Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Masalah Kemanusiaan Kian Kompleks, Riset Interdisiplin Harus Lebih Masif

Muhajirin Senin, 02 Januari 2023 - 09:09 WIB
Masalah Kemanusiaan Kian Kompleks, Riset Interdisiplin Harus Lebih Masif
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Ragam masalah yang dihadapi umat manusia semakin kompleks dengan banyak variabel yang sangat bervariasi. Kompleksitas masalah tersebut membutuhkan pendekatan riset baru dengan melibatkan beragam kepakaran untuk mendesain solusi yang efektif.

"Dalam bahasa konsep, ini disebut dengan pendekatan interdisiplin. Pendekatan ini tidak hanya didasarkan pada keragaman disiplin yang terlibat (yang disebut sampai tingkat multidisiplin), tetapi mengharuskan ada irisan antardisiplin,” kata Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Fathul Wahid, dalam acara penyambutan 18 doktor baru UII, dikutip Senin (2/1/2023).

Menurut dia, ada tiga argumen untuk menguatkan hal tersebut. pertama, masalah yang kompleks tidak bisa dipecahkan disiplin tunggal. Kedua, penemuan dan kemajuan dalam riset lebih sering terjadi di perbatasan antardisiplin.

Baca Juga: Tingkat Literasi Indonesia 5 Besar Terbawah di Dunia, Begini Cara Meningkatkannya

“Ketiga, interaksi antarperiset interdisiplin akan bermanfaat untuk memperluas perspektif dan memperjauh horizon,” kata Fathul.

Majalah sains terkemuka Nature (van Noorden, 2015) melaporkan, 35 juta artikel dari 14 disiplin dan 143 keahlian, mengindikasikan sejak pertengahan 1980-an terjadi kecenderungan peningkatan cacah publikasi interdisiplin.

“Indikasinya adalah sitasi terhadap literatur di luar disiplin,” kata dia. Temuan tersebut valid, baik di bidang sains alam maupun sains sosial. Data yang disajikan menunjukkan sepertiga referensi artikel ilmiah berisi literatur dari disiplin lain.

Data menunjukkan, publikasi interdisiplin memerlukan waktu yang cukup untuk menunjukkan relevansi dan menjadikannya disitasi. Temuan menyarankan untuk lebih berfokus pada riset interdisiplin yang tidak terlalu banyak disiplin terkait, dibandingkan yang melibatkan terlalu banyak disiplin yang saling berjauhan.

"Analisis juga menemukan bahwa kecenderungan riset interdisiplin berbeda antara satu negara dengan yang lainnya,” kata Fathul.

Baca Juga: Ulama Nusantara Tak Hanya Menulis Tentang Agama tapi juga Sains dan Teknologi

Berdasarkan artikel yang dipublikasikan Elsevier, India adalah negara yang paling banyak menghasilkan riset interdisiplin, disusul China, Taiwan, Korea Selatan, Brazil, Italia, dan Amerika Serikat.

Sementara di Indonesia, tidak ada data yang bisa diakses untuk memberikan gambaran besar. Namun, ada banyak kisah yang tidak selalu membahagiakan terkait riset interdisiplin di Indonesia. Salah satunya adalah soal pengakuan komunitas.

Meski pesan periset interdisiplin sering didengar, namun saat terjadi di lapangan dan didokumentasikan dalam publikasi, seringkali ada ‘sengketa’ terkait relevansi disiplin. Bahkan, soal pengakuan kelayakan menjadi syarat dalam kenaikan kewenangan akademik.

“Ini adalah pekerjaan rumah bagi kita, untuk mengedukasi diri kita sendiri,” ujar Fathul.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)