LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam sangat dianjurkan memuliakan anak-
anak yatim. Nabi SAW sangat menekankan
amalan tersebut, bahkan diberikan jaminan dekat dengannya kelak di akhirat.
Seorang anak dikatakan yatim bila dia dinyatakan telah kehilangan (kematian) ayah yang wajib menanggung nafkahnya. Adapun masa keyatiman sampai anak tersebut telah baligh dan tampak rusyd (kemandirian) pada dirinya.
Melansir laman
Muhammadiyah, banyak hadis yang menganjurkan kita untuk memelihara dan menyantuni anak yatim. Hal ini menegaskan bahwa Rasulullah sangat ingin kaum muslimin bisa berbuat baik kepada mereka.
"Diriwayatkan dari Sahl, Rasulullah saw bersabda: Aku dan pemelihara anak yatim, di surga seperti ini. Lalu beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan di antara keduanya sedikit." (HR Al-Bukhari).
Baca Juga: Belajar dari Halimah As-Sa'diyah, Keberkahan Rawat Anak YatimAda pula hadis: "Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Pemelihara anak yatim kepunyaannya (masih ada hubungan keluarga) atau kepunyaan orang lain (tidak ada hubungan keluarga), dia dan aku seperti dua jari ini di surga. Lalu Malik mengisyaratkannya dengan jari telunjuk dan jari tengah." (HR Muslim).
Berdasarkan uraian dalil di atas, secara terperinci Nabi Muhammad tidak memberi contoh bagaimana cara menyantuni anak yatim.
Namun cara menyantuni mereka yakni dengan memuliakan, memperhatikan, memberi kasih sayang, memenuhi kebutuhan hidupnya (makan, minum, pakaian, tempat tinggal), pendidikannya, kesehatannnya dan segala yang diperlukannya.
Dalam hadis lain: "Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang laki-laki yang mengadukan kekerasan hatinya kepada Rasulullah, maka beliau bersabda: Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin." (HR Ahmad dengan perawi shahih).
Menurut hadis di atas, mengusap kepala anak yatim dan memberi makan orang miskin mempunyai pengaruh yang sangat baik pada diri seseorang, yaitu dapat melembutkan hati yang keras.
Dalam praktiknya, kedua hal tersebut dilakukan dengan penuh keinsyafan hati secara natural (tidak dibuat-buat) atau dipaksa-paksakan.
Mengusap kepala anak yatim adalah simbol atau cara menunjukkan empati dan kasih sayang, bukan ritual yang harus dilakukan. Sudah barang tentu yang diusap adalah kepala anak yatim yang belum dewasa.
Adapun orang laki-laki membelai rambut anak yatim putri yang sudah menginjak usia remaja adalah dilarang karena menimbulkan fitnah.
(bal)