LANGIT7.ID, Jakarta - Peneliti
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ayom Widipaminto, menilai masyarakat Indonesia masih memilih tingkat
literasi yang rendah. Hal itu masih jauh dari cita-cita para pahlawan pendiri bangsa yang ingin memajukan negara Indonesia melalui pendidikan.
Menurut data
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019, Indonesia menempati posisi ke-74 dalam kemampuan literasi dari 79 negara. Sementara menurut UNESCO, hanya 0,01% anak Indonesia gemar membaca, berdasarkan data Indonesia writer pada 2016. Ada pula keterbatasan akses sumber literasi yang kredibel dan mudah dijangkau masyarakat.
Padahal Indonesia sebenarnya kaya warisan budaya, adat-istiadat, dan keanekaragaman hayati. Ada 17 ribu pulau kaya akan biodiversitas dan sumber daya mineral. 300 kelompok etnolinguistik, 742 bahasa, dan 478 suku bangsa (terbesar di dunia).
Baca Juga: Perilaku Netizen Indonesia Gambar Literasi Digital yang Rendah
Selain itu, 10% spesies tumbuhan tinggi dunia, salah satu pusat agrobiodiversitas dunia. Keragaman fauna, 12% dari mamalia dunia (515 spesies) ada di Indonesia, peringkat kedua global setelah Brazil. Semua potensi itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan literasi bangsa.
“Namun, potensi kekayaan itu belum dimanfaatkan optimal,” kata Ayom webinar bertajuk Api Literasi Pahlawan Bangsa: Menyelamatkan Aset Pengetahuan Bangsa yang diadakan BRIN, Kamis (10/11/2022).
Dia mencontohkan, para pahlawan mampu memanfaatkan kekayaan Indonesia tersebut untuk menemukan pengetahuan. Pengetahuan yang ditemukan itu lalu dikonversi menjadi literasi yang bermanfaat untuk bangsa.
“Literasi kalau didefinisikan secara umum adalah kemampuan untuk membaca, menulis, dan memahami informasi melalui beragam media, baik cetak maupun digital,” ucap Ayom.
Baca Juga: Punya Literasi Tinggi, Ini Para Pahlawan Bangsa yang Gila Baca
Dengan membaca, menulis dan memahami informasi, literasi dapat berkembang, tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, namun sampai bisa memproduksi barang dan jasa. Artinya, ketika literasi pengetahuan kita dorong, semangat maupun cita-cita pahlawan yang meretas kemiskinan dan pemerataan di seluruh Indonesia, mandiri dan maju, bisa terlaksana dengan literasi pengetahuan yang kita galakkan,” ujar Ayom.
Masalah lain, terbatasnya sumber literasi terbuka, baik untuk kegiatan ilmiah maupun pembelajaran akademis. Ini poin penting yang perlu disikapi. Kebutuhan adanya referensi ilmiah sangat tinggi, namun dukungan sumber daya (finansial) untuk mengakses sumber-sumber utama sangat kurang.
“Potensi penyedia sumber informasi dari para dosen dan peneliti, namun tidak memiliki dukungan infrastruktur yang memadai, sehingga karya mereka sulit diakses oleh pemakai potensialnya,” ujar Ayom.
Dia mengatakan, ada beberapa solusi yang kini tengah digalakkan BRIN. Di antaranya penerbitan buku dan audiovisual dengan skema
open access, sehingga bisa terindeks global secara otomatis. Penerbitan
open access memungkinkan publik mengakses dan memberikan masukan untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.
Baca Juga: Meneladani Kecerdasan Literasi Hamka, Menulis Novel Best Seller di Usia 20 Tahun
Selain itu, Ayom menjelaskan, BRIN melalui peraturan No.23/2022 tentang Program Akuisisi Pengetahuan Lokal ingin melaksanakan dan mendapatkan konten pengetahuan lokal. Baik dalam bentuk buku maupun audio visual agar dapat diakses dan dimanfaatkan secara terbuka dan gratis oleh masyarakat melalui kanal publik yang dikelola BRIN.
Ruang lingkup pengetahuan lokal. Pelestarian kebudayaan dan kesenian seperti tarian, musik, lukisan, tuturan, dan patung. Ada pula petuah, nilai, norma, kepercayaan, dan pelestarian berbagai pengetahuan lokal dan kearifan dalam masyarakat.
Pelestarian Sumber Daya Alam (SDA). Kekuatan SDA Indonesia sangat kuat, sehingga perlu ada pelestarian, konservasi, dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam seperti tumbuhan obat dan sebagainya.
Kemudian, Litbangjirab yang meliputi pengetahuan hasil-hasil penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengetahuan lokal itu kemudian dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Itu dilakukan dengan pemanfaatan, penggunaan, dan pengembangan berbagai pengetahuan lokal seperti arsitektur, pertanian, peternakan, dan pengetahuan serta kearifan lokal lainnya.
“Jadi pengetahuan lokal dari sisi kebudayaan, SDA, riset dan penelitian, dan pemanfaatannya dapat kita fasilitasi untuk kita akuisisi atau dilestarikan dari seluruh masyarakat. Harapan, ini bisa menjadi fasilitasi dalam meneruskan semangat pahlawan mendorong kemandirian dan kemajuan bangsa melalui pengetahuan yang ada di masyarakat,” ungkap Ayom.
(jqf)