingga haram. Lalu, bagaimana seharusnya aktivitas seorang muslim di malam pergantian tahun baru?
Direktur Harian Spirit of Aqsa, Ustadz Ridwan Hakim, menilai, seorang muslim bisa melihat malam pergantian tahun baru sebagai sunnatullah dan tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Sebagaimana termaktub dalam Surah Yasin ayat 38:
وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.” (QS Yasin: 38)
Baca Juga: Daftar Rekayasa Lalin Malam Tahun Baru 2023 di Sudirman-Thamrin Jakarta
“Dalam ayat ini disebutkan bahwa matahari itu beredar sesuai kudrat dan hikmah Allah Ta’ala. Jadi, pergantian tahun masehi ini di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, bahwa matahari kembali beredar pada porosnya, tidak bergeser, sesuai dengan ketentuan Allah,” kata Ustadz Ridwan kepada
Langit7, Sabtu (31/12/2022).
Matahari berputar pada porosnya, tidak pernah melenceng sedikit pun. Itu membuat manusia bisa membuat kalender masehi. Perhitungan kalender masehi atau syamsiyah didasarkan pada waktu peredaran bumi mengelilingi matahari.
“Karena keteraturan matahari inilah, Allah memberikan kepada manusia kemampuan memahami keteraturan alam semesta, sehingga bisa membuat kalender waktu. Jadi pergantian waktu ini tidak lain adalah cara manusia mempelajari ciptaan Allah,” ujar Ustadz Ridwan.
Hukum Perayaan Tahun BaruMenurut Ustadz Ridwan, perayaan tahun baru masuk ke dalam ranah muamalah. Seorang muslim bisa bermuamalah dengan perayaan tersebut selama tidak masuk ke dalam ranah akidah.
Baca Juga: Umat Islam Dianjurkan Tak Berlebihan Merayakan Tahun Baru
“Islam memandang tahun masehi bagian daripada muamalah, menggunakannya pun bisa digunakan sebagai alternatif dari penggunaan tahun hijriyah yang lebih dikenal dalam Islam dan menjadi patokan dari ibadah-ibadah kaum muslimin,” ungkap Ustadz Ridwan.
Namun perayaan tahun baru bisa menjadi haram jika diwarnai dengan hal-hal yang diharamkan Allah seperti berpesta pora, minum khamr, bercampur baur yang bukan mahram hingga menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
“Dalam kondisi itu, hal-hal mubah berubah menjadi haram,” kata Ustadz Ridwan.
Jadikan Tahun Baru Sebagai Momen Tadabbur dan TafakkurTahun baru adalah tanda kekuasaan Allah. Maka, seorang muslim bisa merayakan momen itu dengan perayaan yang memberi dan membawa pada kebaikan. Seorang muslim harus yakin bahwa momen tahun baru merupakan bagian dari tafakkur atau merenungi kebesaran Allah SWT.
Baca Juga: Sejumlah Masjid Gelar Kajian Jelang Tutup Tahun, Ini Jadwalnya
“Ditafakkuri secara alam realita, tapi kita juga bisa mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang matahari, tentang waktu. Seperti Surah Adh-Dhuha, Al-Fajr, Al-Ashr, Al-Lail,” ucap Ustadz Ridwan.
Seorang muslim juga bisa memanfaatkan momen pergantian tahun baru sebagai lahan dakwah. Dakwah tentu tidak hanya melihat pada teks-teks wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tapi, dakwah juga bisa melihat fenomena masyarakat.
“Seorang pendakwah bisa memanfaatkan momentum itu karena dekat dengan keadaan masyarakat. Dan, dia bisa menggaet masyarakat untuk melihat tahun-tahun sebelumnya dan beristighfar dari dosa-dosa sebelumnya. Dan bisa melihat tahu depan agar diberi taufik dan hidayat,” ungkap Ustadz Ridwan.
Baca Juga: Jelang Akhir Tahun, Jabodetabek Potensi Diguyur Hujan(jqf)